Maulid Nabi, Peringatan Keteladanan Rasulullah dalam Menyempurnakan Akhlak Manusia
Sabtu, 30 September 2023 - 10:00 WIB
loading...
A
A
A
"Yang namanya bid'ah itu kalau salat dua rakaat pada waktu subuh, lalu dijadikan empat rakaat atau tiga rakaat. Jadi masalah-masalah yang menyangkut ibadah mahdoh. Kalau ibadahnya yang ghoiru mahdoh, seperti muamalah dan yang sejenisnya, maka itu boleh dikreasikan umat Islam dalam mempraktikkan nilai-nilai agama itu ke dalam tradisinya dan masyarakatnya agar ajaran Islam bisa dikenal," ujarnya.
Rektor IAIN Palangka Raya periode 2019-2023 ini berpesan kepada umat beragama harus memiliki karakter toleran terhadap perbedaan. Konsep moderasi beragama bisa dijalankan jika umat manusia itu bisa menerima segala perbedaan yang ada.
"Tentu toleransi yang dimaksud di sini adalah toleransi yang aktif. Maksudnya, walaupun kita berbeda agama atau suku, tidak hanya kita menghormati, namun juga kita harus bisa bekerja sama sepanjang tidak melanggar prinsip agama atau peraturan pemerintah yang sah," kata Prof Khairil.
Dia memberikan perumpamaan dengan perbedaan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Perbedaan dua kelompok ormas Islam ini bisa disikapi dengan mengatakan ‘lanaa a’maluna wa lakum a’malukum’, yang artinya ‘bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian’. Intinya, silakan kerjakan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.
"Begitu juga jika terjadi perbedaan dalam pilihan politik, bisa disikapi dengan mengatakan ‘bagi kami partai kami, bagimu partai kamu.’ Banyak perbedaan lain yang juga bisa disikapi dengan cara yang sama. Jadi di suasana yang begitu banyak perbedaan, baik dari sisi politik, praktik ibadah, atau agama, saya kira itu harus bisa disikapi dengan saling menghormati, menghargai, dan bisa bekerja sama," katanya.
Rektor IAIN Palangka Raya periode 2019-2023 ini berpesan kepada umat beragama harus memiliki karakter toleran terhadap perbedaan. Konsep moderasi beragama bisa dijalankan jika umat manusia itu bisa menerima segala perbedaan yang ada.
"Tentu toleransi yang dimaksud di sini adalah toleransi yang aktif. Maksudnya, walaupun kita berbeda agama atau suku, tidak hanya kita menghormati, namun juga kita harus bisa bekerja sama sepanjang tidak melanggar prinsip agama atau peraturan pemerintah yang sah," kata Prof Khairil.
Dia memberikan perumpamaan dengan perbedaan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Perbedaan dua kelompok ormas Islam ini bisa disikapi dengan mengatakan ‘lanaa a’maluna wa lakum a’malukum’, yang artinya ‘bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian’. Intinya, silakan kerjakan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.
"Begitu juga jika terjadi perbedaan dalam pilihan politik, bisa disikapi dengan mengatakan ‘bagi kami partai kami, bagimu partai kamu.’ Banyak perbedaan lain yang juga bisa disikapi dengan cara yang sama. Jadi di suasana yang begitu banyak perbedaan, baik dari sisi politik, praktik ibadah, atau agama, saya kira itu harus bisa disikapi dengan saling menghormati, menghargai, dan bisa bekerja sama," katanya.
(abd)
Lihat Juga :