Kisah Abdullah bin Jahsy Ditegur Rasulullah SAW karena Melanggar Bulan Rajab

Senin, 23 Januari 2023 - 17:06 WIB
loading...
Kisah Abdullah bin Jahsy Ditegur Rasulullah SAW karena Melanggar Bulan Rajab
Abdullah bin Jahsy adalah orang pertama yang bergelar amirul mukminin. Beliau sempat ditegur Rasulullah SAW karena dianggap melanggar bulan haramFoto/Ilustrasi: Ist
A A A
Bulan Rajab adalah salah satu dari 4 bulan haram . Dalam hadis yang diriwayakan Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan: "Satu tahun itu terdiri dari 12 bulan, di antaranya 4 bulan Haram, tiga bulan berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhr, berada di antara Jumadil Akhir dan Sya'ban"

Dinamakan bulan Haram merujuk pada dua makna. Salah satunya, ada pengharaman pembunuhan pada keempat bulan tersebut. Nah, pada bulan Rajab, sahabat Nabi Abdullah bin Jahsy dinilai melanggar ketetapan itu.

"Aku tidak memerintahkan kalian mengadakan peperangan di bulan haram," tegur Nabi Muhammad SAW, seraya menolak untuk mengambil pampasan perang yang diserahkan Abdullah bin Jahsy .

Abdullah bin Jahsy dan para sahabatnya pun bersedih hati karena telah bertindak di luar perintah. Lebih-lebih, setelah semua sahabat Rasulullah menyesalkan tindakannya itu.

Hanya saja di kemudian hari tindakan Abdullah bin Jahsy dibenarkan bahkan diabadikan dalam al-Quran surat al-Baqarah 217.

Baca juga: Bulan Rajab Bulan Haram, Apa Maksudnya?

Menurut keterangan Ahli Tafsir (mufassirin), pada bulan Jumadil Akhir dua bulan sebelum Perang Badar berkobar, kira-kira tujuh belas bulan sesudah hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mengirimkan 8 orang Muhajirin di bawah pimpinan Abdullah bin Jahsy dengan pesan:

"Pergilah kau dengan Asma Allah dan janganlah kau buka suratku ini hingga engkau berjalan selama dua hari. Sesudah menempuh jarak itu barulah kau buka suratku itu dan bacakan kepada kawan-kawanmu. Setelah itu, teruskan perjalananmu sesuai perintahku. Janganlah ada di antara kawan-kawanmu itu yang pergi mengikuti karena dipaksa (terpaksa)".

Abdullah bin Jahsy berjalan selama dua hari, kemudian ia berhenti dan membuka surat Rasulullah itu. "Bismillaahr-ahmaanirahiim. Amma ba'du, pergilah kau dengan kawan-kawan yang menyertaimu disertai keberkahan dari Allah hingga kau mencapai sebuah kebun kurma. Dari sana, kau bisa mengintai kegiatan kafilah Quraisy, lalu kau kembali membawa berita mereka".

Sesudah membaca isi surat itu, Abdullah berkata: "Sam'an wa thaa 'atan, aku mendengar dan patuh kepada perintahmu", lalu berkata kepada para pengikutnya, "Rasulullah melarang saya memaksa kalian ikut dalam misi ini".

Rombongan ini berjalan atas perintah Rasulullah SAW dan dengan perlindungan Allah Ta'ala. Di suatu tempat bernama Bahran, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Utbah bin Ghazwan kehilangan ontanya. Keduanya pergi mencari ontanya itu hingga tertinggal oleh rombongannya.

Baca Juga: Keutamaan Dzulqa'dah, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

Abdullah bin Jahsy meneruskan perjalanannya sesuai petunjuk Rasulullah hingga mencapai sebuah perkebunan kurma. Tiba-tiba, mereka melihat kafilah Quraisy dikawal oleh Amru ibnul Hadhrami, Utsman ibnul Mughirah, dan saudaranya; Naufal dan al-Hakam bin Kisan.

Para sahabat itu bermusyawarah tentang mereka. Salah seorang berkata, "kalau kalian membiarkan mereka pergi malam ini, mereka akan memasuki Tanah Haram dan kalian tidak bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi, kalau kalian memerangi mereka, kita ada dalam bulan haram?" Pada waktu itu, mereka ada di akhir bulan Rajab.

Mereka ragu-ragu dan takut menindaknya. Tapi akhirnya, mereka memberanikan dan memutuskan untuk memeranginya dengan sekuat-kuatnya. Salah seorang dari sahabat itu lalu melepaskan anak panah kepada Amru ibnul Hadhrami dan tewaslah ia seketika. Mereka berhasil menawan Utsman ibnul Mughirah dan al-Hakam bin Kisan, sedangkan Naufal dan saudaranya Utsman, berhasil melarikan diri.

Menurut keterangan sebagian keluarga Abdullah bin Jahsy, pada waktu itu, Abdullah mengatakan kepada para sahabatnya itu, "Dua puluh persen dari kemenangan yang kita peroleh ini untuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan sisanya dibagi di antara kita". Ini terjadi sebelum ketetapan 20% itu dikukuhkan oleh al-Qur'an.

Sesampainya rombongan di Madinah, Rasulullah bersabda kepada mereka, "Aku tidak memerintahkan kalian mengadakan peperangan di bulan haram", seraya menolak untuk mengambil bagiannya dari hasil kemenangan itu.

Abdullah bin Jahsy dan para sahabatnya bersedih hati karena telah bertindak di luar perintah. Lebih-lebih, setelah semua sahabat Rasulullah menyesalkan tindakannya itu. Belum lagi kampanye Quraisy yang dihembus-hembuskan dengan gencar, "Muhammad dan sahabatnya menghalalkan pertumpahan darah, perampasan hak milik dan penawanan orang di bulan haram".

Baca juga: Mengapa Dzulhijjah Disebut Bulan Haram? Berikut Penjelasannya

Surat Al-Baqarah Ayat 217
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1759 seconds (10.55#12.26)