Kaya vs Hedonisme, Begini Pandangan Islam
Rabu, 01 Maret 2023 - 17:13 WIB
loading...
A
A
A
Hanya saja diakui bahwa manusia itu memang lemah. Mental manusia itu rapuh. Dan karenanya seringkali keinginan menikmati dunia justeru menjadi jembatan hidup berlebihan, bahkan hedonis.
Yang lebih fatal lagi ketika kecenderungan hedonisme itu dibarengi oleh perasaan paling kaya dan paling kuat. Akibatnya timbul kecenderungan menggunakan karunia itu untuk arrogan dan merendahkan orang lain. Seolah dunia semuanya telah ada dalam genggamannya.
Kehebohan seorang pegawai pajak Indonesia yang berimbas kepada arogansi anaknya melakukan kekerasan kepada seorang remaja lainnya hanya contoh kecil dari kerusakan mental akibat dunia. Bahkan gaya hidup hedonis seringkali terekspresikan tanpa konsideran kepada penderitaan mereka yang tidak berpunya.
Kemampuan memiliki fasilitas motor mewah misalnya tidak harus dipamer-pamerkan, terlebih di saat pemerintah selalu menyampaikan acaman resesi yang mengkhawatirkan saat ini. Jangan bersikap paradoks. Anda ingatkan resesi tapi anda pamer kekayaan di jalan.
Terlebih sekali lagi penampilan pamer dan hedonis itu, sekali lagi, kenyataannya hanya dengan kekayaan yang tidak seberapa dibandingkan dengan orang-orang kaya dunia. Itupun dicurigai ada sumber-sumber yang tidak halal dalam prosesnya. Masanya semua orang sadar bahwa karunia apapun itu harusnya untuk disyukuri. Bukan untuk menjadi keangkuhan dan pamer kepada orang lain.
Orang kaya dengan kekayaannya, pejabat dengan jabatannya, orang terkenal dengan pupularitasnya, dan semua karunia untuk disyukuri dan demi kemanfaatan luas. Orang kaya ditakdirkan kaya untuk membantu yang miskin. Pejabat ditakdirkan untuk menjabat untuk melayani masyarakatnya. Bukan untuk pamer dan angkuh kepada orang lain di sekitarnya.
Sekaya apapun kamu, Bill Gates, Warren Buffet, Jen Besos, Ellon Musk, dan banyak lainnya jauh lebih kaya.
Dan ingat, banyak atau sedikit harta milikmu bukan penentu kehebatan dan kemuliaanmu. Tapi pada hati dan karaktermu. Semoga!
Manhattan City, 28 Februari 2023
Baca Juga: Berlaku Zuhud, Gus Miftah: Kaya Boleh tapi Jangan Cinta Harta
Yang lebih fatal lagi ketika kecenderungan hedonisme itu dibarengi oleh perasaan paling kaya dan paling kuat. Akibatnya timbul kecenderungan menggunakan karunia itu untuk arrogan dan merendahkan orang lain. Seolah dunia semuanya telah ada dalam genggamannya.
Kehebohan seorang pegawai pajak Indonesia yang berimbas kepada arogansi anaknya melakukan kekerasan kepada seorang remaja lainnya hanya contoh kecil dari kerusakan mental akibat dunia. Bahkan gaya hidup hedonis seringkali terekspresikan tanpa konsideran kepada penderitaan mereka yang tidak berpunya.
Kemampuan memiliki fasilitas motor mewah misalnya tidak harus dipamer-pamerkan, terlebih di saat pemerintah selalu menyampaikan acaman resesi yang mengkhawatirkan saat ini. Jangan bersikap paradoks. Anda ingatkan resesi tapi anda pamer kekayaan di jalan.
Terlebih sekali lagi penampilan pamer dan hedonis itu, sekali lagi, kenyataannya hanya dengan kekayaan yang tidak seberapa dibandingkan dengan orang-orang kaya dunia. Itupun dicurigai ada sumber-sumber yang tidak halal dalam prosesnya. Masanya semua orang sadar bahwa karunia apapun itu harusnya untuk disyukuri. Bukan untuk menjadi keangkuhan dan pamer kepada orang lain.
Orang kaya dengan kekayaannya, pejabat dengan jabatannya, orang terkenal dengan pupularitasnya, dan semua karunia untuk disyukuri dan demi kemanfaatan luas. Orang kaya ditakdirkan kaya untuk membantu yang miskin. Pejabat ditakdirkan untuk menjabat untuk melayani masyarakatnya. Bukan untuk pamer dan angkuh kepada orang lain di sekitarnya.
Sekaya apapun kamu, Bill Gates, Warren Buffet, Jen Besos, Ellon Musk, dan banyak lainnya jauh lebih kaya.
Dan ingat, banyak atau sedikit harta milikmu bukan penentu kehebatan dan kemuliaanmu. Tapi pada hati dan karaktermu. Semoga!
Manhattan City, 28 Februari 2023
Baca Juga: Berlaku Zuhud, Gus Miftah: Kaya Boleh tapi Jangan Cinta Harta
(rhs)
Lihat Juga :