Kisah Sahabat yang Buruk Rupa dan Miskin Jadi Rebutan Bidadari
Kamis, 15 Desember 2022 - 05:10 WIB
Makin nampak tidak-senang Amar bin Wahab dengan kehadiran Sa'ad. Amar menolaknya kemudian menyuruhnya segera pergi. Nampaknya Sa'ad cukup tegar menerima penolakan kasar ini. Pengalamannya selama delapan bulan membuatnya cukup terbiasa dengan penolakan.
Dia segera berlalu dari rumah Amar dan kembali ke Majelis Rasulullah SAW. Belum jauh dia berlalu dari rumah Amar, terdengar langkah mendekat dan suara memanggilnya. Dia berhenti dan berbalik, kelihatan seorang gadis yang sangat cantik berdiri agak jauh di hadapannya.
Sang gadis yang tak lain adalah Atiqah binti Amar berkata: "Wahai hamba Allah, kembalilah! Jika memang Rasulullah SAW menjodohkan engkau dengan aku, aku rela dengan apa yang ditetapkan dan direlakan Rasulullah!"
Sa'ad sejenak bimbang, walau dia memang ingin menikah, dia tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan istri secantik gadis yang kini berdiri di hadapannya, dia sadar keadaan dirinya.
Sa'ad segera berpaling dari gadis itu tanpa berkata apa-apa dan berjalan kembali ke Majelis Nabi. Atiqah menyeru ayahnya: "Wahai ayah, waspadalah jangan sampai wahyu Allah turun berkenaan penolakanmu terhadap Sa'ad yang dihantar oleh Rasulullah SAW sendiri, saya rela dengan apa yang dikehendaki Rasulullah, pergilah kepada baginda sebelum terlambat!".
Setibanya di masjid, Sa'ad melaporkan apa yang terjadi, kemudian bergabung dengan sahabat lainnya mendengarkan pengajaran Nabi. Tetapi tak lama kemudian, datanglah Amar bin Wahab dengan kedaan tergopoh menghadap Nabi.
Sebelum dia berucap apa-apa, Nabi mendahuluinya bersabda: "Kamukah orangnya yang menolak apa yang dikehendaki oleh Rasulullah!" Amar meminta maaf dengan penuh penyesalan, dia berkata: "Benar Ya Rasulullah, tetapi saya memohon ampunan kepada Allah. Saya menyangka dia berbohong dengan perkataanya. Kalau memang dia benar, kami bersedia menikahkannya dengan puteri kami, kerana kami berlindung dari kemurkaan Allah dan kemurkaan Rasul-Nya!"
Nabi sangat gembira dengan sikap Amar ini, Beliau memanggil Sa'ad untuk mendekat dan saat itu juga Amar menikahkan dengan puterinya, Atiqah, dengan maskawin 400 Dirham. Sa'ad sangat gembira dengan pernikahannya ini. Nabi bersabda kepadanya: "Pergilah kamu, dan pergauilah istrimu itu!"
Sa'ad berkata: "Wahai Rasulullah, Demi Zat yang telah mengutus engkau dengan benar sebagai Nabi, saya tidak mempunyai apa-apa (untuk membayar maskahwin untuk isterinya) sebelum saya meminta kepada teman-teman saya."
Nabi memerintahkannya untuk meminta kepada tiga orang sahabat, yakni Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Ali bin Abi Thalib. Masing-masing 200 Dirham, maka mereka pasti akan memberinya, bahkan melebihkan pemberiannya. Sa'ad melaksanakan perintah tersebut, dan dia memang memperoleh uang yang cukup bahkan berlebih untuk memberi belanja dan membayar maharnya.
Esok harinya dia pergi ke pasar untuk membeli barang-barang keperluan dan hadiah untuk isterinya. Tetapi belum sempat membeli sesuatu, terdengar seruan untuk berjihad: "Wahai penunggang kuda-kuda Allah, berjihadlah!"
Sa'ad berada di persimpangan dilema apabila mendengar seruan itu. Akhirnya, Sa'ad memilih untuk berjihad meninggikan kalimat Allah. Hilang sudah rencananya untuk membeli keperluan rumah tangga barunya. Hilang sudah bayang-bayang keindahan malam pertama dengan isterinya yang cantik, Atiqah binti Amar.
Dia memandang ke langit dan berkata, "Wahai Allah, Tuhannya langit dan bumi, Tuhannya Muhammad SAW, sungguh hari ini aku akan memakai uang yang ada padaku untuk sesuatu yang dicintai Allah, dicintai Rasul-Nya, dan dicintai oleh orang-orang yang beriman!"
Sa'ad membelanjakan uangnya untuk membeli kuda, pedang, tombak, perisai dan segala macam keperluan untuk berjihad di jalan Allah, termasuk perbekalannya. Dia mengikatkan kain serban di seluruh wajahnya, tubuhnya dan memakai baju besi yang menutup seluruh tubuhnya kecuali dua matanya, sehingga dia tidak mudah dikenali identitinya.
Ketika tiba di antara sahabat Muhajirin, mereka berkata: "Siapakah penunggang kuda yang belum kita kenali ini?" Sa'ad sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, Ali bin Abi Thalib berkata: "Biarkanlah dia, barangkali dia datang dari daerah Bahrain atau Syam, dimana saat ini dia ingin mengorbankan dirinya untuk keselamatanmu."
Sa'ad memacu kudanya menuju garis depan dan bertempur dengan perkasanya. Tombak dan pedangnya tak pernah berhenti mengayun dan menyerang kaum musyrik. Ketika kudanya tampak kelelahan, dia turun untuk berperang dengan berjalan kaki, dan itu tidak mengurangi semangatnya memperoleh syahidnya.
