Pandangan Filsafat dan Sufi tentang Bahagia dan Sengsara
Senin, 06 Februari 2023 - 09:32 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu tema utama dalam metodologi kesufian ialah takhalli, yaitu sikap pengosongan diri dan pembebasannya dari setiap belenggu yang menghalangi jalan kepada Allah.
Pembebasan adalah juga salah satu tema pokok seruan Nabi kepada umat manusia, termasuk pembebasan dari belenggu budaya dan tradisi, jika menghalangi pada Kebenaran. Jika kalimat persaksian dimulai dengan al-nafy atau peniadaan dalam fase negatif tiada Tuhan, maka tujuannya ialah pembebasan diri dari setiap belenggu.
Baca juga: Pengertian Tasawuf dan Manfaat Mempelajarinya
Belenggu itu dilambangkan dalam konsep tentang "Tuhan" atau "Sesembahan", yaitu setiap bentuk obyek ketundukan (Arab: Ilah). Dan jika kalimat persaksian itu harus mutlak diteruskan dengan al-itsbat atau peneguhan dalam fase afirmatif "kecuali Allah" (al-Lah, yang menurut banyak ahli termasuk 'Ali ibn Abi Thalib dan Ja'far al-Shadiq, terbentuk dari kata-kata Illah dan artikel "al"-yakni, Tuhan atau Sesembahan yang sebenarnya), maka yang dimaksudkan ialah kemestian kita tunduk pada Allah, Tuhan yang sebenarnya itu dan tidak kepada apa dan siapapun yang lain.
Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un, QS al-Syura 42:11), serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un, QS.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis, berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari, dan terus mencari Kebenaran.
Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. Maka tunduk secara benar--dalam bahasa Arab disebut Islam, yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah, Tuhan yang sebenarnya-- justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma.
Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya, maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak, yaitu Tuhan), tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri.
Baca juga: Tasawuf dan Para Sufi Menurut Ibnu Taimiyah
Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. Dengan kata lain, keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri, atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan.
Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat, QS. 25:43 dan 45:23).
Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi", suatu proses "pembebasan dan ketundukan," seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu, atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-- salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian,
Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, jodoh-jodohmu, serta karib-kerabatmu; (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan, perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan, serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan; (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan daripada perjuangan di jalan-Nya, maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". (QS al-Taubah/9:24)
Pembebasan adalah juga salah satu tema pokok seruan Nabi kepada umat manusia, termasuk pembebasan dari belenggu budaya dan tradisi, jika menghalangi pada Kebenaran. Jika kalimat persaksian dimulai dengan al-nafy atau peniadaan dalam fase negatif tiada Tuhan, maka tujuannya ialah pembebasan diri dari setiap belenggu.
Baca juga: Pengertian Tasawuf dan Manfaat Mempelajarinya
Belenggu itu dilambangkan dalam konsep tentang "Tuhan" atau "Sesembahan", yaitu setiap bentuk obyek ketundukan (Arab: Ilah). Dan jika kalimat persaksian itu harus mutlak diteruskan dengan al-itsbat atau peneguhan dalam fase afirmatif "kecuali Allah" (al-Lah, yang menurut banyak ahli termasuk 'Ali ibn Abi Thalib dan Ja'far al-Shadiq, terbentuk dari kata-kata Illah dan artikel "al"-yakni, Tuhan atau Sesembahan yang sebenarnya), maka yang dimaksudkan ialah kemestian kita tunduk pada Allah, Tuhan yang sebenarnya itu dan tidak kepada apa dan siapapun yang lain.
Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un, QS al-Syura 42:11), serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un, QS.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis, berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari, dan terus mencari Kebenaran.
Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. Maka tunduk secara benar--dalam bahasa Arab disebut Islam, yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah, Tuhan yang sebenarnya-- justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma.
Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya, maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak, yaitu Tuhan), tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri.
Baca juga: Tasawuf dan Para Sufi Menurut Ibnu Taimiyah
Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. Dengan kata lain, keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri, atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan.
Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat, QS. 25:43 dan 45:23).
Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi", suatu proses "pembebasan dan ketundukan," seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu, atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-- salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian,
Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, jodoh-jodohmu, serta karib-kerabatmu; (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan, perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan, serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan; (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan daripada perjuangan di jalan-Nya, maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". (QS al-Taubah/9:24)
Lihat Juga :