Memaknai Keberkahan Ramadan (Tamat): 7 Pelajaran Berharga
Jum'at, 05 Mei 2023 - 18:18 WIB
loading...
A
A
A
Hidayah yang menjadi dasar keimanan harusnya juga tertransformasi dari hidayah pasif dalam hati dan rasa (emosi dan sentimen), dari tingkatan pemahaman (akal atau ilmu) menjadi hidayah aktif yang membawa kita kepada langkah-langkah kehidupan yang jelas.
Seperti yang pernah disampaikan, dunia kita penuh dengan paradoks. Manusia merasa pintar dan berilmu tapi semakin jahil dan bodoh dalam sikap dan prilaku. Manusia memiliki posesi (kepemilikan) yang banyak. Tapi manusia justeru semakin merasa khawatir dan kurang dalam hidupnya dari ke hari. Semakin banyak rumah sakit dan produksi obat-obatan. Semakin banyak pula orang yang sakit dan semakin ragam penyakit yang timbul. Demikian seterusnya.
Dengan situasi kehidupan manusia seperti inilah sejatinya hidayah hadir untuk mengarahkan kembali ke arah yang benar dan baik. Hidayah pada esensi ini dimaknai sebagai direction of life. Sehingga kehidupan manusia tidak saja jelas arahnya. Tapi juga memilki makna atau nilai yang tinggi. Nilai yang akan menjadi bekal kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di Akhirat.
Ketiga, bahwa bulan Ramadan telah menjadi bulan Ihsan. Ramadan mentransformasi hidup menusia dari hidup yang bertendensi egoistik menjadi hidup yang memiliki tendensi ihsan atau nilai-nilai kebaikan.
Ihsan adalah tingkatan tertinggi dari religiositas seseorang. Dari kesadaran Islam, terbangun iman, dan pada akhirnya tumbuh nilai ihsan dalam kehidupan. Ihsan itu memiliki dua sisi. Ada sisi vertikal. Yaitu terbangunnya kesadaran bersama Allah dalam setiap detak pergerakan nadi (an ta'budallah kaanaka taraahu...). Lalu ada sisi horizontalnya. Yaitu kesadaran jiwa untuk melakukan dan menyebarkan kebaikan kepada sesama makhluk Allah SWT.
Ramadan telah mentransformasi manusia menjadi insan-insan ihsan. Baik pada tataran vertikal dengan hati dan jiwa yang semakin sensitif dengan Al-Ma'iyah billah (kebersamaan dengan Allah). Dan tentunya juga pada tataran horizontal dengan terbangunnya kesadaran untuk terus berbuat baik kepada semua makhluk Allah SWT.
Keempat, bahwa Ramadan telah mentransformasi kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu manusia, dari hawa nafsu yang merusak (destructive desires) kepada hawa nafsu yang menjadi jalan kebaikan (constructive desires). Hawa nafsu sesungguhnya adalah bagian alami bahkan mendasar dari kehidupan. Tanpa hawa nafsu hidup manusia akan terhenti. Sayangnya seringkali hawa nafsu justeru berbalik menjadi jalan keburukan dan kerusakan bagi manusia dan alam sekitarnya.
Ramadan telah hadir mentransformasi keinginan-keinginan (hawa nafsu) manusia menjadi lebih terarah, jinak dan terkontrol. Sehingga manusia menjadi tuan dari hawa nafsunya. Bukan budak-budak hawa nafsu. Berbagai kerusakan baik di darat maupun di laut (dan di udara) disebabkan oleh tangan-tangan manusia yang diperbudak oleh hawa nafsunya.
Kelima, bahwa Ramadan telah hadir mentransformasi karakter manusia. Karakter manusia itu lebih dikenal dalam agama dengan akhlak. Dengan akhlak ini religiositas seseorang terukur. Ketinggian nilai akhlak manusia menjadikannya memilki ketinggian pula dalam beragama.
