Catatan tentang Hadis Tanah Arab Menghijau
Selasa, 07 Februari 2023 - 21:47 WIB
loading...
A
A
A
2. Tanda-tanda Kiamat itu sangat banyak. Kalau dikumpulkan dari sekian banyak hadits, bisa lebih dari sepuluh dua puluh jumlahnya.
Khusus di hadits Muslim ini memang disebutkan hanya ada dua, yaitu berlimpahnya harta dan menghijaunya negeri Arab. Dan ciri pertama sendiri belum terjadi, yaitu bahwa harta berlimpah hingga tidak ada lagi penerima zakat juga belum terjadi. Di Saudi hari ini masih banyak orang miskin yang butuh zakat.
Padahal di hadits lain masih ada puluhan tanda Kiamat. Bahkan diutusnya Nabi Muhammad SAW pun sudah jadi tanda hari kiamat. Ternyata sudah ditunggu selama 15 abad sampai zaman kita hidup hari ini, kok nggak kiamat-kiamat juga.
3. Yang terpenting bukan ribut dan heboh kapan kiamat atau bagaimana mengantisipasinya. Buat saya yang jadi masalah justru ketika kita hidup di zaman yang sudah terlalu jauh jaraknya dari zaman kenabian. Kekosongan hidup tanpa wahyu samawi dan masa turunnya para nabi, sesungguhnya itulah yang jadi masalah.
Kenapa jadi masalah?
Karena kita tidak dikawal langsung oleh nabi dan tidak ada teguran Wahyu samawi. Kita hanya bisa ijtihad dan mengira-ngira saja. Bahkan kita pun sudah di posisi yang amat jauh dari generasi para sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in.
Sementara zaman terus berubah, kehidupan umat manusia berkali-kali gonta-ganti pusat peradaban. Ada begitu banyak fenomena yang eksis di masa kenabian, lalu dibahas dalam Qur'an dan Sunnah.
Namun sayangnya fenomena itu hari ini sudah hilang dari zaman. Apakah fenomena yang sudah hilang itu kudu kita bangkitkan lagi? Tentu tidak, bukan?
Sebaliknya, ada begitu banyak fenomea baru yang tidak kita temukan secara eksplisit dalam Qur'an dan hadits. Sehingga kita terpaksa harus ijtihad panjang kali lebar dan berdebat tidak selesai-selesai untuk mendapatkan benang merahnya.
Kadang yang tidak kompeten dan tidak punya dasar keilmuan di bidang itu pun suka ikut meramaikan. Akibatnya proses pencarian benang merah pun sering jadi kisruh.
Ibarat pertandingan bola yang rusuh, soalnya supporter dan penonton ikut turun ke lapangan mengejar-ngejar bola. Bahkan ada juga yang nguber-nguber wasit mau digebukin ramai-ramai. Ini apa-apaan sih?
Masalahnya, kita pun sudah banyak kehilangan pakar ilmu-ilmu keislaman, meskipun masih ada banyak warisan mereka dalam bentuk kitab. Sayangnya, isi kita yang mereka tuliskan itu belum lagi mencakup kebutuhan kita di masa kini.
Khusus di hadits Muslim ini memang disebutkan hanya ada dua, yaitu berlimpahnya harta dan menghijaunya negeri Arab. Dan ciri pertama sendiri belum terjadi, yaitu bahwa harta berlimpah hingga tidak ada lagi penerima zakat juga belum terjadi. Di Saudi hari ini masih banyak orang miskin yang butuh zakat.
Padahal di hadits lain masih ada puluhan tanda Kiamat. Bahkan diutusnya Nabi Muhammad SAW pun sudah jadi tanda hari kiamat. Ternyata sudah ditunggu selama 15 abad sampai zaman kita hidup hari ini, kok nggak kiamat-kiamat juga.
3. Yang terpenting bukan ribut dan heboh kapan kiamat atau bagaimana mengantisipasinya. Buat saya yang jadi masalah justru ketika kita hidup di zaman yang sudah terlalu jauh jaraknya dari zaman kenabian. Kekosongan hidup tanpa wahyu samawi dan masa turunnya para nabi, sesungguhnya itulah yang jadi masalah.
Kenapa jadi masalah?
Karena kita tidak dikawal langsung oleh nabi dan tidak ada teguran Wahyu samawi. Kita hanya bisa ijtihad dan mengira-ngira saja. Bahkan kita pun sudah di posisi yang amat jauh dari generasi para sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in.
Sementara zaman terus berubah, kehidupan umat manusia berkali-kali gonta-ganti pusat peradaban. Ada begitu banyak fenomena yang eksis di masa kenabian, lalu dibahas dalam Qur'an dan Sunnah.
Namun sayangnya fenomena itu hari ini sudah hilang dari zaman. Apakah fenomena yang sudah hilang itu kudu kita bangkitkan lagi? Tentu tidak, bukan?
Sebaliknya, ada begitu banyak fenomea baru yang tidak kita temukan secara eksplisit dalam Qur'an dan hadits. Sehingga kita terpaksa harus ijtihad panjang kali lebar dan berdebat tidak selesai-selesai untuk mendapatkan benang merahnya.
Kadang yang tidak kompeten dan tidak punya dasar keilmuan di bidang itu pun suka ikut meramaikan. Akibatnya proses pencarian benang merah pun sering jadi kisruh.
Ibarat pertandingan bola yang rusuh, soalnya supporter dan penonton ikut turun ke lapangan mengejar-ngejar bola. Bahkan ada juga yang nguber-nguber wasit mau digebukin ramai-ramai. Ini apa-apaan sih?
Masalahnya, kita pun sudah banyak kehilangan pakar ilmu-ilmu keislaman, meskipun masih ada banyak warisan mereka dalam bentuk kitab. Sayangnya, isi kita yang mereka tuliskan itu belum lagi mencakup kebutuhan kita di masa kini.
Lihat Juga :