Lebaran Ketupat, Peninggalan Wali Songo Hanya Ada di Indonesia
Minggu, 23 April 2023 - 06:34 WIB
loading...
radisi Syawalan Gunung Megono: Foto/Ilustrasi: antara
A
A
A
Lebaran ketupat murni berasal dari tanah Jawa , sejak pemerintahan Paku Boewono IV. Sebuah kearifan lokal yang hanya dilakukan di Indonesia. Sama halnya dengan tradisi halalbihalal . Tradisi lebaran ketupat yang disertai dengan acara halalbihalal tidak ditemukan di negara lain selain di Indonesia.
Buku "Tradisi-Tradisi Islam Nusantara" karya Puji Rahayu dkk menyebutkan, tradisi kupatan merupakan bentuk sublimasi (perubahan ke arah satu tingkat lebih tinggi) dari ajaran Islam dalam tradisi masyarakat Nusantara.
Hampir tak ada bukti tertulis yang bisa dijadikan rujukan mengenai tradisi kupatan . Semua referensi hanya berdasar cerita tutur (foklor) yang berkembang di masyarakat di era Wali Songo yang kemudian ditulis.
Baca juga: Sejarah Tradisi Yasinan di Indonesia
Adapun momentum setelah melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal atau Syawalan dikenal dengan lebaran ketupat atau tradisi kupatan. "Jelas di sini terlihat tradisi ketupat sebagai rangsangan melaksanakan hadis Nabi mengenai puasa sunah di bulan Syawal!" ujar Puji Rahayu.
Arti ketupat diambil dari Bahasa Jawa yang artinya “Kupat” atau “Ngaku Lepat” (mengakui kesalahan). Maknanya bahwa masyarakat yang datang harus mengakui kesalahan.
Kupat memang identik dengan Idulfitri, karena itu orang Jawa biasa menyebut tradisi kupatan ini menjadi Lebaran Ketupat atau Bodho Kupat yang dilaksanakan pada bulan Syawal tepatnya sepekan setelah hari Lebaran.
Menurut Puji Rahayu, dari sisi sejarah, tradisi kupatan berangkat dari upaya-upaya Wali Songo memasukkan ajaran Islam. Sebab, zaman dulu orang Jawa selalu menggunakan simbol-simbol tertentu, akhirnya Wali Songo memanfaatkan cara tersebut.
"Tradisi kupatan akhirnya menggunakan simbol janur atau daun kelapa muda berwarna kuning,” tuturnya.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Penyusunan Tradisi
Buku "Tradisi-Tradisi Islam Nusantara" karya Puji Rahayu dkk menyebutkan, tradisi kupatan merupakan bentuk sublimasi (perubahan ke arah satu tingkat lebih tinggi) dari ajaran Islam dalam tradisi masyarakat Nusantara.
Hampir tak ada bukti tertulis yang bisa dijadikan rujukan mengenai tradisi kupatan . Semua referensi hanya berdasar cerita tutur (foklor) yang berkembang di masyarakat di era Wali Songo yang kemudian ditulis.
Baca juga: Sejarah Tradisi Yasinan di Indonesia
Adapun momentum setelah melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal atau Syawalan dikenal dengan lebaran ketupat atau tradisi kupatan. "Jelas di sini terlihat tradisi ketupat sebagai rangsangan melaksanakan hadis Nabi mengenai puasa sunah di bulan Syawal!" ujar Puji Rahayu.
Arti ketupat diambil dari Bahasa Jawa yang artinya “Kupat” atau “Ngaku Lepat” (mengakui kesalahan). Maknanya bahwa masyarakat yang datang harus mengakui kesalahan.
Kupat memang identik dengan Idulfitri, karena itu orang Jawa biasa menyebut tradisi kupatan ini menjadi Lebaran Ketupat atau Bodho Kupat yang dilaksanakan pada bulan Syawal tepatnya sepekan setelah hari Lebaran.
Menurut Puji Rahayu, dari sisi sejarah, tradisi kupatan berangkat dari upaya-upaya Wali Songo memasukkan ajaran Islam. Sebab, zaman dulu orang Jawa selalu menggunakan simbol-simbol tertentu, akhirnya Wali Songo memanfaatkan cara tersebut.
"Tradisi kupatan akhirnya menggunakan simbol janur atau daun kelapa muda berwarna kuning,” tuturnya.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Penyusunan Tradisi
Lihat Juga :