Memaknai Keberkahan Ramadan (20): Puasa Melatih Diri Mengendalikan Hawa Nafsu
Rabu, 19 April 2023 - 23:03 WIB
loading...
Imam Shamsi Ali, Dai yang juga Direktur Jamaica Muslim Center dan Presiden Nusantara Foundation. Foto/Ist
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut karena apa yang telah dilakukan oleh tangan-tangan manusia." (Al-Qur'an)
Tak dipungkiri lagi bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi di muka bumi hampir saja sempurna. Menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Dari kerusakan dan pengrusakan material dan fisikal, kerusakan pola pikir, hingga kepada kebobrokan mental dan moralitas manusia. Kerusakan itu menjadi jelas di muka bumi, baik di daratan, lautan dan udara, seperti pada kutipan ayat di Surah Ar-Rum di atas.
Berbagai kerusakan fisik/material terjadi di mana-mana. Baik karena kejahatan langsung manusia. Maupun karena kemarahan alam atau bumi yang telah bosan dengan berbagai eksploitasi dan kejahatan manusia padanya.
Peperangan-peperangan dan pembunuhan (killings) dalam banyak bentuknya telah menelan berjuta-juta manusia secara sia-sia. Bencana alam seperti gempa bumi dalam hitungan detik menelan ribuan korban, seperti di Turki dan Suriah baru-baru ini.
Pola pikir manusia juga semakin semrawut, sakit dan rusak. Sering kali realita terbolak-balik mengikut alur situasi. Yang hitam kadang dilihat putih. Yang putih dilihat hitam. Yang manis jadi pahit. Yang pahit jadi manis. Yang benar jadi salah. Dan yang salah jadi benar. Hubungan pria-wanita melalui institusi nikah jadi beban. Tapi ketika terjadi tanpa proses nikah jadi fun.
Kecenderungan mentalitas manusia juga semakin membingungkan dan destruktif. Membangun rumah tangga dan memiliki pasangan lawan jenis menjadi biasa saja. Sementara rumah tangga dengan sesama jenis menjadi luar biasa (extraordinary). Bahkan dilihat sebagai ekspresi kemanusiaan yang maju dan beradab.
Dari hari ke hari ragam in moralitas berubah seolah alami (natural) dalam kehidupan. Bahkan ragam immoralitàs itu dikampanyekan sebagai ekspresi nilai kemajuan dan modernitas. Manusia tidak saja biasa melakukan dosa dan penyelewengan. Bahkan kerap kali bangga dengan dosa-dosa dan penyelewengan itu.
Pertanyaan sederhana kemudian muncul, kenapa semua itu bisa terjadi? Ada apa dengan manusia yang secara mendasar sejatinya baik (fitrah)?
Jawabannya kembali lagi kepada bagaimana memposisikan hawa nafsu manusia yang begitu penting. Penting karena hawa nafsu menjadi engine (mesin) kehidupan. Tanpa hawa nafsu sejatinya kehidupan manusia mengalami stagnasi dan kematian.
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut karena apa yang telah dilakukan oleh tangan-tangan manusia." (Al-Qur'an)
Tak dipungkiri lagi bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi di muka bumi hampir saja sempurna. Menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Dari kerusakan dan pengrusakan material dan fisikal, kerusakan pola pikir, hingga kepada kebobrokan mental dan moralitas manusia. Kerusakan itu menjadi jelas di muka bumi, baik di daratan, lautan dan udara, seperti pada kutipan ayat di Surah Ar-Rum di atas.
Berbagai kerusakan fisik/material terjadi di mana-mana. Baik karena kejahatan langsung manusia. Maupun karena kemarahan alam atau bumi yang telah bosan dengan berbagai eksploitasi dan kejahatan manusia padanya.
Peperangan-peperangan dan pembunuhan (killings) dalam banyak bentuknya telah menelan berjuta-juta manusia secara sia-sia. Bencana alam seperti gempa bumi dalam hitungan detik menelan ribuan korban, seperti di Turki dan Suriah baru-baru ini.
Pola pikir manusia juga semakin semrawut, sakit dan rusak. Sering kali realita terbolak-balik mengikut alur situasi. Yang hitam kadang dilihat putih. Yang putih dilihat hitam. Yang manis jadi pahit. Yang pahit jadi manis. Yang benar jadi salah. Dan yang salah jadi benar. Hubungan pria-wanita melalui institusi nikah jadi beban. Tapi ketika terjadi tanpa proses nikah jadi fun.
Kecenderungan mentalitas manusia juga semakin membingungkan dan destruktif. Membangun rumah tangga dan memiliki pasangan lawan jenis menjadi biasa saja. Sementara rumah tangga dengan sesama jenis menjadi luar biasa (extraordinary). Bahkan dilihat sebagai ekspresi kemanusiaan yang maju dan beradab.
Dari hari ke hari ragam in moralitas berubah seolah alami (natural) dalam kehidupan. Bahkan ragam immoralitàs itu dikampanyekan sebagai ekspresi nilai kemajuan dan modernitas. Manusia tidak saja biasa melakukan dosa dan penyelewengan. Bahkan kerap kali bangga dengan dosa-dosa dan penyelewengan itu.
Pertanyaan sederhana kemudian muncul, kenapa semua itu bisa terjadi? Ada apa dengan manusia yang secara mendasar sejatinya baik (fitrah)?
Jawabannya kembali lagi kepada bagaimana memposisikan hawa nafsu manusia yang begitu penting. Penting karena hawa nafsu menjadi engine (mesin) kehidupan. Tanpa hawa nafsu sejatinya kehidupan manusia mengalami stagnasi dan kematian.
Lihat Juga :