Tazkiyah Ruhiyah, Kunci Keberhasilan Menghadapi Ujian Dunia
Jum'at, 03 Juli 2020 - 16:45 WIB
Jika muslimah sudah melakukan ibadah membersihkan hati dari kotoran-kotoran yang bisa merasakan amal, maka Insya Allah akan bisa menjalankan fungsi sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya secara optimal. Foto ilustrasi/ist
Cobaan kesempitan kehidupan dirasa makin kuat menghinggap. Beragam ujian tidak saja menimpa secara pribadi namun datang secara komunal, yakni di rumah tangga . Problem kehidupan yang kadang dirasa berat ini, harus direspons muslimah dengan tenang. Karena itulah, muslimah perlu membentengi diri dengan ibadah tazkiyah .
Tazkiyah adalah tarbiyah ruhiyah , bentuk pendidikan ruhani. Menjalani kehidupan di masyarakat dan rumah tangga tanpa tazkiyah ibarat menanam tanpa air. Memang dapat tumbuh, tapi cepat layu dan cepat mati. Syaikh Muhammad Quthb mengatakan, tazkiyah sebagai ibadah adalah salah satu jalan ketaatan kepada Allah yang dilakukanoleh jiwa manusia.(Baca juga : Bagaimana Islam Mengatur Konflik di Dalam Rumah Tangga )
Allah Ta’ala berfirman :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا 8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا)
“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q. S. al-Syams : 7-10).
Maknanya , tazkiyah bagi muslimah adalah bentuk tarbiyah ruhiyah dan imaniyah (pendidikan ruhani dan iman) untuk membangun kepribadian muslimah sebagai bekal pemantapan diri menjadi bagian terpenting di dalam keluarga dan masyarakat. Sebab, pendidian seperti itu juga dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.
Jika muslimah sudah melakukan ibadah membersihkan hati dari kotoran-kotoran yang bisa merusak amal, maka Insya Allah akan bisa menjalankan fungsi sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya secara optimal. Akan melahirkan generasi-generasi yang cinta pada kebaikan (khairu ummah).
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali ‘Imran : 110)
Muslimah yang bertekad mengabdi kepada keluarganya agar tercipta keluarga yang sakinah mawadah warahmah akan berjalan di jalan Allah Ta'ala dengan tegar dan istiqamah. Tidak mudah resah, galau, gelisah, dan putus asa. Dia akan memiliki sikap optimistis. Sebab dia tahu, optimistis adalah modal kebahagiaan (sa’adah).
Tazkiyah adalah tarbiyah ruhiyah , bentuk pendidikan ruhani. Menjalani kehidupan di masyarakat dan rumah tangga tanpa tazkiyah ibarat menanam tanpa air. Memang dapat tumbuh, tapi cepat layu dan cepat mati. Syaikh Muhammad Quthb mengatakan, tazkiyah sebagai ibadah adalah salah satu jalan ketaatan kepada Allah yang dilakukanoleh jiwa manusia.(Baca juga : Bagaimana Islam Mengatur Konflik di Dalam Rumah Tangga )
Allah Ta’ala berfirman :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا 8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا)
“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q. S. al-Syams : 7-10).
Maknanya , tazkiyah bagi muslimah adalah bentuk tarbiyah ruhiyah dan imaniyah (pendidikan ruhani dan iman) untuk membangun kepribadian muslimah sebagai bekal pemantapan diri menjadi bagian terpenting di dalam keluarga dan masyarakat. Sebab, pendidian seperti itu juga dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.
Jika muslimah sudah melakukan ibadah membersihkan hati dari kotoran-kotoran yang bisa merusak amal, maka Insya Allah akan bisa menjalankan fungsi sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya secara optimal. Akan melahirkan generasi-generasi yang cinta pada kebaikan (khairu ummah).
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali ‘Imran : 110)
Muslimah yang bertekad mengabdi kepada keluarganya agar tercipta keluarga yang sakinah mawadah warahmah akan berjalan di jalan Allah Ta'ala dengan tegar dan istiqamah. Tidak mudah resah, galau, gelisah, dan putus asa. Dia akan memiliki sikap optimistis. Sebab dia tahu, optimistis adalah modal kebahagiaan (sa’adah).
Lihat Juga :