Di Balik Kegagalan Dakwah Islam setelah Generasi Sahabat Menurut Sayyid Qutb
Kamis, 27 Juli 2023 - 14:51 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Hagia Sophia Pintu Masuk Dakwah Islam ke Daratan Eropa
Oleh karena itu, kata Sayyid Qutb, tidak ada dari mereka yang memperbanyak mempelajari Al-Qur'an dalam sekali duduk, karena ia merasa bahwa dengan memperbanyak membaca perintah Allah SWT itu berarti memperbanyak pula kewajiban dan tugas yang harus ia emban.
"Mereka cukup membaca dan mempelajari sepuluh ayat, setiap kesempatan menelaah Al-Qur'an, hingga ia menghafal dan melaksanakan isinya," ujar Sayyid Qutb.
Perasaan seperti dan sikap ini; yakni sikap menerima ajaran Al-Quran untuk dilaksanakan perintahnya, membuat mereka, dengan membaca Al Qur'an, terbukakan gerbang kenikmatan dan ilmu pengetahuan.
Hal itu tidak terjadi jika mereka membaca Al-Qur'an hanya sekadar untuk meneliti, mengkaji dan membacanya. Dengan cara membaca seperti itu, mereka menjadi termudahkan untuk mengamalkan isinya, teringankan beban tugas mereka.
Al-Qur'an merasuk dalam diri mereka, dan setelah itu mereka ejawantahkan dalam manhaj yang realistis dan praksis, yang tidak semata berada dalam otak atau kalimat-kalimat yang tersimpan dalam kertas. Namun menjadi wujud perubahan dan peristiwa yang merubah perjalanan hidup.
Al-Qur'an tidak memberikan khazanahnya kecuali bagi orang yang menerimanya dengan semangat ini: semangat untuk mengetahui, dan kemudian menjalankannya.
Baca juga: Dakwah sebagai Media Pemersatu Ummat
Manhaj Ilahi
Menurut Sayyid Qutb, Al-Qur'an tidak datang untuk sekadar menjadi hiburan otak, ia bukan kitab sastra atau seni, dan bukan pula sebuah kitab kisah atau sejarah --meskipun semua itu terkandung dalam isinya-- namun ia datang agar menjadi manhaj kehidupan. Manhaj Ilahi yang murni.
Oleh karena itu, kata Sayyid Qutb, tidak ada dari mereka yang memperbanyak mempelajari Al-Qur'an dalam sekali duduk, karena ia merasa bahwa dengan memperbanyak membaca perintah Allah SWT itu berarti memperbanyak pula kewajiban dan tugas yang harus ia emban.
"Mereka cukup membaca dan mempelajari sepuluh ayat, setiap kesempatan menelaah Al-Qur'an, hingga ia menghafal dan melaksanakan isinya," ujar Sayyid Qutb.
Perasaan seperti dan sikap ini; yakni sikap menerima ajaran Al-Quran untuk dilaksanakan perintahnya, membuat mereka, dengan membaca Al Qur'an, terbukakan gerbang kenikmatan dan ilmu pengetahuan.
Hal itu tidak terjadi jika mereka membaca Al-Qur'an hanya sekadar untuk meneliti, mengkaji dan membacanya. Dengan cara membaca seperti itu, mereka menjadi termudahkan untuk mengamalkan isinya, teringankan beban tugas mereka.
Al-Qur'an merasuk dalam diri mereka, dan setelah itu mereka ejawantahkan dalam manhaj yang realistis dan praksis, yang tidak semata berada dalam otak atau kalimat-kalimat yang tersimpan dalam kertas. Namun menjadi wujud perubahan dan peristiwa yang merubah perjalanan hidup.
Al-Qur'an tidak memberikan khazanahnya kecuali bagi orang yang menerimanya dengan semangat ini: semangat untuk mengetahui, dan kemudian menjalankannya.
Baca juga: Dakwah sebagai Media Pemersatu Ummat
Manhaj Ilahi
Menurut Sayyid Qutb, Al-Qur'an tidak datang untuk sekadar menjadi hiburan otak, ia bukan kitab sastra atau seni, dan bukan pula sebuah kitab kisah atau sejarah --meskipun semua itu terkandung dalam isinya-- namun ia datang agar menjadi manhaj kehidupan. Manhaj Ilahi yang murni.
Lihat Juga :