Cerita Hasan Tata Abas, Orang Indonesia yang Jadi Asisten Imam Masjid Nabawi
Rabu, 07 Juni 2023 - 07:56 WIB
loading...
A
A
A
Hasan kemudian melamar kerja di Arab Saudi lewat Kafil (sponsor) bin Laden Group untuk ditempatkan di Masjid Nabawi. Bersama 47 peserta lainnya dari berbagai negara di dunia, Hasan menjalani seleksi dan wawancara.
"Saat itu, Syekh membutuhkan tenaga asisten. Saya ikut interview, qodarulloh diterima. Alhamdulillah kalau menghendaki. Salah satu penunjang untuk bisa lolos adalah hapal 30 juz Al-Qur'an meski tidak harus. Terpenting itu kesopanan dan akhlak. Sementara kita orang timur kesopanan tidak dibuat-buat, kesopanan sudah tradisi," ucapnya.
Meski menjadi pelayan, Hasan mengaku bangga dengan tugasnya. Selain bisa dekat dengan ulama-ulama besar, dirinya juga bisa salat kapan pun di Masjid Nabawi, termasuk mengunjungi Raudhah. Apalagi hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan, orang yang melaksanakan salat di Masjid Nabawi diganjar pahala 1.000 kali lipat dibandingkan salat di tempat biasa.
"Saya sering menangis ya Alloh saya ini warga Indonesia, orang kecil, orang bodoh ya. Di Indonesia saya itu tidur juga di pondok bambu, salat juga di musala kampung, saya merantau ke Arab Saudi, Allah beri kesempatan saya berkumpul sama orang-orang saleh setingkat sahabat Rasulullah. Itu yang bikin saya nangis bahagia," tuturnya.
Di zaman Rasulullah, orang seperti dirinya sama seperti orang baduy yang menyediakan air untuk wudhu dan membersihkan di masjid. Kebahagiaan lainnya adalah dimakamkan di pemakaman Baqi. "Kalau saya meninggal, ditakdirkan meninggal di Madinah saya dapat hadiah dimakamkan di Baqi," katanya.
"Kadang yang bikin saya nangis terharu juga kalau pas Syekh Haromain ini ijtima' di Masjid Nabawi. Dari Masjidilharam datang ke sini ijtima yang menyuguhi beliau-beliau Yang Mulia itu saya. Nah saat beliau-beliau lagi ijtima' musyawarah saya di belakang beliau menunggu panggilan," ucapnya.
Selain kerap bertemu para ulama, dirinya juga beberapa kali mengalami kejadian di luar nalar manusia. "Pernah ada yang bertamu ke Syekh dengan berpakaian lusuh. Tadinya sempat dilarang oleh protokol tapi dipersilakan masuk oleh Syekh. Sampai ke dalam enggak berbicara cuma diam," ujarnya.
Saat itu, dirinya sempat menyuguhkan makan dan minum. Namun sajian yang dihidangkan tidak disentuh. "Pakaiannya lusuh, enggak putih, bersih tapi baunya harum, wangi sekali. Syekh enggak bilang apakah dia malaikat atau golongan manusia enggak tahu. Cuma dikatakan kekasih Allah," ucapnya.
"Saat itu, Syekh membutuhkan tenaga asisten. Saya ikut interview, qodarulloh diterima. Alhamdulillah kalau menghendaki. Salah satu penunjang untuk bisa lolos adalah hapal 30 juz Al-Qur'an meski tidak harus. Terpenting itu kesopanan dan akhlak. Sementara kita orang timur kesopanan tidak dibuat-buat, kesopanan sudah tradisi," ucapnya.
Meski menjadi pelayan, Hasan mengaku bangga dengan tugasnya. Selain bisa dekat dengan ulama-ulama besar, dirinya juga bisa salat kapan pun di Masjid Nabawi, termasuk mengunjungi Raudhah. Apalagi hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan, orang yang melaksanakan salat di Masjid Nabawi diganjar pahala 1.000 kali lipat dibandingkan salat di tempat biasa.
"Saya sering menangis ya Alloh saya ini warga Indonesia, orang kecil, orang bodoh ya. Di Indonesia saya itu tidur juga di pondok bambu, salat juga di musala kampung, saya merantau ke Arab Saudi, Allah beri kesempatan saya berkumpul sama orang-orang saleh setingkat sahabat Rasulullah. Itu yang bikin saya nangis bahagia," tuturnya.
Di zaman Rasulullah, orang seperti dirinya sama seperti orang baduy yang menyediakan air untuk wudhu dan membersihkan di masjid. Kebahagiaan lainnya adalah dimakamkan di pemakaman Baqi. "Kalau saya meninggal, ditakdirkan meninggal di Madinah saya dapat hadiah dimakamkan di Baqi," katanya.
Sering Mengalami Keajaiban
Selama menjadi asisten Syekh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim, dirinya seringkali bertemu dan melayani para ulama besar, tidak hanya Imam Masjid Nabawi tapi juga Imam Masjidilharam."Kadang yang bikin saya nangis terharu juga kalau pas Syekh Haromain ini ijtima' di Masjid Nabawi. Dari Masjidilharam datang ke sini ijtima yang menyuguhi beliau-beliau Yang Mulia itu saya. Nah saat beliau-beliau lagi ijtima' musyawarah saya di belakang beliau menunggu panggilan," ucapnya.
Selain kerap bertemu para ulama, dirinya juga beberapa kali mengalami kejadian di luar nalar manusia. "Pernah ada yang bertamu ke Syekh dengan berpakaian lusuh. Tadinya sempat dilarang oleh protokol tapi dipersilakan masuk oleh Syekh. Sampai ke dalam enggak berbicara cuma diam," ujarnya.
Saat itu, dirinya sempat menyuguhkan makan dan minum. Namun sajian yang dihidangkan tidak disentuh. "Pakaiannya lusuh, enggak putih, bersih tapi baunya harum, wangi sekali. Syekh enggak bilang apakah dia malaikat atau golongan manusia enggak tahu. Cuma dikatakan kekasih Allah," ucapnya.
(abd)
Lihat Juga :