Catatan Harian Sultan Ottoman Menolak Menjual Palestina kepada Zionis
Selasa, 10 Oktober 2023 - 16:46 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Pewaris Pendiri Zionis: Israel dan Perusahaan Zionis Dilahirkan dalam Dosa
Dalam surat itu disebutkan; “Nasihatilah temanmu Herzl agar dia tidak mengambil langkah-langkah baru mengenai masalah ini, sebab saya tidak bisa mundur dari tanah suci ini (Palestina) walaupun hanya sejengkal. Sebab tanah ini bukanlah milik saya. Dia adalah milik bangsa dan rakyat saya. Nenek moyang saya telah berjuang demi mendapatkan tanah ini.”
“Mereka telah menyiraminya dengan ceceran darah. Maka biarkanlah orang-orang Yahudi itu menggenggam jutaan uang mereka. Jika negeriku tercabik-cabik, maka sangat mungkin mendapatkan negeri Palestina, tanpa ada imbalan dan balasan apapun.”
“Namun patut diingat,” lanjut Sultan Abdul Hamid, “Bahwa hendaknya pencabik-cabikan itu dimulai dari tubuh dan raga kami. Namun tentunya saya juga tidak akan menerima, raga saya dicabik-cabik sepanjang hayat masih di kandung badan.”
Masalah ini dicatat Sultan Abdul Hamid dalam buku catatan hariannya: “Adalah sangat pantas kita mengolah tanah kosong yang menjadi milik pemerintah. Ini berarti bahwa kita bisa melakukan usaha transmigrasi khusus. Namun kami tidak melihat transmigrasi orang-orang Yahudi itu sebagai sesuatu yang pantas. Sebab tujuan kita adalah menempatkan orang-orang yang loyal terhadap agama dan tradisi nenek moyang kita hingga mereka (orang-orang Yahudi) menguasai dan menyetir urusan-urusan pemerintahan.”
Penekan
Zionis menjadikan negara-negara Eropa sebagai penekan terhadap pemerintahan Utsmani. Pada saat itu, pemerintahan Utsmani sedang dilanda krisis keuangan dari hampir segala segi. Ekonomi negeri Utsmani benar-benar berada dalam ambang batas yang sangat memprihatinkan dan berada di ambang kehancuran.
Baca juga: Zionis 'Butuh' Perang dengan Palestina untuk Tetap Eksis
Parahnya, Pemerintah Utsmani banyak berutang dengan negara-negara Eropa. Akibatnya, negeri itu mewajibkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid untuk menerima delegasi keuangan mereka. Delegasi tersebut bertugas memberikan konsultasi masalah keuangan, agar pemerintahan Utsmani mampu membayar utang-utangnya.
Lubang ini merupakan satu-satunya jalan yang terbuka bagi Theodore Herzl untuk bisa mempengaruhi kebijakan politik Sultan Abdul Hamid II terhadap orang-orang Yahudi.
Dalam surat itu disebutkan; “Nasihatilah temanmu Herzl agar dia tidak mengambil langkah-langkah baru mengenai masalah ini, sebab saya tidak bisa mundur dari tanah suci ini (Palestina) walaupun hanya sejengkal. Sebab tanah ini bukanlah milik saya. Dia adalah milik bangsa dan rakyat saya. Nenek moyang saya telah berjuang demi mendapatkan tanah ini.”
“Mereka telah menyiraminya dengan ceceran darah. Maka biarkanlah orang-orang Yahudi itu menggenggam jutaan uang mereka. Jika negeriku tercabik-cabik, maka sangat mungkin mendapatkan negeri Palestina, tanpa ada imbalan dan balasan apapun.”
“Namun patut diingat,” lanjut Sultan Abdul Hamid, “Bahwa hendaknya pencabik-cabikan itu dimulai dari tubuh dan raga kami. Namun tentunya saya juga tidak akan menerima, raga saya dicabik-cabik sepanjang hayat masih di kandung badan.”
Masalah ini dicatat Sultan Abdul Hamid dalam buku catatan hariannya: “Adalah sangat pantas kita mengolah tanah kosong yang menjadi milik pemerintah. Ini berarti bahwa kita bisa melakukan usaha transmigrasi khusus. Namun kami tidak melihat transmigrasi orang-orang Yahudi itu sebagai sesuatu yang pantas. Sebab tujuan kita adalah menempatkan orang-orang yang loyal terhadap agama dan tradisi nenek moyang kita hingga mereka (orang-orang Yahudi) menguasai dan menyetir urusan-urusan pemerintahan.”
Penekan
Zionis menjadikan negara-negara Eropa sebagai penekan terhadap pemerintahan Utsmani. Pada saat itu, pemerintahan Utsmani sedang dilanda krisis keuangan dari hampir segala segi. Ekonomi negeri Utsmani benar-benar berada dalam ambang batas yang sangat memprihatinkan dan berada di ambang kehancuran.
Baca juga: Zionis 'Butuh' Perang dengan Palestina untuk Tetap Eksis
Parahnya, Pemerintah Utsmani banyak berutang dengan negara-negara Eropa. Akibatnya, negeri itu mewajibkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid untuk menerima delegasi keuangan mereka. Delegasi tersebut bertugas memberikan konsultasi masalah keuangan, agar pemerintahan Utsmani mampu membayar utang-utangnya.
Lubang ini merupakan satu-satunya jalan yang terbuka bagi Theodore Herzl untuk bisa mempengaruhi kebijakan politik Sultan Abdul Hamid II terhadap orang-orang Yahudi.
Lihat Juga :