Raziyya Al-Din, Sultan Wanita Pertama dalam Sejarah Islam
Kamis, 09 Juli 2020 - 13:10 WIB
Begitu naik takhta, Raziyya membuat keputusan mengejutkan. Ia tak mau lagi memakai baju muslim tradisional untuk wanita, termasuk purdah. Sebagai gantinya, ia memakai pakaian netral yang membuatnya tampak seperti pemimpin laki-laki. Tak hanya itu, Raziyya juga menolak gelar sultana. Menurutnya, sultana berarti istri atau selir seorang sultan. Ia pun ingin menyandang gelar sultan, terlepas dari dirinya merupakan seorang wanita.
Tak peduli dirinya perempuan, Raziyya tetap berperang di garis depan dan berhasil merebut wilayah. Ia pun sukses mengelola negara dan menjadi salah satu Sultan Delhi terbaik. Di masa pemerintahannya, Razia juga mendirikan sejumlah sekolah, akademi, pusat penelitian, dan perpustakaan umum.
Dikhianati dan Dikudeta
Di masa pemerintahannya, tak sedikit bangsawan malu dipimpin oleh seorang wanita. Salah satu teman masa kecil Raziyya, Malik Ikhtiaruddin Altunia, berkonspirasi melawannya. Ia membantu saudara lelaki Raziyya, Muizuddin Bahram Shah, merebut takhta.
Usai berjuang mati-matian, Raziyya mengalami kekalahan menyedihkan. Ia pun dipenjara di Qila Mubarak di Bathinda. Sementara itu, Muizuddin Bahram Shah menyatakan diri sebagai Sultan Delhi. (Baca juga : Inilah Parameter Tanda Kebahagiaan )
Kemudian di tahun 1240, Altunia menikahi Raziyya. Ada sejarawan yang berpendapat Raziyya menikahinya agar tak dihukum mati, tetapi ada pula yang berpendapat Altunia memenjarakan Raziyya lantaran cemburu karena kedekatannya dengan Jamaluddin Yaqut, seorang budak Ethiopia.
Mereka berdua pun memutuskan merebut kembali takhta dari saudaranya. Namun, Bahram mampu mengalahkan pasangan itu.
Raziyya bersama Altunia pun segera melarikan diri dari Delhi dan sampai di Kaithal keesokan harinya. Sayangnya, di sanalah mereka dirampok oleh Hindu Jat dan dibunuh pada 14 Oktober 1240. Sultan wanita pertama pun wafat di usia 35 tahun.
Kisah Razia Sultana pun menjadi bukti bahwa pernah ada seorang perempuan muslim yang mampu memimpin negara. Sejak periode Mughal, Raziyya juga merupakan satu-satunya wanita penguasa kedua sebuah kesultanan secara penuh.
Wallahu A'lam
Tak peduli dirinya perempuan, Raziyya tetap berperang di garis depan dan berhasil merebut wilayah. Ia pun sukses mengelola negara dan menjadi salah satu Sultan Delhi terbaik. Di masa pemerintahannya, Razia juga mendirikan sejumlah sekolah, akademi, pusat penelitian, dan perpustakaan umum.
Dikhianati dan Dikudeta
Di masa pemerintahannya, tak sedikit bangsawan malu dipimpin oleh seorang wanita. Salah satu teman masa kecil Raziyya, Malik Ikhtiaruddin Altunia, berkonspirasi melawannya. Ia membantu saudara lelaki Raziyya, Muizuddin Bahram Shah, merebut takhta.
Usai berjuang mati-matian, Raziyya mengalami kekalahan menyedihkan. Ia pun dipenjara di Qila Mubarak di Bathinda. Sementara itu, Muizuddin Bahram Shah menyatakan diri sebagai Sultan Delhi. (Baca juga : Inilah Parameter Tanda Kebahagiaan )
Kemudian di tahun 1240, Altunia menikahi Raziyya. Ada sejarawan yang berpendapat Raziyya menikahinya agar tak dihukum mati, tetapi ada pula yang berpendapat Altunia memenjarakan Raziyya lantaran cemburu karena kedekatannya dengan Jamaluddin Yaqut, seorang budak Ethiopia.
Mereka berdua pun memutuskan merebut kembali takhta dari saudaranya. Namun, Bahram mampu mengalahkan pasangan itu.
Raziyya bersama Altunia pun segera melarikan diri dari Delhi dan sampai di Kaithal keesokan harinya. Sayangnya, di sanalah mereka dirampok oleh Hindu Jat dan dibunuh pada 14 Oktober 1240. Sultan wanita pertama pun wafat di usia 35 tahun.
Kisah Razia Sultana pun menjadi bukti bahwa pernah ada seorang perempuan muslim yang mampu memimpin negara. Sejak periode Mughal, Raziyya juga merupakan satu-satunya wanita penguasa kedua sebuah kesultanan secara penuh.
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :