Memaknai Keberkahan Ramadan (18): Mendorong Manusia untuk Berbuat Ihsan
Selasa, 18 April 2023 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu wujud nyata dari qalbun saliim itu adalah hilangnya rasa ghill (sakit hati) kepada sesama. Dan karenanya orang beriman itu karenanya hatinya bersih terjadi koneksi rahmah (ruhamaa bainahum). Sebaliknya jika hati kotor anak terjadi ghillun yang secara khusus dimintakan agar dijaga dari-Nya (wa laa taj'al fii quluubina ghillan).
Bulan Ramadan ini sesungguhnya bulan riyadhoh batiniyah (latihan qalbu) menuju kepada qalbun saliim tadi. Mengesampingkan makanan dan minuman sesungguhnya adalah bentuk komitmen untuk meminimalisir dominasi material dan fisikal yang menjadi kendaraan tendensi egoistik yang tinggi.
Sehingga dengan puasa ini hati semakin luas dan bersih. Yang menjadikan rasa kasih sayang itu semakin meninggi. Dengan kasih sayang itulah akan tumbuh dorongan untuk ihsan, baik pada tataran vertikal maupun juga pada tataran horizontalnya.
Berbuat baik atau ihsan dalam kacamata Islam hendaknya juga dipahami tanpa batasan-batasan kemanusiaan. Karena berbuat baik dalam Islam itu landasannya adalah rahmatan lil-'alamin. Berbuat baik untuk semua alam semesta, termasuk kepada kolega-kolega non Muslim bahkan non-human sekalipun.
Itulah salah satu makna firman Allah: "Dan berbuat baiklah kamu sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." Allah berbuat baik kepada hamba-hambaNya tanpa batas. Makan, minum, nafas dan semua fasilitas dunia diberikan baik kepada yang beriman maupun yang kafir. Itulah juga kebaikan yang Allah perintahkan kepada kita.
Semoga Ramadan membangun sisi keberkahan dalam bentuk dorongan untuk semakin berbuat baik kepada sesama. Insya Allah!
(Bersambung)!
Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (17): Mukjizat Al-Qur'an sebagai Petunjuk Jalan Lurus
Bulan Ramadan ini sesungguhnya bulan riyadhoh batiniyah (latihan qalbu) menuju kepada qalbun saliim tadi. Mengesampingkan makanan dan minuman sesungguhnya adalah bentuk komitmen untuk meminimalisir dominasi material dan fisikal yang menjadi kendaraan tendensi egoistik yang tinggi.
Sehingga dengan puasa ini hati semakin luas dan bersih. Yang menjadikan rasa kasih sayang itu semakin meninggi. Dengan kasih sayang itulah akan tumbuh dorongan untuk ihsan, baik pada tataran vertikal maupun juga pada tataran horizontalnya.
Berbuat baik atau ihsan dalam kacamata Islam hendaknya juga dipahami tanpa batasan-batasan kemanusiaan. Karena berbuat baik dalam Islam itu landasannya adalah rahmatan lil-'alamin. Berbuat baik untuk semua alam semesta, termasuk kepada kolega-kolega non Muslim bahkan non-human sekalipun.
Itulah salah satu makna firman Allah: "Dan berbuat baiklah kamu sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." Allah berbuat baik kepada hamba-hambaNya tanpa batas. Makan, minum, nafas dan semua fasilitas dunia diberikan baik kepada yang beriman maupun yang kafir. Itulah juga kebaikan yang Allah perintahkan kepada kita.
Semoga Ramadan membangun sisi keberkahan dalam bentuk dorongan untuk semakin berbuat baik kepada sesama. Insya Allah!
(Bersambung)!
Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (17): Mukjizat Al-Qur'an sebagai Petunjuk Jalan Lurus
(rhs)
Lihat Juga :