Kisah Mojud Bertemu Nabi Khidir, Dunia Tak Kasat Mata

Senin, 13 Februari 2023 - 16:20 WIB
loading...
Kisah Mojud Bertemu...
Kisah ini penting dalam menjelaskan kepercayaan Sufi bahwa dunia tak kasat mata. Foto/Ilustrasi: Ist
A A A
Kisah sufi ini dinukil dari buku berjudul "Tales of The Dervishes" karya Idries Shah diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi".

Syeh Ali Farmadhi (wafat tahun 1078) menganggap kisah ini penting dalam menjelaskan kepercayaan Sufi bahwa 'dunia tak kasat mata' selalu menembus kenyataan sehari-hari, pada setiap saat, di berbagai tempat.

Hal-hal, katanya, yang kita anggap tak terpahami, sebenarnya bisa ditelisik pada campur tangan di atas. Lebih lanjut, orang-orang tidak mengenali keterlibatan 'dunia' ini dalam dunia kita, sebab mereka yakin bahwa mereka mengetahui penyebab senyatanya dari berbagai peristiwa. Padahal sebenarnya tidak.

Hanya jika mereka bisa menyimpan dalam pikiran mereka tentang kemungkinan adanya dimensi lain yang terkadang bergesekan dengan pengalaman-pengalaman sehari-hari manusia, barulah dimensi ini bisa mereka dapati.

Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh

Syeh Ali merupakan Syeh kesepuluh dan guru pengajaran dari tarekat Khwajagan ('Para Guru'), yang belakangan dikenal sebagai tarekat Naqshbandi.

Versi ini berasal dari naskah abad ketujuh belas milik Lala Anwar, Hikayt I Abdalan (Kisah Para Terubahkan). Berikut kisahnya:

Pada zaman dahulu, ada seorang benama Mojud. Ia hidup di sebuah kota kecil dan bertugas sebagai seorang pegawai rendahan, dan tampaknya kelak ia akan menjabat sebagai Pengawas Timbangan dan Ukuran.

Pada suatu hari, ketika ia sedang berjalan-jalan melewati kebun sebuah gedung kuno di dekat rumahnya, Khidr, Penuntun Para Sufi yang gaib, muncul di hadapannya, berpakaian hijau bercahaya.

Khidir berkata, "Orang yang berpengharapan cemerlang! Tinggalkan tugasmu dan temui aku di pinggir sungai tiga hari lagi." Kemudian, bayangan itu pun lenyap.

Mojud menghadap atasannya dengan ragu bercampur takut dan berkata bahwa ia harus meninggalkan tugasnya. Semua orang di kota kecil itu segera mendengar perihal itu dan berkata, "Mojud malang! Ia pasti sudah gila." Tetapi, karena ada banyak orang yang bisa menggantikan pekerjaan yang ditinggalkannya itu, orang-orang pun segera melupakannya.

Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga

Pada hari yang ditentukan, Mojud bertemu Khidir, yang berkata, "Lepas pakaianmu dan ceburkan dirimu ke sungai. Mungkin ada seseorang yang akan menolongmu naik."

Mojud berbuat demikian, meskipun ia bertanya-tanya, jangan-jangan dirinya memang sudah gila.

Karena bisa berenang, ia tidak tenggelam, tetapi terbawa arus cukup jauh sebelum seorang nelayan menariknya ke perahunya, dan berkata, "Orang tolol! Arus sungai begitu kuat. Apa yang mau kau lakukan dengan berhanyut-hanyut ini?'

Mojud berkata, "Saya juga tidak tahu pasti."

"Kau ini gila," kata Si Nelayan, "Nah, kau boleh singgah di gubuk buluhku di sungai sebelah sana, nanti kita pikir lagi apa yang bisa dilakukan untukmu."

Ketika nelayan itu mengetahui bahwa Mojud halus budi bahasanya, ia pun belajar membaca dan menulis darinya. Sebagai gantinya, Mojud diberi makan dan bisa membantu nelayan itu melaut.

Setelah beberapa bulan, Khidir pun muncul, kali ini di tepi tempat tidur Mojud, katanya, "Bangun sekarang juga dan tinggalkan Si Nelayan. Kau akan dibekali untuk perjalananmu."

Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan

Mojud pun buru-buru meninggalkan pondok itu, berpakaian seperti seorang nelayan, dan terus bertanya-tanya dalam hati hingga ia sampai di jalan besar. Ketika fajar, dilihatnya seorang petani di atas seekor keledai sedang bergerak menuju pasar. "Apa Saudara mencari pekerjaan?' tanya petani itu, "saya butuh seseorang untuk menolongku membawakan belanjaan."

