Berhias Diri dengan Sifat Tawadhu'
Senin, 20 Juli 2020 - 18:42 WIB
loading...
Role model dari kecantikan seorang muslimah adalah meraka yang dihiasi oleh sifat tawadhu. Foto ilustrasi/pinterest
A
A
A
Cantik menurut Islam adalah cantik yang muncul dari unsur jasmani dan rohani . Tidak hanya cantik fisik tapi juga cantik hati dan akhlaknya. Cantik yang disandarkan pada Allah Ta'ala.
Agar dapat tampil cantik secara jasmani, muslimah perlu memperhatikan kebersihan tubuh, menutup aurat , dan menggunakan pakaian yang sopan. Sedangkan cantik secara rohani yaitu, menjaga ketaatan hati pada Allah Ta'ala dan amalnya.
Role model dari kecantikan ini, adalah muslimah yang dihiasi oleh sifat tawadhu'. Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ia adalah hati yang ikhlas, memperuntukkan ibadah hanya kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Orang yang demikian adalah orang yang paling berbahagia. Dadanya paling lapang. Sangat dekat kepada Allah Ta'ala dan jauh dari maksiat kepada Allah. (Baca juga : Ingin Curhat? Carilah Tempatnya Sesuai Syariat )
Allah berfirman:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Rum: 21)
Allah Ta'ala melihat bagaimana ibadah seorang hamba. Apakah ibadah tersebut ibadah yang ikhlas karena Allah? Apakah ibadah itu sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tata cara penunaiannya? Jika tidak sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam penunaiannya, maka amalan tersebut tertolak. Tidak pandang betapa banyak amalannya.
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).
Dijelaskan juga oleh Beliau :
Agar dapat tampil cantik secara jasmani, muslimah perlu memperhatikan kebersihan tubuh, menutup aurat , dan menggunakan pakaian yang sopan. Sedangkan cantik secara rohani yaitu, menjaga ketaatan hati pada Allah Ta'ala dan amalnya.
Role model dari kecantikan ini, adalah muslimah yang dihiasi oleh sifat tawadhu'. Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ia adalah hati yang ikhlas, memperuntukkan ibadah hanya kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Orang yang demikian adalah orang yang paling berbahagia. Dadanya paling lapang. Sangat dekat kepada Allah Ta'ala dan jauh dari maksiat kepada Allah. (Baca juga : Ingin Curhat? Carilah Tempatnya Sesuai Syariat )
Allah berfirman:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Rum: 21)
Allah Ta'ala melihat bagaimana ibadah seorang hamba. Apakah ibadah tersebut ibadah yang ikhlas karena Allah? Apakah ibadah itu sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tata cara penunaiannya? Jika tidak sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam penunaiannya, maka amalan tersebut tertolak. Tidak pandang betapa banyak amalannya.
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).
Dijelaskan juga oleh Beliau :
Lihat Juga :