Majlis Tasyakur Akbar Milad Attaqwa, UAS Berpesan 5 Pelajaran dari KH Noer Ali
Rabu, 23 Agustus 2023 - 22:52 WIB
loading...
A
A
A
Pelajaran ketiga adalah, KH Noer Ali tidak menetap di Mekkah atau Madinah, tetapi memilih kembali ke kampung halaman dan berjuang membangun pondok pesantren.
“KH. Noer Ali rela mewakafkan harta, tenaga dan waktunya untuk membangun umat melalui pondok pesantren ini. Inilah yang akan menjadi amal jariyah yang akan selalu mengalir pahalanya untuk beliau. Artinya, beliau ingin mengatakan gunakan ilmu dan hartamu di jalan Allah supaya kekal,” jelas UAS.
Pelajaran keempat, beliau terjun ke dalam dunia politik. “Beliau masuk ke Partai Masyumi. Bahkan menjadi ketua Masyumi dan anggota Majlis Konstituante,” tegas UAS.
UAS menambahkan, bahwa para ustadz bisa berteriak-teriak di forum dakwah, tapi harus ada orang-orang baik yang jihad di jalur konstitusi. Karena dengan orang-orang sholih masuk ke parlemen, maka akan hadir undang-undang dan peraturan yang juga sholih.
Politik menurut UAS, juga adalah alat meraih kekuasaan. Maka jihad politik harus dilakukan dengan menghadirkan orang-orang yang baik dan amanah memperjuangkan islam dan aspirasi umat islam.
Pelajaran kelima adalah, KH Noer Ali berjuang angkat senjata melawan penjajah, hingga diberi gelar ‘Singa Karawang-Bekasi’. Beliau tidak takut mati. “Semua tokoh pemberani bergelar ‘Singa’, ada Sisingamaraja di Sumatera Utara, juga ada Richard the Lion Heart di Inggris,” jelas UAS.
Dalam taushiahnya UAS mengimbau kaum muslimin di seluruh Indonesia, agar menggunakan protokol Attaqwa jika mengundang UAS. Sebab ia merasa nyaman berceramah di Attaqwa. Salah satunya karena jamaah lelaki tidak bercampur dengan jamaah perempuan.
Ketika datang, ia pun dikawal santri-santri Pramuka, sehingga tidak terlalu capek bersalaman dengan jamaah. Ceramah UAS pun di akhiri dengan pantun “Menangkap puyuh di bukit selasih, thank you dan terima kasih”.
Pada acara Majlis Tasyakur Akbar tersebut juga ditandatangani langsung oleh UAS prasasti pembangunan fasilitas gedung pusat kegiatan pondok dan santri yang dinamakan Attaqwa Putra Center KH Nurul Anwar.
Gedung yang diproyeksikan berlantai tiga tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas seluruh proses pendidikan di salah satu pesantren tertua di Bekasi ini.
“KH. Noer Ali rela mewakafkan harta, tenaga dan waktunya untuk membangun umat melalui pondok pesantren ini. Inilah yang akan menjadi amal jariyah yang akan selalu mengalir pahalanya untuk beliau. Artinya, beliau ingin mengatakan gunakan ilmu dan hartamu di jalan Allah supaya kekal,” jelas UAS.
Pelajaran keempat, beliau terjun ke dalam dunia politik. “Beliau masuk ke Partai Masyumi. Bahkan menjadi ketua Masyumi dan anggota Majlis Konstituante,” tegas UAS.
UAS menambahkan, bahwa para ustadz bisa berteriak-teriak di forum dakwah, tapi harus ada orang-orang baik yang jihad di jalur konstitusi. Karena dengan orang-orang sholih masuk ke parlemen, maka akan hadir undang-undang dan peraturan yang juga sholih.
Politik menurut UAS, juga adalah alat meraih kekuasaan. Maka jihad politik harus dilakukan dengan menghadirkan orang-orang yang baik dan amanah memperjuangkan islam dan aspirasi umat islam.
Pelajaran kelima adalah, KH Noer Ali berjuang angkat senjata melawan penjajah, hingga diberi gelar ‘Singa Karawang-Bekasi’. Beliau tidak takut mati. “Semua tokoh pemberani bergelar ‘Singa’, ada Sisingamaraja di Sumatera Utara, juga ada Richard the Lion Heart di Inggris,” jelas UAS.
Dalam taushiahnya UAS mengimbau kaum muslimin di seluruh Indonesia, agar menggunakan protokol Attaqwa jika mengundang UAS. Sebab ia merasa nyaman berceramah di Attaqwa. Salah satunya karena jamaah lelaki tidak bercampur dengan jamaah perempuan.
Ketika datang, ia pun dikawal santri-santri Pramuka, sehingga tidak terlalu capek bersalaman dengan jamaah. Ceramah UAS pun di akhiri dengan pantun “Menangkap puyuh di bukit selasih, thank you dan terima kasih”.
Pada acara Majlis Tasyakur Akbar tersebut juga ditandatangani langsung oleh UAS prasasti pembangunan fasilitas gedung pusat kegiatan pondok dan santri yang dinamakan Attaqwa Putra Center KH Nurul Anwar.
Gedung yang diproyeksikan berlantai tiga tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas seluruh proses pendidikan di salah satu pesantren tertua di Bekasi ini.
(thm)
Lihat Juga :