Mewujudkan Khaer Ummah: Tempatkan Diri Secara Proporsional

Kamis, 22 September 2022 - 16:54 WIB
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali

Imam/Direktur Jamaica Muslim Center,

Presiden Nusantara Foundation

Pada bagian lalu dari tulisan ini disampaikan pilar keempat untuk membangun Khaer Ummah atau a community of excellence (umat terbaik). Bahwa umat ini tidak akan tampil sebagai umat terbaik (best nation) ketika prilaku, baik pada tataran individu maupun kolektif, tidak terbenahi secara baik.

Umat terbaik itu termaknai salah satunya dengan ketauladanan (Al-Qudwah). Dan esensi Al-Qudwah ini berakar pada karakter atau prilaku yang baik. Atau yang lebih populer dalam agama dengan akhlak yang mulia (Al-Akhlaq Al-karimah). Terlebih lagi jika karakter ini dikaitkan dengan posisi umat sebagai pengajak (da'i) kepada kebenaran dan kebaikan. Jalan terbaik dan terefektif untuk mengajak manusia ke jalan Allah adalah dengan ketauladanan.

Kelima, bahwa umat ini harus mampu membawa atau menempatkan diri dalam tatanan dunia yang baru (new world) dan berubah secara konstan (terus menerus) dan secara tidak dikira-kira (unexpected). Tentunya ini menjadikan dunia kita semakin kompleks. Kompleksitas ini mencakup segala lini kehidupan manusia. Dari situasi politik, ekonomi, militer, hingga ke budaya dan agama.

Dalam bidang budaya misalnya terjadi relasi antarbudaya yang saling mewarnai dan mempengaruhi (intercultural influence) di antara manusia. Kita melihat misalnya Jepang atau Korea yang pernah sangat ketat dengan kultur warisan mereka kini lebih terkenal dengan K-Pop yang selama ini lebih dikenal sebagai budaya Barat.

Tentu pertanyaan yang timbul adalah dalam dunia yang deeply interconnected ini di mana umat memposisikan diri. Para Khatib, penceramah atau ustaz bisa saja menggelegar berapi-api dalam ceramah mengingatkan agar jangan terbawa arus. Jangan terpengaruh dengan budaya asing. Tapi apakah retorika-retorika itu akan terbukti sakti membentengi umat? Wallahu A'lam.

Dunia kita memang adalah dunia yang penuh ketidakpastian. Dengan kemajuan sains dan teknologi, khususnya di bidang informasi dan lebih khusus lagi bidang media sosial menjadikan dunia semakin mengecil. Kita seolah hidup dalam satu rumah kecil yang mungil. Rumah kecil itu kemudian dikotak-kotak menjadi bagian-bagian yang boleh jadi saling menyapa. Atau sebaliknya saling mengganggu dan mengucilkan.

Keadaan ini biasa disebut dengan interdependensi (interdependence) atau intekoneksi (interconnected) antarkelompok manusia dalam dunia (rumah) itu. Koneksi itu bisa saja berwajah dua. Koneksi dengan wajah manis, saling tersenyum, menyapa, saling membantu, bahkan sharing alat-alat perumahan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!