Catatan Harian Sultan Ottoman Menolak Menjual Palestina kepada Zionis
Selasa, 10 Oktober 2023 - 16:46 WIB
loading...
Sultan Abdul Hamid II dalam film Payitaht. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Buku catatan harian penguasa Ottoman atau Utsmaniyah , Sultan Abdul Hamid II , antara lain berisi surat Sultan yang ditujukan kepada pemimpin gerakan Zionisme internasional, Theodore Herzl. Surat itu berisi penolakan keras Sultan atas permintaan Zionis internasional untuk menjual bumi Palestina kepada mereka. Kala itu, Ottoman tengah dilanda krisis keuangan yang parah akibat utang yang menggunung.
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah" menjelaskan kala itu Palestina adalah bagian dari Utsmaniyah.
Theodore Herzl yang sukses mendapatkan dukungan dari Eropa seperti Jerman , lnggris, dan ltalia terus berjuang menembus penguasa Utsmani agar bisa membeli Palestina.
Baca juga: Profil Chaim Weizmann, Presiden Pertama Israel dan Tokoh Zionis Internasional
Ash-Shalabi mencatat Herzl berangkat menuju Konstantinopel pada bulan Juni tahun 1896 M. Pada kunjungannya ini, dia ditemani oleh Neolanski yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Sultan Abdul Hamid. Akibat dari kunjungan ini, Neolanski telah memindahkan pandangan-pandangan Herzl ke istana Yaldaz.
Pada saat itu terjadi dialog antara Sultan dengan Neolanski. Kala itu Sultan berkata padanya, “Apakah mungkin bagi orang-orang Yahudi untuk tinggal di tempat lain selain Palestina?”
Neolanski menjawab, “Palestina dianggap sebagai tanah tumpah darah pertama bagi orang-orang Yahudi, oleh karenanya orang-orang Yahudi sangat merindukan untuk bisa kembali ke tanah itu.”
Sultan menimpali, “Sesungguhnya Palestina tidaklah dianggap sebagai tempat kelahiran pertama bagi orang-orang Yahudi saja, namun juga oleh semua agama yang lain.”
Neolanski menjawab, “Orang-orang Yahudi tidak mungkin untuk mengambil Palestina, maka sesungguhnya mereka akan berusaha pergi dengan cara yang sangat sederhana untuk menuju Argentina."
Maka Sultan Abdul Hamid segera mengirimkan surat pada Herzl melalui perantaraan temannya Neolanski.
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah" menjelaskan kala itu Palestina adalah bagian dari Utsmaniyah.
Theodore Herzl yang sukses mendapatkan dukungan dari Eropa seperti Jerman , lnggris, dan ltalia terus berjuang menembus penguasa Utsmani agar bisa membeli Palestina.
Baca juga: Profil Chaim Weizmann, Presiden Pertama Israel dan Tokoh Zionis Internasional
Ash-Shalabi mencatat Herzl berangkat menuju Konstantinopel pada bulan Juni tahun 1896 M. Pada kunjungannya ini, dia ditemani oleh Neolanski yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Sultan Abdul Hamid. Akibat dari kunjungan ini, Neolanski telah memindahkan pandangan-pandangan Herzl ke istana Yaldaz.
Pada saat itu terjadi dialog antara Sultan dengan Neolanski. Kala itu Sultan berkata padanya, “Apakah mungkin bagi orang-orang Yahudi untuk tinggal di tempat lain selain Palestina?”
Neolanski menjawab, “Palestina dianggap sebagai tanah tumpah darah pertama bagi orang-orang Yahudi, oleh karenanya orang-orang Yahudi sangat merindukan untuk bisa kembali ke tanah itu.”
Sultan menimpali, “Sesungguhnya Palestina tidaklah dianggap sebagai tempat kelahiran pertama bagi orang-orang Yahudi saja, namun juga oleh semua agama yang lain.”
Neolanski menjawab, “Orang-orang Yahudi tidak mungkin untuk mengambil Palestina, maka sesungguhnya mereka akan berusaha pergi dengan cara yang sangat sederhana untuk menuju Argentina."
Maka Sultan Abdul Hamid segera mengirimkan surat pada Herzl melalui perantaraan temannya Neolanski.
Lihat Juga :