Di Balik Kesuksesan Dakwah Generasi Pertama Menurut Sayyid Qutb
Rabu, 26 Juli 2023 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Surat Yusuf Ayat 37: Dakwah Nabi Yusuf Mulai Diterima Penghuni Penjara
Dengan demikian, adalah Al-Qur'an semata yang menjadi sumber mereka; darinya mereka memetik pelajaran dan dengannya pula mereka diubah menjadi tokoh-tokoh besar.
Menurut Sayyid Quthb, hal itu terjadi bukan karena umat manusia saat itu tidak memiliki peradaban, budaya, ilmu pengetahuan, buku-buku rujukan atau kajian-kajian ilmiah; sama sekali bukan begitu!
Pada saat itu ada peradaban Romawi dan budayanya, serta buku-buku dan undang-undangnya yang sampai saat ini dijadikan pedoman hidup Eropa, atau setidaknya perpanjangan darinya.
Ada warisan peradaban Yunani, logikanya, filsafatnya serta seninya, yang tetap menjadi sumber pemikiran Barat hingga saat ini. Juga ada peradaban Persia, seninya, syairnya, legenda-legendanya, kepercayaan-kepercayaannya, dan sistem kekuasaannya.
Demikian juga peradaban-peradaban lain, yang jauh maupun dekat: seperti peradaban India, China dan lainnya. Peradaban Romawi dan Parsi mengelilingi Jazirah Ara, dari bagian Timur dan Barat, juga Yahudi dan Nasrani yang hidup di jantung Jazirah Arab.
"Dengan demikian, mereka sama sekali tidak kekurangan peradaban dan budaya internasional, yang membuat generasi ini hanya mengambil rujukan dari Kitab Allah semata, selama masa pembentukannya. Namun sterilisasi mereka dari pengaruh peradaban dan budaya luar itu dilakukan dengan 'planning' yang matang, dan dengan strategi yang terencana," ujar Sayyid Quthb.
Baca juga: Dakwah Sensitif soal Nabi Muhammad, Sopir Bus Israel Terancam Dipecat
Bukti hal ini marahnya Rasulullah SAW saat melihat Umar bin Khattab sedang memegang lembaran Taurat, dan beliau bersabda:
"Demi Allah, seandainya Musa hidup saat ini bersama kalian, niscaya ia hanya diperbolehkan oleh Allah SWT untuk menjadi pengikutku." (HR Abu Ya'la dari Hammad, dari Sya'bi dari Jabir)
Dengan demikian, adalah Al-Qur'an semata yang menjadi sumber mereka; darinya mereka memetik pelajaran dan dengannya pula mereka diubah menjadi tokoh-tokoh besar.
Menurut Sayyid Quthb, hal itu terjadi bukan karena umat manusia saat itu tidak memiliki peradaban, budaya, ilmu pengetahuan, buku-buku rujukan atau kajian-kajian ilmiah; sama sekali bukan begitu!
Pada saat itu ada peradaban Romawi dan budayanya, serta buku-buku dan undang-undangnya yang sampai saat ini dijadikan pedoman hidup Eropa, atau setidaknya perpanjangan darinya.
Ada warisan peradaban Yunani, logikanya, filsafatnya serta seninya, yang tetap menjadi sumber pemikiran Barat hingga saat ini. Juga ada peradaban Persia, seninya, syairnya, legenda-legendanya, kepercayaan-kepercayaannya, dan sistem kekuasaannya.
Demikian juga peradaban-peradaban lain, yang jauh maupun dekat: seperti peradaban India, China dan lainnya. Peradaban Romawi dan Parsi mengelilingi Jazirah Ara, dari bagian Timur dan Barat, juga Yahudi dan Nasrani yang hidup di jantung Jazirah Arab.
"Dengan demikian, mereka sama sekali tidak kekurangan peradaban dan budaya internasional, yang membuat generasi ini hanya mengambil rujukan dari Kitab Allah semata, selama masa pembentukannya. Namun sterilisasi mereka dari pengaruh peradaban dan budaya luar itu dilakukan dengan 'planning' yang matang, dan dengan strategi yang terencana," ujar Sayyid Quthb.
Baca juga: Dakwah Sensitif soal Nabi Muhammad, Sopir Bus Israel Terancam Dipecat
Bukti hal ini marahnya Rasulullah SAW saat melihat Umar bin Khattab sedang memegang lembaran Taurat, dan beliau bersabda:
"Demi Allah, seandainya Musa hidup saat ini bersama kalian, niscaya ia hanya diperbolehkan oleh Allah SWT untuk menjadi pengikutku." (HR Abu Ya'la dari Hammad, dari Sya'bi dari Jabir)
Lihat Juga :