Benarkah Madinah Jadi Ukuran Benar dan Salah? Ini Penjelasan Ustaz Ahmad Syahrin
Sabtu, 17 Juni 2023 - 14:10 WIB
loading...
A
A
A
كان هذا في حياته -صلى الله عليه وسلم، والقرن الذي كان منهم، والذين يلونهم، والذين يلونهم خاصّة
"Adalah ini berlaku di masa ketika masih hidupnya Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan kurun setelahnya dan setelahnya lagi." [Syarh Zarqani (12/250)]
2. Untuk Mazhab Ahlul Madinah
Berkata Imam Al-Qurthubi rahimahullah:
فيه تنبيه على صحة مذهب أهل المدينة وسلامتهم من البدع، وأن عملهم حجة، كما رواه مالك
"Hadits tersebut menjadi tanda kebenaran Madzhab Ahli Madinah dan mereka steril dari bid'ah serta amalan mereka adalah hujjah, seperti pendapat yang dipegang oleh Imam Malik." [Al Ihsan fi at Taqrib fi shahih Ibnu Hibban (9/45)]
Yang dimaksudkan madzhab Ahli Madinah adalah pendapat yang dipegang oleh para sahabat yang kala itu menetap di Madinah. Bukan mazhab penduduk Madinah setelahnya apalagi hari ini. Karena itulah Imam Ibnu Hajar menjelaskan maksud Imam Qurthubi di atas dengan mengatakan: "Pernyataan ini kalau benar, maka ia adalah khusus di masa Nabi ﷺ dan masa khalafaur Rasyidin. Adapun setelah terjadinya fitnah dan para sahabat tersebar di berbagai negeri, khususnya di akhir abad kedua Hijriyah dan setelahnya, yang terjadi malah sebaliknya." [Fath al Bari ( 4/94)]
3. Dimaknai Berduyun-duyunnya Manusia Ziarah ke Madinah
Sebagian ulama lainnya memaknai hadits di atas sebagai sebuah majas, yakni akan banyak orang beriman pergi ke Madinah untuk mengunjungi Masjid Nabawi dan berziarah ke kubur Nabi ﷺ.
Berkata Imam Nawawi rahimahullah:
ثم بعد ذلك في كل وقت إلى زماننا لزيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم والتبرك بمشاهده وآثاره وآثار أصحابه الكرام فلا يأتيها إلا مؤمن
"Kemudian di masa-masa berikutnya sampai zaman kita sekarang ini (Masa imam Nawawi), kaum muslimin silih berganti berziarah ke Madinah, untuk datang ke kubur Nabi ﷺ, bertabarruk dengan napak tilas tempat-tempat yang menjadi bekas beliau dan para shahabatnya yang mulia. Dan tidak ada yang datang ke sana kecuali orang beriman." [Syarah Muslim li Nawawi (2/177)]
4. Orang Mukmin akan Selalu Rindu Madinah
Sebagian ulama lainnya memaknai hadits ini sebagai gambaran kecintaan orang beriman kepada Kota Madinah. Sebagaimana ular adalah hewan yang gesit dan bersegera jika ia ingin kembali ke lubangnya, orang mukmin juga akan bersiap-siap dan bergegas ketika ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Madinah.
"Adalah ini berlaku di masa ketika masih hidupnya Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan kurun setelahnya dan setelahnya lagi." [Syarh Zarqani (12/250)]
2. Untuk Mazhab Ahlul Madinah
Berkata Imam Al-Qurthubi rahimahullah:
فيه تنبيه على صحة مذهب أهل المدينة وسلامتهم من البدع، وأن عملهم حجة، كما رواه مالك
"Hadits tersebut menjadi tanda kebenaran Madzhab Ahli Madinah dan mereka steril dari bid'ah serta amalan mereka adalah hujjah, seperti pendapat yang dipegang oleh Imam Malik." [Al Ihsan fi at Taqrib fi shahih Ibnu Hibban (9/45)]
Yang dimaksudkan madzhab Ahli Madinah adalah pendapat yang dipegang oleh para sahabat yang kala itu menetap di Madinah. Bukan mazhab penduduk Madinah setelahnya apalagi hari ini. Karena itulah Imam Ibnu Hajar menjelaskan maksud Imam Qurthubi di atas dengan mengatakan: "Pernyataan ini kalau benar, maka ia adalah khusus di masa Nabi ﷺ dan masa khalafaur Rasyidin. Adapun setelah terjadinya fitnah dan para sahabat tersebar di berbagai negeri, khususnya di akhir abad kedua Hijriyah dan setelahnya, yang terjadi malah sebaliknya." [Fath al Bari ( 4/94)]
3. Dimaknai Berduyun-duyunnya Manusia Ziarah ke Madinah
Sebagian ulama lainnya memaknai hadits di atas sebagai sebuah majas, yakni akan banyak orang beriman pergi ke Madinah untuk mengunjungi Masjid Nabawi dan berziarah ke kubur Nabi ﷺ.
Berkata Imam Nawawi rahimahullah:
ثم بعد ذلك في كل وقت إلى زماننا لزيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم والتبرك بمشاهده وآثاره وآثار أصحابه الكرام فلا يأتيها إلا مؤمن
"Kemudian di masa-masa berikutnya sampai zaman kita sekarang ini (Masa imam Nawawi), kaum muslimin silih berganti berziarah ke Madinah, untuk datang ke kubur Nabi ﷺ, bertabarruk dengan napak tilas tempat-tempat yang menjadi bekas beliau dan para shahabatnya yang mulia. Dan tidak ada yang datang ke sana kecuali orang beriman." [Syarah Muslim li Nawawi (2/177)]
4. Orang Mukmin akan Selalu Rindu Madinah
Sebagian ulama lainnya memaknai hadits ini sebagai gambaran kecintaan orang beriman kepada Kota Madinah. Sebagaimana ular adalah hewan yang gesit dan bersegera jika ia ingin kembali ke lubangnya, orang mukmin juga akan bersiap-siap dan bergegas ketika ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Madinah.
Lihat Juga :