Kisah Mualaf Lea South: Ketika Hip-hop Membantunya Menjadi Seorang Muslim
Rabu, 12 Juli 2023 - 14:24 WIB
loading...
Ismael Lea South. (hyphenonline)
A
A
A
Dia adalah Lea South, lebih dikenal sebagai Ismael Lea South. Rapper Inggris ini lahir di Willesden, London barat laut, pada Mei 1973. Ia mengenal musik hip-hop sejak remaja, saat belajar di South Kilburn High School.
"Sekolah kami memiliki warisan Afrika dan Afro-Karibia yang besar. Kami biasa mendengarkan orang-orang seperti Big Daddy Kane, A Tribe Called Quest, Public Enemy, Eric B & Rakim," katanya sebagaimana dilansir BBC.
Pada awalnya dia hanya akan "menganggukkan kepala mengikuti irama". Setelah itu Ismael mulai memperhatikan lebih banyak tentang apa yang dikatakan artis favoritnya.
"Ini adalah masa ketika banyak rapper menggunakan frase bahasa Arab, dan mereka belum tentu Muslim, jadi mereka akan mengatakan hal-hal seperti 'InsyaAllah'."
Baca juga: Profil Jay Palfrey, Youtuber Mualaf Inggris yang Kagetkan Fansnya Ketika Jadi Mualaf
Dia juga mulai lebih memperhatikan artis yang memiliki kedalaman musik. "Akan ada beberapa rapper yang nge-rap tentang bagaimana mereka mulai melihat kehidupan sedikit lebih dalam dan mereka nge-rap tentang spiritualitas," jelas Ismael.
Contoh yang dia berikan adalah hip-hop klasik tahun 1987 Paid In Full oleh Eric B & Rakim. Di situ Rakim mengatakan bahwa dia dulunya adalah anak yang nakal tetapi kemudian dia mengetahui bahwa itu bukanlah cara untuk hidup yang diinginkannya.
"Saya dulu berpikir apa yang membuatnya berubah. Dia sering menyebutkan frasa Islami, sehingga membuat saya berpikir," katanya.
Momen besar berikutnya bagi Ismael adalah ketika dia diundang oleh seorang temannya untuk mengunjungi Speaker's Corner di London pusat tempat grup rap Cash Crew tampil saat tur.
"Jadi kami pergi ke Hyde Park Corner tanpa mengetahui apa itu Hyde Park Corner dan saya terpesona. Saya melihat orang Kristen , Muslim, Yahudi , sosialis, agnostik, berdebat satu sama lain dan saya pikir 'oh astaga, tempat ini brilian'."
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Selama di sana, dia juga bertemu dengan pembicara lain bernama Muhammad Khaja yang akan berdampak besar pada masa depannya.
"Dia memiliki warisan yang sama dengan saya, Afro-Karibia, dia mengenakan pakaian Islami Afrika dan, ketika dia berbicara dan berdebat, tidak ada yang bisa menyaingi dia.
"Sekolah kami memiliki warisan Afrika dan Afro-Karibia yang besar. Kami biasa mendengarkan orang-orang seperti Big Daddy Kane, A Tribe Called Quest, Public Enemy, Eric B & Rakim," katanya sebagaimana dilansir BBC.
Pada awalnya dia hanya akan "menganggukkan kepala mengikuti irama". Setelah itu Ismael mulai memperhatikan lebih banyak tentang apa yang dikatakan artis favoritnya.
"Ini adalah masa ketika banyak rapper menggunakan frase bahasa Arab, dan mereka belum tentu Muslim, jadi mereka akan mengatakan hal-hal seperti 'InsyaAllah'."
Baca juga: Profil Jay Palfrey, Youtuber Mualaf Inggris yang Kagetkan Fansnya Ketika Jadi Mualaf
Dia juga mulai lebih memperhatikan artis yang memiliki kedalaman musik. "Akan ada beberapa rapper yang nge-rap tentang bagaimana mereka mulai melihat kehidupan sedikit lebih dalam dan mereka nge-rap tentang spiritualitas," jelas Ismael.
Contoh yang dia berikan adalah hip-hop klasik tahun 1987 Paid In Full oleh Eric B & Rakim. Di situ Rakim mengatakan bahwa dia dulunya adalah anak yang nakal tetapi kemudian dia mengetahui bahwa itu bukanlah cara untuk hidup yang diinginkannya.
"Saya dulu berpikir apa yang membuatnya berubah. Dia sering menyebutkan frasa Islami, sehingga membuat saya berpikir," katanya.
Momen besar berikutnya bagi Ismael adalah ketika dia diundang oleh seorang temannya untuk mengunjungi Speaker's Corner di London pusat tempat grup rap Cash Crew tampil saat tur.
"Jadi kami pergi ke Hyde Park Corner tanpa mengetahui apa itu Hyde Park Corner dan saya terpesona. Saya melihat orang Kristen , Muslim, Yahudi , sosialis, agnostik, berdebat satu sama lain dan saya pikir 'oh astaga, tempat ini brilian'."
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Selama di sana, dia juga bertemu dengan pembicara lain bernama Muhammad Khaja yang akan berdampak besar pada masa depannya.
"Dia memiliki warisan yang sama dengan saya, Afro-Karibia, dia mengenakan pakaian Islami Afrika dan, ketika dia berbicara dan berdebat, tidak ada yang bisa menyaingi dia.
Lihat Juga :