Lebaran Ketupat, Peninggalan Wali Songo Hanya Ada di Indonesia
Minggu, 23 April 2023 - 06:34 WIB
loading...
A
A
A
Dari sisi bahasa, Ketupat atau kupat dalam Bahasa Arab adalah bentuk jamak dari kafi, yakni, kuffat yang berarti sudah cukup harapan, ketupat atau dalam istilah Jawa dikenal dengan kupat adalah singkatan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat berarti mengakui kesalahan dan laku papat berarti empat tindakan. Mengakui kesalahan (ngaku lepat) ditandai dengan adanya tradisi sungkeman. Sungkeman adalah bersimpuh di hadapan orang tua sambil memohon maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Kenapa mesti dibungkus janur? Janur, diambil dari bahasa Arab Ja'a nur (telah datang cahaya), bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia, saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki. Kenapa? Karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur).
Dari sisi isinya ketupat dibuat dengan berbahan dasar beras dan santan. Beras yang dimasukkan ke dalam janur yang sudah dianyam dan kemudian menjadi gumpalan yang sangat kempal menunjukkan bahwa kita harus selalu menjaga kerukunan dan kebersaman pada sesama masyarakat.
Biasanya, beras ini juga dicampur santan yang artinya sedoyo lepat nyuwun pangapunten, biasa disingkat menjadi santan. Artinya dalam kita menjaga kerukunan dan kebersamaan kita juga harus saling menghormati, memaafkan dan sadar akan dirinya sendiri tepo seliro dan saling memaafkan
Baca juga: Polemik Salafi: Benarkah Tidak Cocok dengan Tradisi Islam Indonesia?
Puji Rahayu mengatakan tradisi Kupatan/Syawalan merupakan tradisi asli Indonesia dan hanya dilakukan di Indonesia sejak datangnya para Wali Songo yang telah mengubah budaya Hindu-Buddha menjadi model ke-Islaman tanpa harus radikal.
Para wali memanfaatkan pemikiran orang-orang Jawa yang suka/percaya akan simbol-simbol tertentu yang mereka anggap mempunyai kesakralan. Pada hakikatnya ketupat bagi orang Jawa mempunyai filosofi mendalam untuk diamalkan.
Tradisi Syawalan
Tradisi Syawalan juga disebut sedekah laut biasa dilakukan masyarakat pesisir Jawa misalnya di wilayah-wilayah pantai di Cilacap, Tegal, Pekalongan, Batang, Weleri, Kendal, Kaliwungu, Demak, Jepara, Kudus, Juwana, Pati dan sebagainya.
Ngaku lepat berarti mengakui kesalahan dan laku papat berarti empat tindakan. Mengakui kesalahan (ngaku lepat) ditandai dengan adanya tradisi sungkeman. Sungkeman adalah bersimpuh di hadapan orang tua sambil memohon maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Kenapa mesti dibungkus janur? Janur, diambil dari bahasa Arab Ja'a nur (telah datang cahaya), bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia, saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki. Kenapa? Karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur).
Dari sisi isinya ketupat dibuat dengan berbahan dasar beras dan santan. Beras yang dimasukkan ke dalam janur yang sudah dianyam dan kemudian menjadi gumpalan yang sangat kempal menunjukkan bahwa kita harus selalu menjaga kerukunan dan kebersaman pada sesama masyarakat.
Biasanya, beras ini juga dicampur santan yang artinya sedoyo lepat nyuwun pangapunten, biasa disingkat menjadi santan. Artinya dalam kita menjaga kerukunan dan kebersamaan kita juga harus saling menghormati, memaafkan dan sadar akan dirinya sendiri tepo seliro dan saling memaafkan
Baca juga: Polemik Salafi: Benarkah Tidak Cocok dengan Tradisi Islam Indonesia?
Puji Rahayu mengatakan tradisi Kupatan/Syawalan merupakan tradisi asli Indonesia dan hanya dilakukan di Indonesia sejak datangnya para Wali Songo yang telah mengubah budaya Hindu-Buddha menjadi model ke-Islaman tanpa harus radikal.
Para wali memanfaatkan pemikiran orang-orang Jawa yang suka/percaya akan simbol-simbol tertentu yang mereka anggap mempunyai kesakralan. Pada hakikatnya ketupat bagi orang Jawa mempunyai filosofi mendalam untuk diamalkan.
Tradisi Syawalan
Tradisi Syawalan juga disebut sedekah laut biasa dilakukan masyarakat pesisir Jawa misalnya di wilayah-wilayah pantai di Cilacap, Tegal, Pekalongan, Batang, Weleri, Kendal, Kaliwungu, Demak, Jepara, Kudus, Juwana, Pati dan sebagainya.
Lihat Juga :