Karena itu karakter atau akhlak yang mulia seolah menjadi kesimpulan dari misi dakwah Rasulullah SAW: "Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan kemuliaan Akhlak manusia." Bahkan Allah menyampaikan pujian khusus dalam Al-Qur'an juga karena akhlaknya:
"Sesungguhnya engkau wahai Muhammad memiliki akhlak yang tinggi." (Al-Qalam)
Seperti yang pernah disampaikan, dunia kita penuh dengan paradoks. Manusia merasa pintar dan berilmu tapi semakin jahil dan bodoh dalam sikap dan prilaku. Manusia memiliki posesi (kepemilikan) yang banyak. Tapi manusia justeru semakin merasa khawatir dan kurang dalam hidupnya dari ke hari. Semakin banyak rumah sakit dan produksi obat-obatan. Semakin banyak pula orang yang sakit dan semakin ragam penyakit yang timbul. Demikian seterusnya.
Dengan situasi kehidupan manusia seperti inilah sejatinya hidayah hadir untuk mengarahkan kembali ke arah yang benar dan baik. Hidayah pada esensi ini dimaknai sebagai direction of life. Sehingga kehidupan manusia tidak saja jelas arahnya. Tapi juga memilki makna atau nilai yang tinggi. Nilai yang akan menjadi bekal kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di Akhirat.
Ketiga, bahwa bulan Ramadan telah menjadi bulan Ihsan. Ramadan mentransformasi hidup menusia dari hidup yang bertendensi egoistik menjadi hidup yang memiliki tendensi ihsan atau nilai-nilai kebaikan.
Ihsan adalah tingkatan tertinggi dari religiositas seseorang. Dari kesadaran Islam, terbangun iman, dan pada akhirnya tumbuh nilai ihsan dalam kehidupan. Ihsan itu memiliki dua sisi. Ada sisi vertikal. Yaitu terbangunnya kesadaran bersama Allah dalam setiap detak pergerakan nadi (an ta'budallah kaanaka taraahu...). Lalu ada sisi horizontalnya. Yaitu kesadaran jiwa untuk melakukan dan menyebarkan kebaikan kepada sesama makhluk Allah SWT.
Ramadan telah mentransformasi manusia menjadi insan-insan ihsan. Baik pada tataran vertikal dengan hati dan jiwa yang semakin sensitif dengan Al-Ma'iyah billah (kebersamaan dengan Allah). Dan tentunya juga pada tataran horizontal dengan terbangunnya kesadaran untuk terus berbuat baik kepada semua makhluk Allah SWT.
Keempat, bahwa Ramadan telah mentransformasi kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu manusia, dari hawa nafsu yang merusak (destructive desires) kepada hawa nafsu yang menjadi jalan kebaikan (constructive desires). Hawa nafsu sesungguhnya adalah bagian alami bahkan mendasar dari kehidupan. Tanpa hawa nafsu hidup manusia akan terhenti. Sayangnya seringkali hawa nafsu justeru berbalik menjadi jalan keburukan dan kerusakan bagi manusia dan alam sekitarnya.
Ramadan telah hadir mentransformasi keinginan-keinginan (hawa nafsu) manusia menjadi lebih terarah, jinak dan terkontrol. Sehingga manusia menjadi tuan dari hawa nafsunya. Bukan budak-budak hawa nafsu. Berbagai kerusakan baik di darat maupun di laut (dan di udara) disebabkan oleh tangan-tangan manusia yang diperbudak oleh hawa nafsunya.
Kelima, bahwa Ramadan telah hadir mentransformasi karakter manusia. Karakter manusia itu lebih dikenal dalam agama dengan akhlak. Dengan akhlak ini religiositas seseorang terukur. Ketinggian nilai akhlak manusia menjadikannya memilki ketinggian pula dalam beragama.
Karena itu karakter atau akhlak yang mulia seolah menjadi kesimpulan dari misi dakwah Rasulullah SAW: "Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan kemuliaan Akhlak manusia." Bahkan Allah menyampaikan pujian khusus dalam Al-Qur'an juga karena akhlaknya:
"Sesungguhnya engkau wahai Muhammad memiliki akhlak yang tinggi." (Al-Qalam)
Lihat Juga :