Hati adalah Sumber Kebaikan dan Keburukan Amal Perbuatan, Begini Penjelasannya
Rabu, 27 September 2023 - 14:25 WIB
loading...
A
A
A
Adh-Dhahak berkata: “Yakni selamat dan bersih.” Imam Al-Qurthubi berkomentar: “Penafsiran ini bagus dan menghimpun semua pendapat yaitu bersih dari sifat-sifat yang tercela dan berhias dengan sifat-sifat yang indah.”105
Lantas, bagaimana caranya meraih hati yang bersih? Ada beberapa kiat jitu untuk meraihnya yang seandainya kita melaksanakannya maka kita akan segera meraihnya dengan izin Allah. Dalam risalah Wasa’il Tazkiyah Nufus karya Shadiq bin Muhammad Shadiq al-Baidhani disebutkan di antaranya adalah:
1. Doa dan memohon kepada Allah.
Tak dipungkiri bahwa hamba memiliki peran dalam penyucian hatinya. Namun, perlu disadari bahwa yang memberikan taufik kesucian dan kebeningan hati semata-mata hanya Allah. Maka, seorang hamba, dalam setiap detiknya selalu membutuhkan Allah dan memohon kepada-Nya agar Allah menganugerahkan kepadanya kebeningan hati. Oleh karena itulah, Nabi SAW mengajarkan kepada kita untuk berdoa:
Allahumma aati nafsii taqwaahaa wa zakkihaa anta khoiru man zakkaahaa anta waliyyuhaa wa maulaahaa
Artinya: “Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaan dan sucikanlah jiwa karena Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang menyucikannya.” (HR Muslim)
Baca juga: Hati-hati, Penyakit Hati Ini Sering Tak Sadar Dilakukan!
2. Berilmu
Ilmu merupakan kunci jitu untuk meraih kesucian hati. Sebab, kesucian hati itu diraih dengan melaksanakan ketaatan serta menjauhi larangan secara ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Dan hal itu tidak mungkin terwujudkan kecuali dengan ilmu. Oleh karenanya, Nabi SAW bersabda: “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan pahamkan ia dalam agama-Nya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Maka, Nabi SAW menjadikan ilmu agama sebagai faktor semua kebaikan, karena dengan ilmu dia mampu beribadah kepada Allah secara benar.
Lantas, bagaimana caranya meraih hati yang bersih? Ada beberapa kiat jitu untuk meraihnya yang seandainya kita melaksanakannya maka kita akan segera meraihnya dengan izin Allah. Dalam risalah Wasa’il Tazkiyah Nufus karya Shadiq bin Muhammad Shadiq al-Baidhani disebutkan di antaranya adalah:
1. Doa dan memohon kepada Allah.
Tak dipungkiri bahwa hamba memiliki peran dalam penyucian hatinya. Namun, perlu disadari bahwa yang memberikan taufik kesucian dan kebeningan hati semata-mata hanya Allah. Maka, seorang hamba, dalam setiap detiknya selalu membutuhkan Allah dan memohon kepada-Nya agar Allah menganugerahkan kepadanya kebeningan hati. Oleh karena itulah, Nabi SAW mengajarkan kepada kita untuk berdoa:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا
وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا
أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا
أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
Allahumma aati nafsii taqwaahaa wa zakkihaa anta khoiru man zakkaahaa anta waliyyuhaa wa maulaahaa
Artinya: “Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaan dan sucikanlah jiwa karena Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang menyucikannya.” (HR Muslim)
Baca juga: Hati-hati, Penyakit Hati Ini Sering Tak Sadar Dilakukan!
2. Berilmu
Ilmu merupakan kunci jitu untuk meraih kesucian hati. Sebab, kesucian hati itu diraih dengan melaksanakan ketaatan serta menjauhi larangan secara ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Dan hal itu tidak mungkin terwujudkan kecuali dengan ilmu. Oleh karenanya, Nabi SAW bersabda: “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan pahamkan ia dalam agama-Nya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Maka, Nabi SAW menjadikan ilmu agama sebagai faktor semua kebaikan, karena dengan ilmu dia mampu beribadah kepada Allah secara benar.
Lihat Juga :