Mewujudkan Khaer Ummah: Tempatkan Diri Secara Proporsional

Kamis, 22 September 2022 - 16:54 WIB
Tapi boleh jadi sebaliknya. Koneksi antarmanusia dalam rumah itu adalah koneksi dengan wajah buruk dan seram. Saling curiga, membenci, bahkan bermusuhan dan berusaha untuk saling menghancurkan.

Dengan situasi dunia yang demikian, sekali lagi, bagaimana seharusnya umat menempatkan diri? Jawabannya hanya di dua kemungkinan tadi: menjadi bagian dengan wajah yang manis? Atau menjadi bagian dengan wajah seram dan menakutkan.

Tentu sebagai umat yang sadar kita diingatkan oleh sebuah ayat dalam Al-Qur'an Surah ke 48 Al-Hujurat ayat ke-13. Ayat ini mengingatkan kita tentang beberapa fakta kehidupan:

Pertama, bahwa manusia itu sesungguhnya memiliki keluarga universal yang tunggal. Ini yang saya sebut rumah. Semua diciptakan dari satu lelaki (Adam) dan satu wanita (Hawa). Dan karenanya semua harus sadar bahwa ada ikatan mendasar yang mengikatnya sebagai satu keluarga.

Kedua, kenyataan bahwa manusia semua terikat oleh satu keluarga besar, Islam juga mengakui adanya partikukaritas (keunikan-keunikan) pada masing-masing anggota keluarga. Manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Bangsa dan suku adalah dua entitas yang populer di masa lalu. Kini tentu menjadi lebih ragam lagi, termasuk dijadikan dengan pendangan dan keyakinan agama yang ragam.

Ketiga, keragaman yang merupakan tabiat alami dalam penciptaan Allah, perlu dikelola dengan kesungguhan dan kehati-hatian. Hal itu karena manusia juga memiliki tendensi egoistik yang sering tak terbendung. Karenanya perlu dikelolah dengan proses ta'aruf atau saling belajar. Dengan belajar akan tahu apa dan siapa saja di antara anggota keluarga kemanusiaan itu.

Keempat, karena tendensi atau dorongan egoistik manusia menjaidkannya sering over proud bahkan arogan dengan partikularitasnya. Karakter rasis dan paham rasisme bisa terhinggap kepada siapa saja. Walaupun yang lebih terbuka saat ini adalah kaum putih. Tapi warga hitam atau yang lain juga bisa saja merasa lebih superior dari yang lain.

Perasaan superior ini terjadi tidak saja dalam hal ras atau warna kulit. Bahkan dalam beragama juga sering ada perasaan lebih hebat dari yang lain. Ada kasus Arab merasa lebih beragama karena Rasulullah SAW terlahir di Arab. Lupa kalau Abu Lahab juga ternyata terlahir di daerah yang sama.

Atau sebaliknya karena ada asumsi umum yang terbangun jika manusia Nusantara lebih berakhlak (santun, sopan, ramah) lalu terjadi over pride bahkan arogansi kenusantaraan. Terjadilah perasaan lebih hebat dengan klaim Islam Nusantaranya.

Di sinilah kemudian Islam hadir dengan solusi: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di mata Allah adalah yang paling bertakwa". Dan ketakwaan tidak terdefenisikan dengan apapun, selain dengan iman dan amal. Intinya ada pada hati dan karakter (karya).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!