Saat itu dia sedang berada di dekat baginda Nabi dan lengannya tersingkap sehingga tampak kehitaman kulitnya, beliau langsung bersabda, "Apakah engkau Sa'ad?" "Benar Ya Rasulullah!"
Dia segera berlalu dari rumah Amar dan kembali ke Majelis Rasulullah SAW. Belum jauh dia berlalu dari rumah Amar, terdengar langkah mendekat dan suara memanggilnya. Dia berhenti dan berbalik, kelihatan seorang gadis yang sangat cantik berdiri agak jauh di hadapannya.
Sang gadis yang tak lain adalah Atiqah binti Amar berkata: "Wahai hamba Allah, kembalilah! Jika memang Rasulullah SAW menjodohkan engkau dengan aku, aku rela dengan apa yang ditetapkan dan direlakan Rasulullah!"
Sa'ad sejenak bimbang, walau dia memang ingin menikah, dia tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan istri secantik gadis yang kini berdiri di hadapannya, dia sadar keadaan dirinya.
Sa'ad segera berpaling dari gadis itu tanpa berkata apa-apa dan berjalan kembali ke Majelis Nabi. Atiqah menyeru ayahnya: "Wahai ayah, waspadalah jangan sampai wahyu Allah turun berkenaan penolakanmu terhadap Sa'ad yang dihantar oleh Rasulullah SAW sendiri, saya rela dengan apa yang dikehendaki Rasulullah, pergilah kepada baginda sebelum terlambat!".
Setibanya di masjid, Sa'ad melaporkan apa yang terjadi, kemudian bergabung dengan sahabat lainnya mendengarkan pengajaran Nabi. Tetapi tak lama kemudian, datanglah Amar bin Wahab dengan kedaan tergopoh menghadap Nabi.
Sebelum dia berucap apa-apa, Nabi mendahuluinya bersabda: "Kamukah orangnya yang menolak apa yang dikehendaki oleh Rasulullah!" Amar meminta maaf dengan penuh penyesalan, dia berkata: "Benar Ya Rasulullah, tetapi saya memohon ampunan kepada Allah. Saya menyangka dia berbohong dengan perkataanya. Kalau memang dia benar, kami bersedia menikahkannya dengan puteri kami, kerana kami berlindung dari kemurkaan Allah dan kemurkaan Rasul-Nya!"
Nabi sangat gembira dengan sikap Amar ini, Beliau memanggil Sa'ad untuk mendekat dan saat itu juga Amar menikahkan dengan puterinya, Atiqah, dengan maskawin 400 Dirham. Sa'ad sangat gembira dengan pernikahannya ini. Nabi bersabda kepadanya: "Pergilah kamu, dan pergauilah istrimu itu!"
Sa'ad berkata: "Wahai Rasulullah, Demi Zat yang telah mengutus engkau dengan benar sebagai Nabi, saya tidak mempunyai apa-apa (untuk membayar maskahwin untuk isterinya) sebelum saya meminta kepada teman-teman saya."
Nabi memerintahkannya untuk meminta kepada tiga orang sahabat, yakni Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Ali bin Abi Thalib. Masing-masing 200 Dirham, maka mereka pasti akan memberinya, bahkan melebihkan pemberiannya. Sa'ad melaksanakan perintah tersebut, dan dia memang memperoleh uang yang cukup bahkan berlebih untuk memberi belanja dan membayar maharnya.
Esok harinya dia pergi ke pasar untuk membeli barang-barang keperluan dan hadiah untuk isterinya. Tetapi belum sempat membeli sesuatu, terdengar seruan untuk berjihad: "Wahai penunggang kuda-kuda Allah, berjihadlah!"
Sa'ad berada di persimpangan dilema apabila mendengar seruan itu. Akhirnya, Sa'ad memilih untuk berjihad meninggikan kalimat Allah. Hilang sudah rencananya untuk membeli keperluan rumah tangga barunya. Hilang sudah bayang-bayang keindahan malam pertama dengan isterinya yang cantik, Atiqah binti Amar.
Dia memandang ke langit dan berkata, "Wahai Allah, Tuhannya langit dan bumi, Tuhannya Muhammad SAW, sungguh hari ini aku akan memakai uang yang ada padaku untuk sesuatu yang dicintai Allah, dicintai Rasul-Nya, dan dicintai oleh orang-orang yang beriman!"
Sa'ad membelanjakan uangnya untuk membeli kuda, pedang, tombak, perisai dan segala macam keperluan untuk berjihad di jalan Allah, termasuk perbekalannya. Dia mengikatkan kain serban di seluruh wajahnya, tubuhnya dan memakai baju besi yang menutup seluruh tubuhnya kecuali dua matanya, sehingga dia tidak mudah dikenali identitinya.
Ketika tiba di antara sahabat Muhajirin, mereka berkata: "Siapakah penunggang kuda yang belum kita kenali ini?" Sa'ad sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, Ali bin Abi Thalib berkata: "Biarkanlah dia, barangkali dia datang dari daerah Bahrain atau Syam, dimana saat ini dia ingin mengorbankan dirinya untuk keselamatanmu."
Sa'ad memacu kudanya menuju garis depan dan bertempur dengan perkasanya. Tombak dan pedangnya tak pernah berhenti mengayun dan menyerang kaum musyrik. Ketika kudanya tampak kelelahan, dia turun untuk berperang dengan berjalan kaki, dan itu tidak mengurangi semangatnya memperoleh syahidnya.
Saat itu dia sedang berada di dekat baginda Nabi dan lengannya tersingkap sehingga tampak kehitaman kulitnya, beliau langsung bersabda, "Apakah engkau Sa'ad?" "Benar Ya Rasulullah!"
Lihat Juga :