Kisah Nabi SAW Mencintai Pamannya, tapi Menolak Memberi Jabatan di Pemerintahan
Jum'at, 10 Maret 2023 - 11:56 WIB
loading...
Rasulullah menolak memberi jabatan di pemerintahan kepada pamannya Abbas, padahal sang paman sangat pintar. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Rasulullah SAW sangat mencintai pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib ra . Kendati demikian, beliau tidak memberi jabatan di pemerintahan kepada Abbas padahal sang paman sangat menginginkan jabatan tersebut.
Diriwayatkan, pada suatu hari, Abbas bin Abdul Muthalib datang menghadap Rasulullah SAW dan bermohon dengan penuh harap, "Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat pemerintahan?"
Paman Nabi SAW ini adalah seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang, namun Rasulullah SAW tidak ingin mengangkat kerabatnya menjadi kepala pemerintahan.
Baca juga: Kisah Sahabat Nabi Berpura-pura Buka Puasa
Ia tidak ingin pamannya dibebani tugas pemerintahan. la menjawab harapan pamannya itu dengan manis dan penuh pengertian. "Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan."
Ternyata Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah SAW tetapi malah Ali bin Abi Thalib ra yang kurang puas. la lalu berkata kepada Abbas, "Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut sedekah!"
Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah SAW untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali bin Abi Thalib itu, lalu Rasulullah bersabda kepadanya, “Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang."
Rasulullah SAW seorang yang paling akrab dan paling kasih kepada pamannya ini. Namun beliau tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah. Bahkan Abbas tidak diberi kesempatan dan harapan mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.
Untuk yang ketiga kalinya, pamannya itu datang menghadapnya dan berharap dengan penuh kerendahan hati, "Aku ini pamanmu, usiaku sudah lanjut, dan ajalku sudah hampir. Ajarilah aku sesuatu yang kiranya berguna bagiku di sisi Allah!"
Rasulullah SAW menjawab, "Ya Abbas, engkau pamanku dan aku tidak berdaya sedikitpun dalam masalah yang berkenaan dengan Allah, tetapi mohonlah selalu kepada Tuhanmu ampunan dan kesehatan!"
Baca juga: Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Paling Miskin
Membela sang Paman
Rasulullah SAW tidak memberi jabatan di pemerintahan kepada pamannya itu bukan karena tak cinta. Kecintaan Nabi terhadap pamannya ditunjukkan dengan jelas ketika beliau sangat gusar tatkala sang paman mendapat ancaman orang lain.
Diriwayatkan, pada suatu hari, Abbas bin Abdul Muthalib datang menghadap Rasulullah SAW dan bermohon dengan penuh harap, "Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat pemerintahan?"
Paman Nabi SAW ini adalah seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang, namun Rasulullah SAW tidak ingin mengangkat kerabatnya menjadi kepala pemerintahan.
Baca juga: Kisah Sahabat Nabi Berpura-pura Buka Puasa
Ia tidak ingin pamannya dibebani tugas pemerintahan. la menjawab harapan pamannya itu dengan manis dan penuh pengertian. "Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan."
Ternyata Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah SAW tetapi malah Ali bin Abi Thalib ra yang kurang puas. la lalu berkata kepada Abbas, "Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut sedekah!"
Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah SAW untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali bin Abi Thalib itu, lalu Rasulullah bersabda kepadanya, “Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang."
Rasulullah SAW seorang yang paling akrab dan paling kasih kepada pamannya ini. Namun beliau tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah. Bahkan Abbas tidak diberi kesempatan dan harapan mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.
Untuk yang ketiga kalinya, pamannya itu datang menghadapnya dan berharap dengan penuh kerendahan hati, "Aku ini pamanmu, usiaku sudah lanjut, dan ajalku sudah hampir. Ajarilah aku sesuatu yang kiranya berguna bagiku di sisi Allah!"
Rasulullah SAW menjawab, "Ya Abbas, engkau pamanku dan aku tidak berdaya sedikitpun dalam masalah yang berkenaan dengan Allah, tetapi mohonlah selalu kepada Tuhanmu ampunan dan kesehatan!"
Baca juga: Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Paling Miskin
Membela sang Paman
Rasulullah SAW tidak memberi jabatan di pemerintahan kepada pamannya itu bukan karena tak cinta. Kecintaan Nabi terhadap pamannya ditunjukkan dengan jelas ketika beliau sangat gusar tatkala sang paman mendapat ancaman orang lain.
Lihat Juga :