Ketika Masa Depan Islam dan Muslim Kian Suram di Prancis
Kamis, 28 September 2023 - 12:29 WIB
loading...
Bekas Perdana Menteri Prancis, Edouard Philippe. (MEE)
A
A
A
Setelah pelarangan abaya di sekolah umum, ambang batas baru telah terlampaui dalam Islamofobia yang sudah tidak terkendali di Prancis .
"Serangan terbaru terhadap Islam sebagai sebuah agama, dan Muslim sebagai bagian integral dari penduduk Prancis, sangatlah parah," tulis Dr Alain Gabon dalam artikelnya berjudul "Will France try to legalise apartheid against Muslims?" yang dilansir Middle East Eye, 21 September 2023.
Alain Gabon adalah Associate Professor Studi Perancis dan ketua Departemen Bahasa & Sastra Asing di Virginia Wesleyan University di Virginia Beach, AS.
Ia menyebut untuk pertama kalinya sejak berakhirnya era kolonial di Prancis, seorang politisi negeri itu telah memberikan advokasi dalam bukunya bahwa suatu hari nanti mungkin perlu untuk menerapkan serangkaian undang-undang dan kewajiban yang berbeda terhadap muslim di negara tersebut. Pernyataan itu ditegaskan kembali di saluran radio publik utama France Inter.
Baca juga: Populisme Islamofobia Membuat Muslim di Prancis Khawatir
Dia bukanlah politisi sayap kanan atau politisi pinggiran, melainkan bekas perdana menteri Edouard Philippe. Dia adalah shohib Presiden Emmanuel Macron .
Pada tahun 2021, Philippe mendirikan partai kanan-tengahnya sendiri, Horizons. Sejak itu tetap dekat dengan pemerintahan Macron. Kini, dia menjadi pesaing utama kepemimpinan kaum konservatif dan calon presiden untuk tahun 2027.
Meskipun ia mengatakan dalam wawancaranya bahwa ia memilih untuk tidak mencapai situasi tersebut, Philippe tetap berpendapat bahwa perlakuan berbeda terhadap Islam dan penganutnya kemungkinan besar tidak dapat dihindari dalam waktu dekat.
Alasannya, baginya, sederhana: Islam adalah agama yang berbahaya dan beracun, yang dalam pandangannya diganggu oleh “obskurantisme”, radikalisme, dan ekstremisme. Tren ini tidak terjadi pada agama lain macam: Yudaisme, Kristen, dan politik sayap kanan, dan masih banyak lagi.
Bagi Philippe, hanya Islam yang bermasalah jika dianggap sebagai ancaman eksistensial. Ia menganggap sekularisme Prancis (laicite) dan undang-undang terkenal tahun 1905 tentang pemisahan gereja dan negara tidak akan cukup kuat untuk menjinakkan, mengendalikan, atau mereformasi agama tersebut.
Di sini, Philippe mengaktifkan dan memanfaatkan semua kiasan anti-Muslim yang umum. "Usulan dan komentarnya secara obyektif adalah usulan seorang ekstremis. Namun di Prancis, dia tidak mengambil risiko apa pun, dan dia tahu itu," ujar Alain Gabon.
"Serangan terbaru terhadap Islam sebagai sebuah agama, dan Muslim sebagai bagian integral dari penduduk Prancis, sangatlah parah," tulis Dr Alain Gabon dalam artikelnya berjudul "Will France try to legalise apartheid against Muslims?" yang dilansir Middle East Eye, 21 September 2023.
Alain Gabon adalah Associate Professor Studi Perancis dan ketua Departemen Bahasa & Sastra Asing di Virginia Wesleyan University di Virginia Beach, AS.
Ia menyebut untuk pertama kalinya sejak berakhirnya era kolonial di Prancis, seorang politisi negeri itu telah memberikan advokasi dalam bukunya bahwa suatu hari nanti mungkin perlu untuk menerapkan serangkaian undang-undang dan kewajiban yang berbeda terhadap muslim di negara tersebut. Pernyataan itu ditegaskan kembali di saluran radio publik utama France Inter.
Baca juga: Populisme Islamofobia Membuat Muslim di Prancis Khawatir
Dia bukanlah politisi sayap kanan atau politisi pinggiran, melainkan bekas perdana menteri Edouard Philippe. Dia adalah shohib Presiden Emmanuel Macron .
Pada tahun 2021, Philippe mendirikan partai kanan-tengahnya sendiri, Horizons. Sejak itu tetap dekat dengan pemerintahan Macron. Kini, dia menjadi pesaing utama kepemimpinan kaum konservatif dan calon presiden untuk tahun 2027.
Meskipun ia mengatakan dalam wawancaranya bahwa ia memilih untuk tidak mencapai situasi tersebut, Philippe tetap berpendapat bahwa perlakuan berbeda terhadap Islam dan penganutnya kemungkinan besar tidak dapat dihindari dalam waktu dekat.
Alasannya, baginya, sederhana: Islam adalah agama yang berbahaya dan beracun, yang dalam pandangannya diganggu oleh “obskurantisme”, radikalisme, dan ekstremisme. Tren ini tidak terjadi pada agama lain macam: Yudaisme, Kristen, dan politik sayap kanan, dan masih banyak lagi.
Bagi Philippe, hanya Islam yang bermasalah jika dianggap sebagai ancaman eksistensial. Ia menganggap sekularisme Prancis (laicite) dan undang-undang terkenal tahun 1905 tentang pemisahan gereja dan negara tidak akan cukup kuat untuk menjinakkan, mengendalikan, atau mereformasi agama tersebut.
Di sini, Philippe mengaktifkan dan memanfaatkan semua kiasan anti-Muslim yang umum. "Usulan dan komentarnya secara obyektif adalah usulan seorang ekstremis. Namun di Prancis, dia tidak mengambil risiko apa pun, dan dia tahu itu," ujar Alain Gabon.
Lihat Juga :