Mojud pun mengikutinya. Ia bekerja pada petani itu hampir dua tahun lamanya, dan belajar banyak hal tentang pertanian, selain itu, tidak.

Pada suatu sore, ketika ia sedang membungkus wol, Khidir muncul dan berkata, "Tinggalkan pekerjaan itu, pergilah ke Kota Mosul, dan gunakan tabunganmu untuk menjadi seorang pedagang kulit."

Mojud pun patuh.

Di Mosul, ia menjadi terkenal sebagai seorang saudagar kulit. Ia berdagang dan tak pernah melihat Khidir tiga tahun lamanya. Ia telah mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak, dan sedang berpikir membeli sebuah rumah ketika Khidir muncul lagi dan berkata, "Sini uangmu; pergilah dari kota ini ke Samarkand yang jauh, dan di sana bekerjalah sebagai seorang penjual bahan makanan." Mojud melakukannya.

Kini, ia mulai menunjukkan tanda-tanda pasti adanya pencerahan. Ia menyembuhkan yang sakit, melayani sesama manusia di toko dan sepanjang waktu senggangnya, dan pengetahuannya mengenai berbagai hal gaib semakin mendalam.

Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga

Para pendeta, filsuf, dan yang lain, menemuinya dan bertanya, "Siapa gerangan gurumu?"

"Hal itu sulit dikatakan," kata Mojud.

Para pengikutnya bertanya, "Bagaimana Tuan memulai pengabdian?"

Katanya, "Sebagai seorang pegawai rendahan."

"Lalu, Tuan berhenti agar bisa bertekun dalam penyangkalan diri?"

"Tidak, saya hanya berhenti saja."

Orang-orang itu tidak bisa memahami tindakannya.

Mereka pun mendekatinya untuk menuliskan kisah kehidupannya.

"Apa yang telah Tuan alami dalam hidup Tuan?" tanya mereka.

"Saya terjun ke sebuah sungai, menjadi seorang nelayan, lalu pada suatu malam pergi meninggalkan gubuk buluh milik nelayan yang menolongku. Setelah itu, saya menjadi seorang petani. Ketika sedang mengepak kain wol, saya beranjak pergi ke Mosul, di mana saya menjadi seorang saudagar kulit. Di sana saya mendapat banyak uang, namun melepaskannya juga. Kemudian, saya berjalan ke Samarkand dan bekerja menjual bahan pangan. Dan, di sinilah saya kini."

"Namun, perilaku-perilaku yang tak terpahami itu tidak memberikan penerangan atas kemampuanmu yang ajaib dan teladanmu yang mengagumkan," kata para penulis riwayat itu.

"Hanya itu pengalaman-pengalamanku," kata Mojud.

Begitulah, para penulis tadi menyusun bagi Mojud, sebuah kisah kehidupan yang menarik dan menakjubkan, sebab semua orang suci harus mempunyai kisah kehidupan, dan ceritanya harus sesuai dengan selera pendengarnya, bukan kenyataan kehidupannya yang sebenarnya.

Dan, tak ada orang yang diperbolehkan menyinggung tentang Khidir secara langsung. Itulah sebabnya mengapa kisah tersebut tidak benar. Kisah itu merupakan suatu gambaran mengenai sebuah kehidupan. Kisah ini merupakan kisah nyata tentang kehidupan salah seorang Sufi terbesar yang pernah hidup.

Baca juga: Kisah Sufi Suhrawardi: Burung dan Telur
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
Langit Indonesia Keluarkan...
Langit Indonesia Keluarkan Suara Gemuruh, The Hum Masih Jadi Misteri
Es Antartika Terus Mencair,...
Es Antartika Terus Mencair, Ilmuwan Ungkap Hal Menakutkan Ini
Ini Rahasia Ratu Mesir...
Ini Rahasia Ratu Mesir Kuno yang Bikin Pria Terbius Melihatnya
Artikel Terkini
Puasa Tasua dan Asyura,...
Puasa Tasua dan Asyura, Mana yang Lebih Utama?
Di Dua Waktu Istimewa...
Di Dua Waktu Istimewa Ini, Malaikat Pengawas Saling Bertemu
Kisah Nabi Daud Bertobat...
Kisah Nabi Daud Bertobat 40 Hari 40 Malam, Diampuni Allah pada 10 Muharram
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Asal-usul Puasa Asyura...
Asal-usul Puasa Asyura dan Tasua, Benarkah Berasal dari Tradisi Yahudi?
Rahasia Keutamaan Puasa...
Rahasia Keutamaan Puasa Asyura, Ibadah Sunnah yang Sangat Dianjurkan Rasulullah SAW
Infografis
10 Ilmuwan Muslim yang...
10 Ilmuwan Muslim yang Mengubah Wajah Ilmu Pengetahuan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved