Dimensi Puasa dalam Syahadat, Salat, Zakat dan Haji

Kultum Syiar Bersama Ustadz M.Anang Firdaus mengulas tentang Dimensi Puasa Dalam Syahadat, Salat, Zakat dan Haji. Puasa secara terminologi adalah mencegah diri untuk melaksanakan sesuatu. Oleh karena itu puasa digolongkan ibadah yang dilakukan dengan cara meninggalkan sesuatu. Maka, puasa adalah mencegah diri melaksanakan hal-hal yang dapat membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

Namun, pada dimensi yang lain puasa memiliki dimensi mencegah diri dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Jika ini kita terapkan dalam 12 bulan, maka ibadah-ibadah lain yang merupakan rukun islam, yaitu syahadat, salat, zakat dan haji, ada dimensi puasa di dalamnya.

Saat seorang syahadat, maka seseorang terhalang menyembang selain Allah. Begitu pula salat adalah ibadah fikliyah, di dalamnya ada dimensi puasa. Orang tak bisa bergerak semaunya dalam salat, jika dilakukan maka batal ibadahnya. Begitu pula orang tak boleh berpikir bebas dalam salat, sehingga kamu menyadari apa yang kamu ucapkan di dalam salat. Salat juga media diet pikiran, fokus memikirkan hanya Allah semata.

Begitu pula di dalam zakat, ketika seseorang menunaikan zakat, maka di saat yang sama dia tercegah untuk menimbun hartanya. Sehingga peredaran uang tidak hanya di kalangan orang kaya saja tapi juga dirasakan golongan fakir miskin.

Lalu dalam ibadah haji. Saat haji kita terhalang melakukan hal-hal terlarang, berkata kotor berbuat kotor dan berdebat yang dapat memicu pertikaian. Maka, sesungguhnya semangat puasa, semangat mencegah harusnya tetap kita jalankan tidak hanya di bulan Ramadhan tapi hingga setahun, sampai menemui lagi puasa tahun depan. Simak ulasan selengkapnya di sini.

(sir)
cover top ayah
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحۡيًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآىٴِ حِجَابٍ اَوۡ يُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَيُوۡحِىَ بِاِذۡنِهٖ مَا يَشَآءُ‌ؕ اِنَّهٗ عَلِىٌّ حَكِيۡمٌ
Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.

(QS. Asy-Syura:51)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!