4 Tingkatan Orang yang Ditimpa Musibah Menurut Syaikh Al-Utsaimin
Sabtu, 02 September 2023 - 12:18 WIB
loading...
A
A
A
Allah SWT berfirman :
“Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” ( QS Al-Anfal/8 : 46)
Tingkatan ke-3, rida. Yakni manusia rida dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. ia pun tidak merasa berat memikulnya.
"Ini dianjurkan dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat," Syaikh Al-Utsaimin.
Perbedaan tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya, menurutnya, tampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridha. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.
Tingkatan ke-4, bersyukur. Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Di sini seseorang bersyukur atas musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya bahkan mungkin malah menambah kebaikannya. Nabi SAW bersabda.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah sampaipun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya” (HR. Al-Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573)
Baca juga: Waspada dengan Sikap Mencela Takdir
وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” ( QS Al-Anfal/8 : 46)
Tingkatan ke-3, rida. Yakni manusia rida dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. ia pun tidak merasa berat memikulnya.
"Ini dianjurkan dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat," Syaikh Al-Utsaimin.
Perbedaan tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya, menurutnya, tampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridha. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.
Tingkatan ke-4, bersyukur. Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Di sini seseorang bersyukur atas musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya bahkan mungkin malah menambah kebaikannya. Nabi SAW bersabda.
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاه
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah sampaipun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya” (HR. Al-Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573)
Baca juga: Waspada dengan Sikap Mencela Takdir
(mhy)
Lihat Juga :