Kisah Umar Melihat Seorang Ibu Memasak Batu Ketika Madinah Paceklik
Rabu, 10 Mei 2023 - 18:08 WIB
loading...
Umar bin Khattab tertegun ketika mendapati seorang ibu memasak batu ketika Madinah mengalami paceklik. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Ketika Madinah mengalami musim paceklik Tahun 17 Hijriyah, Khalifah Umar ditemani seorang sahabatnya, Aslam berkeliling mengunjungi kampung terpencil di Madinah. Beliau melakukan perjalanan diam-diam, masuk keluar kampung untuk melihat langsung keadaan rakyatnya.
Berikut kisahnhya diceritakan Gus Musa Muhammad dalam satu kajiannya. Suatu hari langkah Khalifah Umar bin Khattab terhenti ketika mendengar suara tangis anak kecil dari sebuah tenda usang.
Umar mendekati tenda itu untuk memastikan apakah penghuninya membutuhkan bantuan. Setelah dekati, terlihat seorang perempuan sedang menjerangkan panci di atas tungku api. Asap-asap itu mengepul-ngepul dari panci, sementara si ibu tua tadi terus saja mengaduk-aduk isi panci tersebut dengan sebuah sendok kayu.
Setelah mengucapkan salam, Khalifah Umar meminta izin untuk mendekat. Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakkan kepalanya seraya menjawab salam Umar. Tetapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci itu.
"Siapakah yang menangis di dalam itu?" tanya Umar.
Dengan sedikit acuh, ibu itu menjawab pertanyaanya, "Anak-anakku..." "Apakah ia sedang sakit?" tanya umar lagi.
"Tidak," jawab si ibu. "Ia kelaparan," sambungnya.
Umar dan Aslam seketika tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah ibu tua itu sampai lebih dari satu jam. Namun anak-anak kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya juga masih terus mengaduk-aduk isi bejana.
Umar yang tidak habis pikir ingin tahu apa yang sedang dimasak oleh si ibu tua itu? Karena sudah lama ia memasaknya tetapi masakannya itu tak kunjung matang. Karena tak tahan untuk menunggu, akhirnya Umar bertanya kepada si ibu tua itu, "Apa yang sedang kau masak, wahai Ibu? Kenapa tak kunjung matang-matang juga masakanmu itu?
Lalu Ibu itu tetap diam, sejurus kemudian dengan raut muka penuh harap, ia membuka tutup bejana. Khalifah Umar dan Aslam melihat isi bejana tersebut. Dan seketika mereka kaget saat melihat isi bejana itu.
"Apakah kau sedang memasak batu?" tanya Khalifah Umar sedikit tercengang.
Ibu itu mencurahkan kekesalannya kepada Umar: "Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun ku suruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan ku isi air."
"Lalu batu-batu itu aku masak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia enggan melihat ke bawah, dan bertanya apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," ujar wanita itu.
Berikut kisahnhya diceritakan Gus Musa Muhammad dalam satu kajiannya. Suatu hari langkah Khalifah Umar bin Khattab terhenti ketika mendengar suara tangis anak kecil dari sebuah tenda usang.
Umar mendekati tenda itu untuk memastikan apakah penghuninya membutuhkan bantuan. Setelah dekati, terlihat seorang perempuan sedang menjerangkan panci di atas tungku api. Asap-asap itu mengepul-ngepul dari panci, sementara si ibu tua tadi terus saja mengaduk-aduk isi panci tersebut dengan sebuah sendok kayu.
Setelah mengucapkan salam, Khalifah Umar meminta izin untuk mendekat. Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakkan kepalanya seraya menjawab salam Umar. Tetapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci itu.
"Siapakah yang menangis di dalam itu?" tanya Umar.
Dengan sedikit acuh, ibu itu menjawab pertanyaanya, "Anak-anakku..." "Apakah ia sedang sakit?" tanya umar lagi.
"Tidak," jawab si ibu. "Ia kelaparan," sambungnya.
Umar dan Aslam seketika tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah ibu tua itu sampai lebih dari satu jam. Namun anak-anak kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya juga masih terus mengaduk-aduk isi bejana.
Umar yang tidak habis pikir ingin tahu apa yang sedang dimasak oleh si ibu tua itu? Karena sudah lama ia memasaknya tetapi masakannya itu tak kunjung matang. Karena tak tahan untuk menunggu, akhirnya Umar bertanya kepada si ibu tua itu, "Apa yang sedang kau masak, wahai Ibu? Kenapa tak kunjung matang-matang juga masakanmu itu?
Lalu Ibu itu tetap diam, sejurus kemudian dengan raut muka penuh harap, ia membuka tutup bejana. Khalifah Umar dan Aslam melihat isi bejana tersebut. Dan seketika mereka kaget saat melihat isi bejana itu.
"Apakah kau sedang memasak batu?" tanya Khalifah Umar sedikit tercengang.
Ibu itu mencurahkan kekesalannya kepada Umar: "Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun ku suruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan ku isi air."
"Lalu batu-batu itu aku masak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia enggan melihat ke bawah, dan bertanya apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," ujar wanita itu.
Lihat Juga :