Pendapat Ulama 4 Mazhab Terkait Amalan Malam Nisfu Syaban
Minggu, 05 Maret 2023 - 22:00 WIB
loading...
A
A
A
1. Puasa
Mayoritas ulama Mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi'i berpendapat tentang kebolehan berpuasa Nisfu Sya'ban dan sehari setelahnya. Hal ini didasarkan kepada sebuah hadits berikut:
أَنَّ رَسُول اللَّهِ ﷺ قَال: يَا فُلاَنُ أَمَا صُمْتَ سُرَرَ هَذَا الشَّهْرِ؟ قَال الرَّجُل: لاَ يَا رَسُول اللَّهِ، قَال: فَإِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ مِنْ سُرَرِ شَعْبَانَ
Rasulullah ﷺ bertanya kepada seseorang: "Apakah kamu telah berpuasa di surar bulan Syaban?" Ia menjawab, "Tidak." Beliau bersabda: "Jika kamu telah usai menunaikan puasa Ramadlan, maka berpuasalah dua hari." (HR Al-Bukhari)
Sedangkan kalangan Mazhab Hanbali memakruhkan puasa Nisfu Sya'ban berdasarkan hadits: "Apabila sudah masuk pada pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kamu berpuasa sampai menjelang bulan Ramadhan." (HR. Ahmad)
2. Menghidupkan Malam Nisfu Sya'ban dengan Berjamaah
Mayoritas ulama memakruhkan melakukan ibadah Nisfu Syaban dengan ibadah yang dikerjakan secara berjamaah.
جمهور الفقهاء على كراهة الاجتماع لإحياء ليلة النصف من شعبان
Artinya: "Mayoritas ahli fiqih berpendapat makruh hukumnya melaksanakan ibadah secara bersama-sama pada malam Nisfu Syaban." [Al-Mausu'ah Fiqhiyyah ]
Bahkan sebagiannya di antaranya Imam Atha dan Ibnu Abi Mulaikah tegas mengatakan hal ini sebagai bentuk ibadah yang hukumnya bid'ah munkarah (bid'ah yang hukumnya haram). [Mawahib al-Jalil (1/74), al-Harsyi (1/366)]
Imam Ibnu Rajab Al-Hambali (ulama Mazhab Hambali) berkata: "Dimakruhkan berkumpul di masjid untuk shalat dan membacakan cerita, serta berdoa. Akan tetapi tidak dimakruhkan melakukan sholat sendiri. Dan ini pendapat Imam Al-Auza'iy Imamnya penduduk Syam, serta ulama fiqih mereka dan juga para ahli ilmu mereka. Dan ini pendapat yang lebih baik (untuk diamalkan) insya Allah." [Lathaif al- Ma'arif hal 137]
Berkata Ibnu Shalah Asy-Syafi'i (ulama Mazhab Syafii) rahimahullah: "Dan adapun malam Nisfu Syaban, maka ia memiliki fadhilah. Menghidupkannya dengan ibadah adalah sunnah, namun dikerjakan dengan sendiri-sendiri." [Al Musajalah hal 43]
Mayoritas ulama Mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi'i berpendapat tentang kebolehan berpuasa Nisfu Sya'ban dan sehari setelahnya. Hal ini didasarkan kepada sebuah hadits berikut:
أَنَّ رَسُول اللَّهِ ﷺ قَال: يَا فُلاَنُ أَمَا صُمْتَ سُرَرَ هَذَا الشَّهْرِ؟ قَال الرَّجُل: لاَ يَا رَسُول اللَّهِ، قَال: فَإِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ مِنْ سُرَرِ شَعْبَانَ
Rasulullah ﷺ bertanya kepada seseorang: "Apakah kamu telah berpuasa di surar bulan Syaban?" Ia menjawab, "Tidak." Beliau bersabda: "Jika kamu telah usai menunaikan puasa Ramadlan, maka berpuasalah dua hari." (HR Al-Bukhari)
Sedangkan kalangan Mazhab Hanbali memakruhkan puasa Nisfu Sya'ban berdasarkan hadits: "Apabila sudah masuk pada pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kamu berpuasa sampai menjelang bulan Ramadhan." (HR. Ahmad)
2. Menghidupkan Malam Nisfu Sya'ban dengan Berjamaah
Mayoritas ulama memakruhkan melakukan ibadah Nisfu Syaban dengan ibadah yang dikerjakan secara berjamaah.
جمهور الفقهاء على كراهة الاجتماع لإحياء ليلة النصف من شعبان
Artinya: "Mayoritas ahli fiqih berpendapat makruh hukumnya melaksanakan ibadah secara bersama-sama pada malam Nisfu Syaban." [Al-Mausu'ah Fiqhiyyah ]
Bahkan sebagiannya di antaranya Imam Atha dan Ibnu Abi Mulaikah tegas mengatakan hal ini sebagai bentuk ibadah yang hukumnya bid'ah munkarah (bid'ah yang hukumnya haram). [Mawahib al-Jalil (1/74), al-Harsyi (1/366)]
Imam Ibnu Rajab Al-Hambali (ulama Mazhab Hambali) berkata: "Dimakruhkan berkumpul di masjid untuk shalat dan membacakan cerita, serta berdoa. Akan tetapi tidak dimakruhkan melakukan sholat sendiri. Dan ini pendapat Imam Al-Auza'iy Imamnya penduduk Syam, serta ulama fiqih mereka dan juga para ahli ilmu mereka. Dan ini pendapat yang lebih baik (untuk diamalkan) insya Allah." [Lathaif al- Ma'arif hal 137]
Berkata Ibnu Shalah Asy-Syafi'i (ulama Mazhab Syafii) rahimahullah: "Dan adapun malam Nisfu Syaban, maka ia memiliki fadhilah. Menghidupkannya dengan ibadah adalah sunnah, namun dikerjakan dengan sendiri-sendiri." [Al Musajalah hal 43]
Lihat Juga :