Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Paling Miskin

loading...
Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Paling Miskin
Sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling miskin dan sepanjang hidupnya tetap miskin boleh jadi adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Foto/Ilustrasi: Ist
Sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling miskin dan sepanjang hidupnya tetap miskin boleh jadi adalah Abu Dzar Al-Ghifari . Ada juga sahabat Nabi yang menjalani hidup miskin seperti Ali bin Abu Thalib , Salman Al-Farisi , dan Said bin Amir Al Jumahy . Kendati sudah menjadi pejabat tinggi, mereka tetap miskin. Ali sempat menjadi khalifah, Salman dan Said menjadi gubernur.

Banyak sahabat Nabi Muhammad SAW di awal-awal Islam memang hidup miskin, hanya saja di kemudian hari menjadi berkecukupan. Mereka menjadi kaya karena diangkat menjadi pejabat sepeninggal Rasulullah SAW.Sebut saja, misalnya, Abu Hurairah .

Pada masa Nabi, Abu Hurairah sangat miskin sehingga bisa menghabiskan waktunya sehari-hari untuk menemani Nabi SAW. Sejak kecil, penggemar kucing ini sudah bergelut dengan kemiskinan. Sahabat Nabi bernama asli Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi merupakan periwayat hadis yang paling produktif.

Hanya saja, pada era Khalifah Umar bin Khattab beliau terbilang kaya, karena sempat menjadi Gubernur Bahrain. Dia kedapatan menyimpan uang sebanyak 10 ribu Dinar.

Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (6): Menyusul Anak, Istri, Meninggal di Pengasingan

Abu Dzar Al-Ghifari
Abu Dzar Al Ghifari menghadap Sang Khalik di tempat pembuangannya di Rabadzah. Ia mati kelaparan bersama isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan.

Abu Dzar Al-Ghifari meninggal di pengasingan pada era pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan . Ia menyusul istri dan putranya yang meninggal terlebih dahulu. Tinggal putrinya seorang yang bertahan.

Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul "Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah" menceritakan pada waktu perang Tabuk, tahun 9 Hijriyah, Rasulullah beserta sahabat sedang dalam perjalanan dalam rangka menghadang pasukan Romawi yang telah berkumpul di suatu tempat. Karena medan yang sulit dan cuaca yang teramat panas terik, dan ada beberapa Muslim yang pergi belakangan, maka rombongan pasukan Muslim menjadi terpisah-pisah.

Begitu pula dengan Abu Dzar, dia terpisah dari rombongan utama karena keledainya melambat. Keledai tersebut kelelahan karena perjalanan yang panjang ditambah terik matahari membuatnya kelaparan dan kehausan. Maka Abu Dzar memutuskan untuk berjalan kaki saja, lalu dipikulnya sendiri barang-barangnya. Dia mempercepat langkahnya agar dapat segera menyusul Rasulullah SAW.

Di suatu pagi, kaum Muslimin tengah beristirahat di suatu tempat, tiba-tiba salah seorang melihat kepulan debu di kejauhan, sedang di depannya terlihat seorang lelaki yang berjalan cepat. “Wahai Rasulullah, itu ada seorang lelaki berjalan seorang diri!” serunya.

“Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar,” kata Rasulullah.

Setelah dia dekat dengan rombongan, seseorang berseru, “Wahai Rasulullah! Demi Allah dia Abu Dzar!”

Tibalah Abu Dzar di hadapan Rasulullah dengan wajah gembira. Maka tersenyumlah Rasulullah, senyuman yang menyiratkan kesantunan dan belas kasihan, seraya berkata:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Dia berjalan sebatang kara, meninggal sebatang kara, dan dibangkitkan nanti sebatang kara.”

Setelah lebih dari 20 tahun lalu sejak kejadian tersebut, Abu Dzar wafat di padang pasir Rabzah sebatang kara, setelah sebatang kara dia menempuh hidup yang luar biasa yang seorangpun tidak dapat menyamainya.

Dan dalam lembaran sejarah, dia muncul hanya sebatang kara—yakni orang satu-satunya—baik dalam keagungan zuhud maupun keluhuran cita, dan kemudian dia akan dibangkitkan di sisi Allah sebagai tokoh satu-satunya juga, karena dengan segala amalannya, tidak ada seorang pun yang memadai untuk berdampingan dengannya.

Baca juga: Kisah Selimut Kumal dan Kesederhaaan Ali Bin Abu Thalib

Ali bin Abu Thalib
Ali bin Abu Thalib adalah khalifah yang hidup serba kekurangan secara ekonomi. "Pada suatu hari aku datang ke rumah Ali bin Abu Thalib. Ia sedang duduk di balai-balai berselimut kain kumal. Waktu itu musim dingin," ujar Harun bin Antarah menceritakan penyaksian ayahnya.

Lalu, Antarah berkata pada Ali. "Ya Amiral Mukminin, Allah telah memberi hak kepada anda dan kepada keluarga anda untuk menerima sebagian dari harta Baitul Mal. Mengapa anda berbuat seperti itu terhadap diri anda sendiri?"

"Demi Allah," sahut Ali bin Abu Thalib, "Aku tidak mau mengurangi hak kalian walau sedikit. Ini adalah selimut yang kubawa sewaktu keluar meninggalkan Madinah."
halaman ke-1
preload video