Hadis Tawakkal Burung Mencari Rezeki, Begini Penjelasannya
Rabu, 11 Januari 2023 - 22:30 WIB
Hubungan Tawakkal dan Usaha
Tidak ada pertentangan antara perintah untuk bertawakkal, yakni menyerahkan urusan hanya kepada Allah dengan berusaha yang juga diperintahkan dalam agama.
Justru mempertentangkan keduanya semisal dengan keengganan melakukan usaha dengan dalih tawakkal, akan menyebabkan rusaknya tawakkal itu sendiri. Imam Al-Ghazali berkata: "Tawakkal dalam Islam bukan suatu pelarian bagi orang-orang yang tidak mau berusaha atau gagal usahanya, tetapi tawakkal itu ialah tempat kembalinya segala usaha. Tawakkal bukan menanti nasib sambil berpangku tangan, tetapi berusaha sekuat tenaga dan setelah itu baru berserah diri kepada Allah. Allah-lah yang nanti akan menentukan hasilnya."
Sahl At-Tusturi rahimahullah mengatakan: "Barangsiapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela Sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan). Barangsiapa mencela tawakkal (tidak mau bersandar pada Allah) maka dia telah meninggalkan keimanan." [Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, hal 517]
Penjelasan Hadis
Mengenai maksud Hadits di atas telah dijelaskan para ulama. Di antarannya, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah: "Hadis ini tidak menunjukan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rezeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari demi mencari rezeki." [Tuhfatul Ahwadzi (7/7)]
Beliau juga pernah ditanya tentang seseorang yang duduk saja di rumahnya dan di masjid seraya tidak bekerja karena yakin akan datangnya rezeki, maka beliau berkata: "Orang seperti itu benar-benar bodoh. Burung saja bekerja dengan berangkat dari sarangnya pada pagi hari. Para sahabat Nabi yang mulia pun ada yang berdagang dan ada yang bekerja dengan menanam kurma, merekalah sebaik-baik teladan." [Fath al-Bari (11/306)]
Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata: "Al-Baihaqi mengatakan dalam Syu'ab Al-Iman: "Hadits ini bukanlah dalil untuk duduk-duduk santai, enggan melakukan usaha untuk memperoleh rezeki. Bahkan hadits ini merupakan dalil yang memerintahkan untuk mencari rezeki karena burung tersebut pergi pada pagi hari untuk mencari rezeki." [Dalil al Falihin (1/335)]
Al-Munawi menjelaskan: "Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah Ta'ala."
Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan usaha. Tawakkal haruslah dengan melakukan berbagai usaha yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dengan usaha. Sehingga hal ini menuntun kita untuk mencari rezeki. [Tuhfatul Ahwadzi (7/7)]
Tidak ada pertentangan antara perintah untuk bertawakkal, yakni menyerahkan urusan hanya kepada Allah dengan berusaha yang juga diperintahkan dalam agama.
Justru mempertentangkan keduanya semisal dengan keengganan melakukan usaha dengan dalih tawakkal, akan menyebabkan rusaknya tawakkal itu sendiri. Imam Al-Ghazali berkata: "Tawakkal dalam Islam bukan suatu pelarian bagi orang-orang yang tidak mau berusaha atau gagal usahanya, tetapi tawakkal itu ialah tempat kembalinya segala usaha. Tawakkal bukan menanti nasib sambil berpangku tangan, tetapi berusaha sekuat tenaga dan setelah itu baru berserah diri kepada Allah. Allah-lah yang nanti akan menentukan hasilnya."
Sahl At-Tusturi rahimahullah mengatakan: "Barangsiapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela Sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan). Barangsiapa mencela tawakkal (tidak mau bersandar pada Allah) maka dia telah meninggalkan keimanan." [Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, hal 517]
Penjelasan Hadis
Mengenai maksud Hadits di atas telah dijelaskan para ulama. Di antarannya, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah: "Hadis ini tidak menunjukan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rezeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari demi mencari rezeki." [Tuhfatul Ahwadzi (7/7)]
Beliau juga pernah ditanya tentang seseorang yang duduk saja di rumahnya dan di masjid seraya tidak bekerja karena yakin akan datangnya rezeki, maka beliau berkata: "Orang seperti itu benar-benar bodoh. Burung saja bekerja dengan berangkat dari sarangnya pada pagi hari. Para sahabat Nabi yang mulia pun ada yang berdagang dan ada yang bekerja dengan menanam kurma, merekalah sebaik-baik teladan." [Fath al-Bari (11/306)]
Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata: "Al-Baihaqi mengatakan dalam Syu'ab Al-Iman: "Hadits ini bukanlah dalil untuk duduk-duduk santai, enggan melakukan usaha untuk memperoleh rezeki. Bahkan hadits ini merupakan dalil yang memerintahkan untuk mencari rezeki karena burung tersebut pergi pada pagi hari untuk mencari rezeki." [Dalil al Falihin (1/335)]
Al-Munawi menjelaskan: "Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah Ta'ala."
Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan usaha. Tawakkal haruslah dengan melakukan berbagai usaha yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dengan usaha. Sehingga hal ini menuntun kita untuk mencari rezeki. [Tuhfatul Ahwadzi (7/7)]
Lihat Juga :