Ketika Nabi Muhammad SAW Sedih, Marah dan Melaknat
Minggu, 30 April 2023 - 17:16 WIB
loading...
A
A
A
Saat itulah tidak ada kesedihan yang lebih menyedihkan yang menimpa Nabi selain kejadian itu. Rasa duka yang mendalam serta amarah Rasulullah SAW saat itu boleh jadi sudah sampai puncaknya. Betapa tidak, atas kejadian itu maka kemudian beliau SAW melakukan qunut nazilah, yang intinya mendoakan kehancuran, keburukan dan juga memohon kepada Allah untuk menghujani kaum itu dengan laknat dan kutukan.
Doa Qunut Nazilah ini dilakukan secara berjamaah, diamini oleh seluruh sahabat yang ikut shalat di Masjid Nabawi. Dalam sehari doa ini dibaca sampai lima kali, artinya setiap kali salat, doa mengutuk dan melaknat kaum itu tetap dibaca. Dan nyaris selama satu bulan penuh doa laknat ini tetap dikumandangkan oleh Rasulllah SAW di masjid setiap kali salat, yang juga diamini oleh semua sahabat.
Bahkan dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam qunutnya menyebut-nyebut secara eksplisit nama-nama 'penjahat' yang merupakan pimpinan kaum terlaknat itu. Semua ini menunjukkan betapa hati Rasulllah SAW terluka amat dalam. Sebab 70 ulama itu bukan asset yang murah. Mereka adalah para kader inti sejati, yang dibina langsung dengan tangan beliau SAW sendiri.
Kalau kehilangan sahabat yang gugur di medan perang, bagi Rasulullah SAW sudah biasa. Perang Badar, Uhud, Khandaq dan seterusnya, adalah perang-perang yang terjadi nyaris secara rutin. Dan dalam tiap perang itu, beliau sudah terbiasa mendengar si fulan dan si fulan dari sahabatnya gugur sebagai syahid.
Tentu Rasulullah SAW bersedih kalau ada sahabat yang gugur di medan jihad. Namun kesedihan beliau SAW tidak seperti sedih dan marah ketika mendengar 70 kader ulama inti dibunuh di sumur Maunah. Sebab nilai para ulama itu memang tidak sama dengan orang awam biasa.
Sebagaimana firman Allah di dalam Al-Quran:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar : 9)
Al-Quran sendiri memberikan perlakuan khusus kepada para ulama. Kalau sahabat yang lain dipersilakan ikut jihad semaunya, maka para calon ulama ini benar-benar dilindungi. Salah satunya untuk tidak usah ikut jihad ke medan perang.
Semua ini menujukkan bahwa memperdalam ilmu agama jauh lebih penting ketimbang jihad di medan tempur. Karena itulah Al-Qur'an secara langsung menegur para calon ulama ini, apabila mereka meninggalkan majelis ilmu dan malah ikutan perang. Wallahu A'lam!
Baca Juga: Kisah Rasulullah Marah Saat Orang Yahudi Menanyakan Hal Ini
Doa Qunut Nazilah ini dilakukan secara berjamaah, diamini oleh seluruh sahabat yang ikut shalat di Masjid Nabawi. Dalam sehari doa ini dibaca sampai lima kali, artinya setiap kali salat, doa mengutuk dan melaknat kaum itu tetap dibaca. Dan nyaris selama satu bulan penuh doa laknat ini tetap dikumandangkan oleh Rasulllah SAW di masjid setiap kali salat, yang juga diamini oleh semua sahabat.
Bahkan dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam qunutnya menyebut-nyebut secara eksplisit nama-nama 'penjahat' yang merupakan pimpinan kaum terlaknat itu. Semua ini menunjukkan betapa hati Rasulllah SAW terluka amat dalam. Sebab 70 ulama itu bukan asset yang murah. Mereka adalah para kader inti sejati, yang dibina langsung dengan tangan beliau SAW sendiri.
Kalau kehilangan sahabat yang gugur di medan perang, bagi Rasulullah SAW sudah biasa. Perang Badar, Uhud, Khandaq dan seterusnya, adalah perang-perang yang terjadi nyaris secara rutin. Dan dalam tiap perang itu, beliau sudah terbiasa mendengar si fulan dan si fulan dari sahabatnya gugur sebagai syahid.
Tentu Rasulullah SAW bersedih kalau ada sahabat yang gugur di medan jihad. Namun kesedihan beliau SAW tidak seperti sedih dan marah ketika mendengar 70 kader ulama inti dibunuh di sumur Maunah. Sebab nilai para ulama itu memang tidak sama dengan orang awam biasa.
Sebagaimana firman Allah di dalam Al-Quran:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar : 9)
Al-Quran sendiri memberikan perlakuan khusus kepada para ulama. Kalau sahabat yang lain dipersilakan ikut jihad semaunya, maka para calon ulama ini benar-benar dilindungi. Salah satunya untuk tidak usah ikut jihad ke medan perang.
Semua ini menujukkan bahwa memperdalam ilmu agama jauh lebih penting ketimbang jihad di medan tempur. Karena itulah Al-Qur'an secara langsung menegur para calon ulama ini, apabila mereka meninggalkan majelis ilmu dan malah ikutan perang. Wallahu A'lam!
Baca Juga: Kisah Rasulullah Marah Saat Orang Yahudi Menanyakan Hal Ini
(rhs)
Lihat Juga :