Gebyar Nuzulul Qur'an, Kemenag Pamerkan 9 Mushaf Al-Qur'an Fenomenal untuk Mengedukasi Masyarakat
Rabu, 12 April 2023 - 05:48 WIB
loading...
A
A
A
Senada dengan Eny, Kepala Balitbang Diklat Kemenag Suyitno mengatakan bahwa pameran yang dilakukan memiliki dua tujuan. Pertama, untuk mengedukasi masyarakat agar mengetahui apa saja yang dimiliki Kemenag dan bagaimana cara mengaksesnya.
Kedua, pameran yang digelar bertujuan untuk memberikan informasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait produk-produk yang dimiliki LPMQ.
“Misalnya ambil contoh, ada hal yang sangat genuine yaitu proses tashih Qur’an. Saya kira tidak banyak orang yang tahu bagaimana proses tashih Qur’an ini. Kita juga punya produk mushaf Al-Qur’an untuk masyarakat berkebutuhan khusus, yaitu Qur’an Braile dan Qur’an Isyarat,” ungkap Suyitno.
“Makanya dengan melakukan pameran ini masyarakat menjadi tahu dan kemudian mereka bisa mengakses mendapatkan sumber-sumber pembelajaran ini,” ujar nya.
Selain pameran produk, dalam Gebyar Nuzulul Qur’an juga dibuka Konsultasi Layanan Tashih Al-Qur’an, pameran Kaligrafi Batik, serta penyerahan hadiah bagi pemenang lomba membaca Al-Qur’an Braille dan Al-Qur’an Isyarat.
![Gebyar Nuzulul Qur'an, Kemenag Pamerkan 9 Mushaf Al-Qur'an Fenomenal untuk Mengedukasi Masyarakat]()
Mushaf kecil ini bisa disebut Mushaf Qur'an Istanbul, atau Istambul, atau Stambul, lantaran dahulu dicetak di Istanbul, Turki. Mushaf ini berukuran 3 x 4 cm, 2 x 3 cm dan 1,5 x 2,5cm. Karena ukurannya sebagian teks Qur'an kecil dapat dibaca, tetapi sebagian lain tidak bisa, karena bergantung kualitas cetakannya.
Sebagian cetakannya juga memakai tinta emas, yang kemungkinan untuk memberi kesan mewah. Sehingga biasanya Mushaf Al-Qur'an kecil seperti ini didapatkan untuk buah tangan atau kenangan dari pelaksanaan ibadah haji.
![Gebyar Nuzulul Qur'an, Kemenag Pamerkan 9 Mushaf Al-Qur'an Fenomenal untuk Mengedukasi Masyarakat]()
Mushaf ini dinobatkan sebagai salah satu mushaf terbesar di Indonesia. Mushaf ini berukuran halaman 150 x 200 cm, dengan berat 300 kg. Penulis mushaf terbesar ini 2 santri dari Pondok Pesantren Al-Asy'ariyah, Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah, sehingga mushaf ini disebut dengan Mushaf Wonosobo. Penulisan mushaf ini menghabiskan waktu setahun, mulai 16 Oktober 1991 hingga 7 Desember 1992.
![Gebyar Nuzulul Qur'an, Kemenag Pamerkan 9 Mushaf Al-Qur'an Fenomenal untuk Mengedukasi Masyarakat]()
Al-Qur'an ini ditulis atas prakarsa Presiden Soekarno dan merupakan mushaf resmi yang dianggap sebagai hadiah umat Islam Indonesia untuk kemerdekaan RI. Mushaf ini ditulis oleh seorang kaligrafer bernama Prof. H. Salim Fachry, yang merupakan guru besar IAIN Jakarta. Mushaf berukuran 75 x 100 cm ini ditulis pada 23 Juni 1948 (17 Ramadhan 1367 H), dan selesai pada 15 Maret 1950. Ukuran mushaf.
![Gebyar Nuzulul Qur'an, Kemenag Pamerkan 9 Mushaf Al-Qur'an Fenomenal untuk Mengedukasi Masyarakat]()
Penulisan mushaf ini selama lebih kurang 4 tahun, sejak 15 Oktober 1991 sampai 23 September 1995, yang mana bertepatan dengan perayaan 50 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Kedua, pameran yang digelar bertujuan untuk memberikan informasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait produk-produk yang dimiliki LPMQ.
“Misalnya ambil contoh, ada hal yang sangat genuine yaitu proses tashih Qur’an. Saya kira tidak banyak orang yang tahu bagaimana proses tashih Qur’an ini. Kita juga punya produk mushaf Al-Qur’an untuk masyarakat berkebutuhan khusus, yaitu Qur’an Braile dan Qur’an Isyarat,” ungkap Suyitno.
“Makanya dengan melakukan pameran ini masyarakat menjadi tahu dan kemudian mereka bisa mengakses mendapatkan sumber-sumber pembelajaran ini,” ujar nya.
Selain pameran produk, dalam Gebyar Nuzulul Qur’an juga dibuka Konsultasi Layanan Tashih Al-Qur’an, pameran Kaligrafi Batik, serta penyerahan hadiah bagi pemenang lomba membaca Al-Qur’an Braille dan Al-Qur’an Isyarat.
Adapun Sembilan Mushaf Fenomenal yang dipamerkan, sebagai berikut:
1. Mushaf Al-Qur’an Terkecil (Mushaf Istanbul)

Mushaf kecil ini bisa disebut Mushaf Qur'an Istanbul, atau Istambul, atau Stambul, lantaran dahulu dicetak di Istanbul, Turki. Mushaf ini berukuran 3 x 4 cm, 2 x 3 cm dan 1,5 x 2,5cm. Karena ukurannya sebagian teks Qur'an kecil dapat dibaca, tetapi sebagian lain tidak bisa, karena bergantung kualitas cetakannya.
Sebagian cetakannya juga memakai tinta emas, yang kemungkinan untuk memberi kesan mewah. Sehingga biasanya Mushaf Al-Qur'an kecil seperti ini didapatkan untuk buah tangan atau kenangan dari pelaksanaan ibadah haji.
2. Mushaf Al-Qur’an Terbesar, Mushaf Wonosobo (1992)

Mushaf ini dinobatkan sebagai salah satu mushaf terbesar di Indonesia. Mushaf ini berukuran halaman 150 x 200 cm, dengan berat 300 kg. Penulis mushaf terbesar ini 2 santri dari Pondok Pesantren Al-Asy'ariyah, Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah, sehingga mushaf ini disebut dengan Mushaf Wonosobo. Penulisan mushaf ini menghabiskan waktu setahun, mulai 16 Oktober 1991 hingga 7 Desember 1992.
3. Mushaf Al-Qur’an Kenegaraan Pertama, Mushaf Pusaka

Al-Qur'an ini ditulis atas prakarsa Presiden Soekarno dan merupakan mushaf resmi yang dianggap sebagai hadiah umat Islam Indonesia untuk kemerdekaan RI. Mushaf ini ditulis oleh seorang kaligrafer bernama Prof. H. Salim Fachry, yang merupakan guru besar IAIN Jakarta. Mushaf berukuran 75 x 100 cm ini ditulis pada 23 Juni 1948 (17 Ramadhan 1367 H), dan selesai pada 15 Maret 1950. Ukuran mushaf.
4. Mushaf Terindah (Mushaf Istiqlal)

Penulisan mushaf ini selama lebih kurang 4 tahun, sejak 15 Oktober 1991 sampai 23 September 1995, yang mana bertepatan dengan perayaan 50 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Lihat Juga :