Pentingnya Sikap Jujur dalam Rumah Tangga dalam Pandangan Syaikul Islam Ibnu Taimiyah
Jum'at, 12 Mei 2023 - 14:33 WIB
loading...
Jujur harus ada di dalam rumah tangga keluarga muslim, karena sifat jujur adalah puncak kebaikaan yang akan membawa keluarga kita ke surga yang merupakan puncak keinginan manusia. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Jujur harus hadir di tempat-tempat umum, terlebih lagi di lingkungan rumah tangga Islami. Antara suami dan istri harus saling jujur dan tidak gemar berdusta. Juga hubungan antara anak dan orang tuanya, harus dihiasi kejujuran.
Suami dan istri harus berlaku jujur dalam perkataan, perbuatan, ibadah dan dalam semua perkara. Jujur itu berarti selaras antara lahir dan batin, ucapan dan perbuatan, serta antara berita dan fakta.
Maksudnya, hendaklah suami istri terus berlaku jujur. Karena jika senantiasa jujur, maka itu akan membawa kepada al-birr (yakni melakukan segala kebaikan), dan kebaikan itu akan membawa ke surga yang merupakan puncak keinginan, sebagaimana Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
"Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.” (Al-Infithâr : 13)
Baca juga: Hubungan Suami-Istri Ibarat Pakaian, Begini Penjelasannya
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (At-Taubah : 119)
Tidak dibayangkan kerusakannya sebuah rumah tangga jika penghuninya saling tidak jujur dan suka berdusta. Maka akan dicabut keberkahan dalam rumah tangga itu. Antara suami atau istri kerap berdusta untuk menutupi kemaksiatannya. Nau'dzubillah.
Dalam buku Tazkiyatun Nafs yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis bahwa Allah mencela orang suka berdusta. Karakter suka berdusta dan berkata yang mengada-ada (berkata tidak sebenarnya) adalah karakter orang munafik dan Yahudi. Sikap tidak jujur dan sangat suka mendengar berita bohong serta suka membuat kabar palsu adalah karakter Yahudi, bukan karakter seorang muslim.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Wahai Rasul (Muhammad)! Janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, "Kami telah beriman," padahal hati mereka belum beriman; dan juga orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar (berita-berita) bohong dan sangat suka mendengar (perkataan-perkataan) orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya. Mereka mengatakan, "Jika ini yang diberikan kepadamu (yang sudah diubah) terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah." Barang siapa dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, sedikit pun engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya). Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dikehendaki Allah untuk menyucikan hati mereka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat akan mendapat azab yang besar." (QS. Al-Ma'idah : 41)
Suami dan istri harus berlaku jujur dalam perkataan, perbuatan, ibadah dan dalam semua perkara. Jujur itu berarti selaras antara lahir dan batin, ucapan dan perbuatan, serta antara berita dan fakta.
Maksudnya, hendaklah suami istri terus berlaku jujur. Karena jika senantiasa jujur, maka itu akan membawa kepada al-birr (yakni melakukan segala kebaikan), dan kebaikan itu akan membawa ke surga yang merupakan puncak keinginan, sebagaimana Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.” (Al-Infithâr : 13)
Baca juga: Hubungan Suami-Istri Ibarat Pakaian, Begini Penjelasannya
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (At-Taubah : 119)
Tidak dibayangkan kerusakannya sebuah rumah tangga jika penghuninya saling tidak jujur dan suka berdusta. Maka akan dicabut keberkahan dalam rumah tangga itu. Antara suami atau istri kerap berdusta untuk menutupi kemaksiatannya. Nau'dzubillah.
Dalam buku Tazkiyatun Nafs yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis bahwa Allah mencela orang suka berdusta. Karakter suka berdusta dan berkata yang mengada-ada (berkata tidak sebenarnya) adalah karakter orang munafik dan Yahudi. Sikap tidak jujur dan sangat suka mendengar berita bohong serta suka membuat kabar palsu adalah karakter Yahudi, bukan karakter seorang muslim.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Wahai Rasul (Muhammad)! Janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, "Kami telah beriman," padahal hati mereka belum beriman; dan juga orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar (berita-berita) bohong dan sangat suka mendengar (perkataan-perkataan) orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya. Mereka mengatakan, "Jika ini yang diberikan kepadamu (yang sudah diubah) terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah." Barang siapa dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, sedikit pun engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya). Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dikehendaki Allah untuk menyucikan hati mereka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat akan mendapat azab yang besar." (QS. Al-Ma'idah : 41)
Lihat Juga :