Kisah Kitab Barzanji, Pemenang Sayembara yang Diselenggarakan Shalahuddin Al-Ayyubi
Kamis, 29 September 2022 - 15:23 WIB
Shalahuddin Al-Ayyubi ternyata terkait penerbitan kitab Barzanji. Foto/Ilustrasi: Ist
Kitab Barzanji ternyata ada hubungan erat dengan Sultan Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi (1138-1193) pendiri Dinasti Ayyubiyah (1171-1260) di Mesir. Kala itu, Sultan menggelar sayembara menulis dalam rangka meningkatkan kecintaan Umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW .
Pada dinasti sebelumnya, yakni Dinasti Fatimiyah tradisi maulid nabi rutin diselenggarakan. Dinasti Fatimiyah (909-1171) adalah dinasti Islam yang bercorak Syiah di Mesir.
Setelah dinasti ini runtuh dan digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah, Sultan Shalahuddin tidak menghilangkan tradisi tersebut meskipun dia seorang Sunni. Sebaliknya, dia berpendapat bahwa tradisi maulid dapat memperkokoh keimanan dan ketakwaan kepada rasul-Nya sekaligus juga menambah semangat juang.
Baca juga: 21 Ayat tentang Isra dan Mikraj dalam Kitab al-Barzanji
Waktu itu, Dinasti Ayyubiyah sedang menghadapi Perang Salib III (1189-1192). Menurut Sultan Salahuddin, tradisi maulid dapat membangkitkan semangat jihad (perjuangan) dan ittihad (persatuan). Selain itu, dia juga menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin.
Seluruh ulama dan sastrawan lalu diundang untuk mengikuti sayembara tersebut. Menurut Wasisto Raharjo, pemenang sekaligus juara pertama dari sayembara tersebut adalah Jafar Barzanji dengan gubahannya yang berjudul al-Iqd al-Jawahir, atau yang di kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Kitab Barzanji.
Nama lengkap sang pemenang itu adalah Syaikh Ja'far al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim. Beliau lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj.
Kini Kitab Barzanji amat populer di Indonesia. Kitab ini pada umumnya dibacakan pada momen Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal.
Oleh karena itu, orang Jawa menyebut bulan ini sebagai bulan mulud (diambil dari kata Maulid, yang merujuk kepada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW). Pembacaan kitab Barzanji kemudian disebut dengan nuansa dialek lokal, yaitu barzanjian atau berjanjen.
Baca juga: Maulid Nabi: Barzanji, Kitab Paling Populer Setelah Al-Qur'an
Pada dinasti sebelumnya, yakni Dinasti Fatimiyah tradisi maulid nabi rutin diselenggarakan. Dinasti Fatimiyah (909-1171) adalah dinasti Islam yang bercorak Syiah di Mesir.
Setelah dinasti ini runtuh dan digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah, Sultan Shalahuddin tidak menghilangkan tradisi tersebut meskipun dia seorang Sunni. Sebaliknya, dia berpendapat bahwa tradisi maulid dapat memperkokoh keimanan dan ketakwaan kepada rasul-Nya sekaligus juga menambah semangat juang.
Baca juga: 21 Ayat tentang Isra dan Mikraj dalam Kitab al-Barzanji
Waktu itu, Dinasti Ayyubiyah sedang menghadapi Perang Salib III (1189-1192). Menurut Sultan Salahuddin, tradisi maulid dapat membangkitkan semangat jihad (perjuangan) dan ittihad (persatuan). Selain itu, dia juga menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin.
Seluruh ulama dan sastrawan lalu diundang untuk mengikuti sayembara tersebut. Menurut Wasisto Raharjo, pemenang sekaligus juara pertama dari sayembara tersebut adalah Jafar Barzanji dengan gubahannya yang berjudul al-Iqd al-Jawahir, atau yang di kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Kitab Barzanji.
Nama lengkap sang pemenang itu adalah Syaikh Ja'far al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim. Beliau lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj.
Kini Kitab Barzanji amat populer di Indonesia. Kitab ini pada umumnya dibacakan pada momen Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal.
Oleh karena itu, orang Jawa menyebut bulan ini sebagai bulan mulud (diambil dari kata Maulid, yang merujuk kepada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW). Pembacaan kitab Barzanji kemudian disebut dengan nuansa dialek lokal, yaitu barzanjian atau berjanjen.
Baca juga: Maulid Nabi: Barzanji, Kitab Paling Populer Setelah Al-Qur'an
Lihat Juga :