Imam Syafi'i Tumbuh dalam Pelukan Ibu yang Mencintai Al-Qur'an

Sabtu, 17 Desember 2022 - 14:03 WIB
Imam Syafi'i menceritakan soal dirinya tentang didikan ibundanya, "Aku hidup sebagai yatim di dalam asuhan ibuku. Ibuku tidak mampu membayar guru ngajiku. Tapi guruku ridho dan senang kepadaku. Guruku bahkan memintaku sebagai penggantinya (untuk mengajari teman-temanku)."

Dalam kesempatan lain, beliau juga bercerita, “Aku berada bersama para pencatat kitab, disana aku mendengar ustad sedang mengajari ayat al-Qur’an pada anak-anak kecil, maka aku langsung dapat menghafalnya. Dan sebelum ustad tadi selesai mendikte ayat pada mereka aku telah menghafal semua yang di diktekan tadi. Pada suatu hari beliau berkata padaku, “Tidak halal bagiku untuk menghalangimu sedikitpun”.

Begitulah jasa besar Ibunda Imam Syafi'i yang merawat dan mendidik putranya dalam bingkai Al-Qur'an dan Sunnah. Ketika Imam Syafi'i akan menuntut ilmu, Ibunya berdoa: “Ya Allah, Rabb yang menguasai seluruh alam. Anakkku ini berjalan menuntut ilmu demi mencari ridha-Mu. Hamba memohon kepadaMu ya Allah… mudahkanlah urusannya. Lindungilah ia, panjangkanlah umurnya agar aku bisa melihatnya nanti ketika ia pulang dengan dada yang penuh dengan ilmu-Mu.” Apa yang dilakukan ibunda Imam Syafi’i patut menjadi contoh bagi setiap ibu muslimah. Ia senantiasa mendoakan buah hatinya, terutama di sepertiga malam yang gulita. Saat doa tiada penghalang. Saat seorang hamba begitu dekat dengan Tuhannya.

Doa itu rutin dipanjatkan. Namun ketika momen-momen tertentu, intensitasnya ditingkatkan. Kekusyu’annya ditambah, dengan segenap harap kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Doa ibunya diijabah oleh Allah. Doa seorang ibu yang berdoa demi anaknya agar memahami ilmu agama dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Imam Syafi'i kemudian dikenal sebabgi imamnya para kaum muslimin di seluruh dunia.

Imam Syafi’i adalah seorang ahli ibadah serta zuhud pada dunia. Imam Syafi’i mencukupkan malamnya dengan ilmu dan ibadah. Sepertiga malam untuk menulis, sepertiganya lagi untuk sholat, dan sepertiga yang terakhir untuk digunakan tidur. Beliau biasa menghatamkan al-Qur’an pada bulan Ramadhan sebanyak enam puluh kali dengan khatam tiga puluh kali setiap bulannya.

Ucapan beliau yang terkenal adalah, “Ilmu itu adalah yang bermanfaat bukanlah ilmu itu yang hanya sekedar dihafal”. Beliau juga mengatakan, “Belum pernah aku merasakan kenyang semenjak sepuluh tahun yang lalu kecuali sekali, itupun aku muntahkan dengan cara memasukan jari kedalam tenggorokan. Karena rasa kenyang membikin badan menjadi malas dan membuat hati keras, serta menghilangkan kecerdasan, membawa rasa kantuk dan membuat malas beribadah”.

Di antara para guru Imam Syafi'i adalah Imam Hujjatul Islam Imam Sufyan bin Uyainah Rahimahuulah, Abdurrahman bin Abu Bakar bin Abdullah Rahimahullah, Ismail bin Abdullah, Muslim bin Khalid as-Zanji, Malik bin Anas bin Amr bin Ash Rahimahullah, Andul Aziz bin Muhammad, Ibrahim bin Sa'ad, Muhammad bin Ismail bin Abu Furdaik, Hisyam bin Yusuf, Waki' bin Jarrah, dan masih banyak lagi selainnya. Kini, berkat didikan Ibunya, Imam Syafi'i ditakdirkan oleh Allah Ta'ala menjadi imam dunia yang fatwa-fatwanya menjadi panutan umat Islam di seluruh dunia.

Baca juga: Imam Syafi'i Khatam Al-Qur'an 60 Kali Setiap Ramadhan

Wallahu A'lam
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!