Pandangan Kaum Sunni tentang Ta'wil Sebagai Metodologi Penafsiran Al-Qur'an
Rabu, 29 Maret 2023 - 14:15 WIB
loading...
A
A
A
Sebaliknya, kata Cak Nur, menutup samasekali kemungkinan mengadakan ta'wil akan menghadapkan orang-orang Muslim yang serius pada kesulitan mengartikan berbagai pelukisan tentang Tuhan yang antropomorfis. "Yakni, menyerupai manusia; misalnya, keterangan dalam al-Qur'an bahwa Tuhan mempunyai tangan, wajah dan mata, bahwa Dia bertahta di Singgasana, merasa senang dan tidak senang, dan seterusnya," ujar Cak Nur.
Baca juga: Perkembangan Penafsiran Ilmiah Al-Qur'an, Bermula pada Masa Dinasti Abbasiyah
Menurutnya, pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding, dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga.
Paling jauh, jika mereka tidak melakukan interpretasi, mereka tetap menolak antropomorfisme, dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan, wajah, mata dan lain-lain, namun tangan, wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti manusia, dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa).
"Inilah metode al-Asy'ari, rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah," ujar Cak Nur mengutip Abu al-Hasan al-Asy'ari dalam al-Ibanah'an Ushul al-Diyanah.
Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini, Ibn Taimiyah mengemukakan pandangan yang cukup menarik.
Berdasarkan firman Allah, "Kitab Suci penuh berkah, yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad), agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya, dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [QS Shad : 29]
Baca juga: Kaum Kebatinan dalam Islam Menurut Cak Nur
Ibn Taimiyah dalam kitab "al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil" mengatakan bahwa yang harus direnungkan itu ialah semua ayat-ayat al-Qur'an, baik yang muhkamat maupun mutasyabihat. Hanya hal-hal yang maknanya tak masuk akal saja yang tidak direnungkan, dan hal yang tak masuk akal itu tak ada dalam al-Qur'an.
Maka Allah memuji mereka yang merenungkan firman-firman-Nya, baik yang muhkamat maupun yang mutasyabihat, sebagaimana perintah untuk itu dapat dipahami dari firman-Nya, "Apakah mereka (manusia) tidak merenungkan al-Qur'an, ataukah sebenarnya hati mereka telah tersumbat?" (QS Muhammad:24)
Baca juga: Perkembangan Penafsiran Ilmiah Al-Qur'an, Bermula pada Masa Dinasti Abbasiyah
Menurutnya, pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding, dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga.
Paling jauh, jika mereka tidak melakukan interpretasi, mereka tetap menolak antropomorfisme, dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan, wajah, mata dan lain-lain, namun tangan, wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti manusia, dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa).
"Inilah metode al-Asy'ari, rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah," ujar Cak Nur mengutip Abu al-Hasan al-Asy'ari dalam al-Ibanah'an Ushul al-Diyanah.
Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini, Ibn Taimiyah mengemukakan pandangan yang cukup menarik.
Berdasarkan firman Allah, "Kitab Suci penuh berkah, yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad), agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya, dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [QS Shad : 29]
Baca juga: Kaum Kebatinan dalam Islam Menurut Cak Nur
Ibn Taimiyah dalam kitab "al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil" mengatakan bahwa yang harus direnungkan itu ialah semua ayat-ayat al-Qur'an, baik yang muhkamat maupun mutasyabihat. Hanya hal-hal yang maknanya tak masuk akal saja yang tidak direnungkan, dan hal yang tak masuk akal itu tak ada dalam al-Qur'an.
Maka Allah memuji mereka yang merenungkan firman-firman-Nya, baik yang muhkamat maupun yang mutasyabihat, sebagaimana perintah untuk itu dapat dipahami dari firman-Nya, "Apakah mereka (manusia) tidak merenungkan al-Qur'an, ataukah sebenarnya hati mereka telah tersumbat?" (QS Muhammad:24)
Lihat Juga :