Makna dan Keutamaan Kalimat Istirja
Minggu, 23 Oktober 2022 - 08:29 WIB
Baca juga: Doa-doa Pembuka Pintu Rezeki, Yuk Amalkan
Bentuk Penghambaan
Kalimat istirja; inna lillahi wa inna ilaihi rajiun adalah sebagai bentuk penghambaan seorang mahluk kepada penciptanya. Bahwa sesungguhnya, semua yang ada di muka bumi ini adalah milik Allah. Apapun yang terjadi adalah atas kehendak-Nya dan akhirnya hanya pada Allah-lah semua akan dikembalikan.
Allah mengajarkan kalimat ini agar dibaca oleh kaum muslimin yang sedang mengalami musibah. Dan itulah ciri orang yang penyabar.
Allah berfirman,
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ,.الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS al-Baqarah: 154 – 155)
Sebagian ulama menegaskan bahwa kalimat ini tidak diberikan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Seperti yang dinyatakan ulama tabi’in, Imam Said bin Jubair, murid Ibnu Abbas ra .
Sebagaimana dinukil dalam Tafsir al-Qurthubi, Imam Said bin Jubair berkata: "Kalimat ini belum pernah diberikan kepada seorang nabi-pun sebelum nabi kita (Muhammad SAW). Andaikan sudah diketahui Ya’qub , tentu beliau tidak akan mengucapkan, 'Duhai duka citaku terhadap Yusuf' .”
Baca juga: Doa-doa Agar Dilindungi Dari Segala Keburukan
Ketika Ya’qub mendapatkan kabar hilangnya Yusuf, beliau tidak mengucapkan, innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun, tapi beliau mengucapkan, Yaa asafaa ‘alaa Yusuf… (Duhai duka citaku terhadap Yusuf).
Imam al-Qurthubi menjelaskan, firman Allah SWT, "Mereka mengucapkan Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun", Allah jadikan kalimat ini sebagai sandaran bagi orang yang tertimpa musibah, dan perlindungan (bacaan) bagi mereka yang sedang menjalani ujian. Karena kalimat ini mengandung banyak makna yang berkah.
Menurut al-Qurthubi, kalimat, ‘Inna lillahi’ adalah tauhid dan pengakuan terhadap ubudiyah (status kita sebagai hamba) dan kekuasaan Allah. Sedangkan kalimat, ‘Wa inna ilaihi raaji’uun’ adalah pengakuan bahwa kita akan binasa, dan akan dibangkitkan dari alam kubur kita, serta keyakinan bahwa semua urusan kembali kepada-Nya, sebagaimana semua ini milik-Nya.
Bentuk Penghambaan
Kalimat istirja; inna lillahi wa inna ilaihi rajiun adalah sebagai bentuk penghambaan seorang mahluk kepada penciptanya. Bahwa sesungguhnya, semua yang ada di muka bumi ini adalah milik Allah. Apapun yang terjadi adalah atas kehendak-Nya dan akhirnya hanya pada Allah-lah semua akan dikembalikan.
Allah mengajarkan kalimat ini agar dibaca oleh kaum muslimin yang sedang mengalami musibah. Dan itulah ciri orang yang penyabar.
Allah berfirman,
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ,.الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS al-Baqarah: 154 – 155)
Sebagian ulama menegaskan bahwa kalimat ini tidak diberikan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Seperti yang dinyatakan ulama tabi’in, Imam Said bin Jubair, murid Ibnu Abbas ra .
Sebagaimana dinukil dalam Tafsir al-Qurthubi, Imam Said bin Jubair berkata: "Kalimat ini belum pernah diberikan kepada seorang nabi-pun sebelum nabi kita (Muhammad SAW). Andaikan sudah diketahui Ya’qub , tentu beliau tidak akan mengucapkan, 'Duhai duka citaku terhadap Yusuf' .”
Baca juga: Doa-doa Agar Dilindungi Dari Segala Keburukan
Ketika Ya’qub mendapatkan kabar hilangnya Yusuf, beliau tidak mengucapkan, innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun, tapi beliau mengucapkan, Yaa asafaa ‘alaa Yusuf… (Duhai duka citaku terhadap Yusuf).
Imam al-Qurthubi menjelaskan, firman Allah SWT, "Mereka mengucapkan Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun", Allah jadikan kalimat ini sebagai sandaran bagi orang yang tertimpa musibah, dan perlindungan (bacaan) bagi mereka yang sedang menjalani ujian. Karena kalimat ini mengandung banyak makna yang berkah.
Menurut al-Qurthubi, kalimat, ‘Inna lillahi’ adalah tauhid dan pengakuan terhadap ubudiyah (status kita sebagai hamba) dan kekuasaan Allah. Sedangkan kalimat, ‘Wa inna ilaihi raaji’uun’ adalah pengakuan bahwa kita akan binasa, dan akan dibangkitkan dari alam kubur kita, serta keyakinan bahwa semua urusan kembali kepada-Nya, sebagaimana semua ini milik-Nya.
Lihat Juga :