Biografi Abu Hasan Al-Asy'ari, Imam Besar Ahli Sunnah Wal Jamaah

Selasa, 07 Maret 2023 - 23:52 WIB
loading...
Biografi Abu Hasan Al-Asyari,...
Imam Abu Hasan Al-Asyari (260-324 H) dikenal sebagai ulama pendiri manhaj Ahlu Sunnah waljamaah. Foto/dok Buku Abdul Qadir Muhammad Al-Husain
A A A
Sosok ulama satu ini pasti tak asing bagi umat muslim karena dikenal sebagai pendiri manhaj Ahlu Sunnah Waljamaah. Beliau adalah Imam Abu Hasan Al-Asy'ari, kelahiran Basrah Irak pada abad ke-3 Hijriyah.

Ulama yang lahir pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah merupakan peletak dasar paham Al-Asy'ariyah yang diikuti mayoritas muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Kelahiran
Imam Abu-Hasan Al-Asy'ari lahir di Basrah Irak pada Tahun 260 Hijriyah atau 873 Masehi dan wafat di Baghdad pada Tahun 324 H (Tahun 935 M). Beliau lahir 55 tahun setelah Imam Syafi'i meninggal dunia.

Nasabnya tersambung kepada Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat Nabi terkemuka yang dikenal sebagai ahli Qur'an. Nama Al-Asy'ari ini merupakan nisbah kepada Abu Musa Al-Asy'ari. Imam Al-Asy'ari sendiri memili nasab lengkap yaitu Ali bin Isma'il bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy'ari.

Manhajnya yang moderat dan berimbang membuatnya memiliki banyak pengikut yang hingga hari ini dikenal dengan golongan Ahlu Sunnah Waljamaah. Ahlu Sunnah Waljama'ah adalah sebuah aliran yang dibangun Abu Hasan Al-Asy'ari yang sering disebut "Teologi Moderat". Paham Al-Asy'ari ini menggunakan argument tekstual yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah seperti yang dilakukan ulama ahli Hadis. Selain itu juga menggunakan argumen rasional berupa mantik.

Sejarah Al-Asy'ari
Al-Asy'ari adalah murid dari seorang tokoh Muktazilah yaitu Abu 'Ali Al-Jubbai. Ibnu 'Asakir mengatakan bahwa Al-Asy'ari belajar terus bersama gurunya itu selama 40 tahun, sehingga Al-Asy'ari menjadi seorang tokoh Muktazilah. Karena kepintaran serta keluasan ilmunya, ia sering mewakili gurunya itu dalam berdiskusi.

Namun pada perkembangannya, Al-Asy'ari menjauhkan diri dari pemikiran Muktazilah dan selanjutnya condong kepada pemikiran para fuqaha dan ahli Hadis. Ibnu 'Asakir menceritakan bahwa pada suatu malam Al-Asy'ari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpinya itu, Nabi menyuruhnya meninggalkan paham Muktazilah, dan supaya ia membela sunnahnya.

Untuk diketahui, pada Tahun 827 M masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah, Al-Makmun dilanjutkan dua khalifah setelahnya, paham Muktazilah menjadi mahzab resmi negara. Serangan Mu'tazilah terhadap para ulama fuqaha dan muhaddisin yang menolaknya kian gencar.

Tak seorang pun yang luput dari gempuran mereka. Bahkan ulama ahli Hadis Imam Ahmad bin Hanbal disiksa oleh penguasa Abbasiyah yang dipengaruhi paham Muktazilah kala itu. Paham Muktazilah mencapai puncaknya pada pemerintahan Dinasti Abbasiyah selama kurun waktu 813-847 M. Setelah Al-Mutawakkil menjadi khalifah barulah aliran Muktazilah dihentikan sebagai mazhab resmi negara di Tahun 848 M.

Beliaulah khalifah yang menjauhkan pengaruh Muktazilah dari pemerintahan. Beliau membebaskan para ulama yang dipenjarakan oleh khalifah terdahulu. Pada masa itu muncul dua tokoh ulama menonjol yaitu Abul Hasan Al-Asy'ari di Bashrah dan Abu Mansur Al-Maturidi di Samarkand. Keduanya bersatu melakukan bantahan terhadap Muktazilah, kendati di antara mereka terdapat pula perbedaan. Namun, dalam perkara akidah mereka cenderung sama.

Salah satu riwayat asal mula Abul Hasan Al-Asy'ari terpanggil membela manhaj Ahlus sunnah wal Jamaah dicatat oleh Ibnu as-Sakir:

فحكي عنه أنه قال وقع في صدري بعض الليالي شيء مما كنت فيه من العقائد فقمت وصليت ركعتين وسألت الله تعالى ان يهديني الطريق المستقيم ونمت فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فشكوت إليه بعض ما بي من الأمر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم عليك بسنتي فانتبهت وعارضت مسائل الكلام بما وجدت في القرآن والأخبار فأثبته ونبذت ما سواه وراء ظهري.

"Dikisahkan darinya, bahwa ia berkata 'Terbenak di hatiku (Abu al-Hasan al-Asy'ari), beberapa permasalahan dalam ilmu aqidah. Maka, aku pun berdiri untuk menjalankan sholat dua rakaat. Dan aku meminta kepada Allah agar Dia memberikanku petunjuk menuju jalan yang lurus. Aku pun tertidur, tak lama kemudian aku bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam mimpi. Aku pun mengadukan beberapa permasalahan kepada beliau. Rasulullah mewasiatkan, "Tetapilah sunnah-ku." Aku pun terbangun dan aku membandingkan beberapa permasalahan ilmu aqidah dengan dalil yang aku temukan di dalam Al-Qur'an dan hadits. Kemudian, aku menetapkan dan aku membuang lainnya di balik punggungku." (Ibnu as-Sakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, hal 37)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Rekomendasi
Ombak Setinggi 6 Meter...
Ombak Setinggi 6 Meter Diprediksi Akan Menggulung Perairan Bali
Arkeolog Temukan Tiga...
Arkeolog Temukan Tiga Kerangka Mammoth di Gudang Anggur
Teliti Bencana Kebakaran...
Teliti Bencana Kebakaran Hutan, Ilmuwan Temukan Keajaiban pada Pohon
Artikel Terkini
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
3 Puasa Sunnah Muharram...
3 Puasa Sunnah Muharram yang Pahala Tidak Main-main!
Sebaik-baikya Puasa...
Sebaik-baikya Puasa Setelah Ramadan, Ternyata Puasa Muharram!
Wamenhaj Ungkap Dugaan...
Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp1,4 M Modus Dam dan Badal Haji
Larangan Menikah di...
Larangan Menikah di Bulan Suro: Bagaimana Pandangan Islam?
Doa Memasuki Tahun Baru...
Doa Memasuki Tahun Baru Islam, Jangan Lupa Diamalkan!
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved