Kisah Sufi Tarekat Khwajagan: Bendungan, 5 Orang Bersaudara dan Tuan Tanah Lalim
Senin, 30 Januari 2023 - 19:24 WIB
loading...
A
A
A
"Mari kita mulai bekerja," kata Si Sulung.
"Lebih baik kita menunggu apakah para pedagang datang," kata yang lainnya.
"Tentu saja mereka tidak akan datang," kata Si Sulung, "sebab akulah yang menyuruh mereka."
Tetapi, mereka berdebat, berdebat, dan berdebat.
Musim itu para pedagang tidak melewati jalan ke tanah bersaudara itu, sebab salju telah menghalangi jalan.
Baca juga: Kisah Sufi Suhrawardi: Burung dan Telur
Sebelum datang musim, para kafilah melintasi sepanjang Jalur Sutra, tuan lalim yang kedua, yang lebih jahat dari yang pertama, muncul. Pada awal kemunculannya, tuan lalim itu hanya mengambil tanah yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Ia melihat bendungan tak bertuan itu dan bangkitlah ketamakannya. Ia bukan saja mengambil bendungan itu, tetapi juga memperbudak kelima orang bersaudara itu, sebab mereka masih sehat untuk bekerja berat, bahkan yang tertua sekalipun.
Dan kelima orang bersaudara itu tetap saja adu mulut. Tampaknya tak ada lagi yang bisa menghentikan raja lalim itu kini.
Idries Shah mengatakan berasal dari Abu-Ali Muhammad bin al-Qasim al-Rudbari, kisah ini merupakan cerita terkenal dari Jalan Guru, tarekat Khwajagan.
Cerita ini menggambarkan asal-usul pelik dari ajaran-ajaran Sufi, yang datang dari suatu tempat, tetapi tampaknya datang dari tempat lain, sebab pikiran manusia tak dapat merasakan (seperti kelima bersaudara dalam Fabel tadi) 'Sumber yang sejati'.
Rudbari memperoleh 'Rantai Peralihan' ajarannya dari semua Sufi terdahulu, terutama dari Shibli, Bayazid, dan Harudan Qassar.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
"Lebih baik kita menunggu apakah para pedagang datang," kata yang lainnya.
"Tentu saja mereka tidak akan datang," kata Si Sulung, "sebab akulah yang menyuruh mereka."
Tetapi, mereka berdebat, berdebat, dan berdebat.
Musim itu para pedagang tidak melewati jalan ke tanah bersaudara itu, sebab salju telah menghalangi jalan.
Baca juga: Kisah Sufi Suhrawardi: Burung dan Telur
Sebelum datang musim, para kafilah melintasi sepanjang Jalur Sutra, tuan lalim yang kedua, yang lebih jahat dari yang pertama, muncul. Pada awal kemunculannya, tuan lalim itu hanya mengambil tanah yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Ia melihat bendungan tak bertuan itu dan bangkitlah ketamakannya. Ia bukan saja mengambil bendungan itu, tetapi juga memperbudak kelima orang bersaudara itu, sebab mereka masih sehat untuk bekerja berat, bahkan yang tertua sekalipun.
Dan kelima orang bersaudara itu tetap saja adu mulut. Tampaknya tak ada lagi yang bisa menghentikan raja lalim itu kini.
Idries Shah mengatakan berasal dari Abu-Ali Muhammad bin al-Qasim al-Rudbari, kisah ini merupakan cerita terkenal dari Jalan Guru, tarekat Khwajagan.
Cerita ini menggambarkan asal-usul pelik dari ajaran-ajaran Sufi, yang datang dari suatu tempat, tetapi tampaknya datang dari tempat lain, sebab pikiran manusia tak dapat merasakan (seperti kelima bersaudara dalam Fabel tadi) 'Sumber yang sejati'.
Rudbari memperoleh 'Rantai Peralihan' ajarannya dari semua Sufi terdahulu, terutama dari Shibli, Bayazid, dan Harudan Qassar.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
(mhy)
Lihat Juga :