Pandangan Kaum Sunni tentang Ta'wil Sebagai Metodologi Penafsiran Al-Qur'an
Rabu, 29 Maret 2023 - 14:15 WIB
loading...
Jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati, maka bagaikan membuka Kotak Pandora. Foto/Ilustrasi: dok SINDOnews
A
A
A
Pandangan kaum Sunni tentang ta'wil sebagai metodologi penafsiran Al-Qur'an disampaikan Cendekiawan Muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid, MA (17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005) atau populer dipanggil Cak Nur dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah". Sebelum Cak Nur mengarah ke sana ia menjelaskan tentang paham Sunni terlebih dahulu.
Menurut Cak Nur, dari satu segi, pertumbuhan historis paham Sunni merupakan gabungan dua komponen, yang pertama komponen ideologis, dan yang kedua komponen politik pragmatis.
Menurutnya, yang ideologis ialah "Aliran Penduduk Madinah" (Madzhab Ahl al-Madinah) seperti dikemukakan mereka yang tak mau terlibat dalam pertikaian-pertikaian politik saat itu, khususnya antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah bin Abu Sofyan beserta pengikut masing-masing.
Mereka ini dipelopori Abdullah ibn Umar , Muhammad ibn Maslamah, Said ibn Abi Waqqash, Usamah ibn Zayd, Abu Bakrah, dan Imran ibn Hasyim. Bahkan, menurut Ibn Taimiyah dalam "Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah", mazab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun).
Baca juga: 4 Metode Penafsiran Al-Qur'an dan Macam-macam Tafsirnya
Menurut Cak Nur, mengutip Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek dalam Tarikh al-Tasyri' al-lslami yang politik pragmatis, ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus, Syria. Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah).
"Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil," ujar Cak Nur saat membahas masalah ta'wil sebagai metodologi penafsiran al-Quran.
Menurut Cak Nur, kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis, tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai.
Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-- sangat mengkhawatirkan, pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak. Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati, maka bagaikan membuka Kotak Pandora, semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan, sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti.
Interpretasi metaforis atau ta'wil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik--yang tak terjangkau masyarakat banyak-- tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah.
Menurut Cak Nur, dari satu segi, pertumbuhan historis paham Sunni merupakan gabungan dua komponen, yang pertama komponen ideologis, dan yang kedua komponen politik pragmatis.
Menurutnya, yang ideologis ialah "Aliran Penduduk Madinah" (Madzhab Ahl al-Madinah) seperti dikemukakan mereka yang tak mau terlibat dalam pertikaian-pertikaian politik saat itu, khususnya antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah bin Abu Sofyan beserta pengikut masing-masing.
Mereka ini dipelopori Abdullah ibn Umar , Muhammad ibn Maslamah, Said ibn Abi Waqqash, Usamah ibn Zayd, Abu Bakrah, dan Imran ibn Hasyim. Bahkan, menurut Ibn Taimiyah dalam "Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah", mazab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun).
Baca juga: 4 Metode Penafsiran Al-Qur'an dan Macam-macam Tafsirnya
Menurut Cak Nur, mengutip Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek dalam Tarikh al-Tasyri' al-lslami yang politik pragmatis, ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus, Syria. Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah).
"Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil," ujar Cak Nur saat membahas masalah ta'wil sebagai metodologi penafsiran al-Quran.
Menurut Cak Nur, kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis, tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai.
Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-- sangat mengkhawatirkan, pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak. Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati, maka bagaikan membuka Kotak Pandora, semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan, sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti.
Interpretasi metaforis atau ta'wil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik--yang tak terjangkau masyarakat banyak-- tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah.
Lihat Juga :