Kisah Huyay bin Akhthab Bertahan Yahudi, Putrinya Diperistri Nabi Muhammad SAW
Kamis, 19 Oktober 2023 - 19:06 WIB
loading...
A
A
A
Akan tetapi, kaumnya menjawab, “Engkau berdusta!” Riwayat ini tidak menyebutkan apakah kemudian Abdullah memberitahu Rasulullah dan para sahabatnya penjelasan tertulis dalam Taurat mengenai pertanda kenabian tersebut atau tidak.
Baca juga: Piagam Madinah: Bukan Sekadar Perjanjian dengan Kaum Yahudi
Dalam riwayat dari Sa'id bin Jubair (w. 94 H), terdapat kemiripan dari beberapa segi dengan riwayat Abdullah bin Salam. Sa'id menuturkan, Maimun bin Yamin, seorang pemimpin Yahudi, datang kepada Rasulullah dan menyarankan, 'Kirimlah utusan kepada kaum itu, dan jadikan aku mediator, niscaya mereka mendengarkanku.'
Beliau pun mengutus salah seorang Sahabat guna meminta orang-orang Yahudi datang. Setelah berkumpul, beliau berseru, “Pilihlah seseorang untuk menengahi antara aku dan kalian.”
Mereka menjawab, “Kami percaya pada Maimun bin Yamin.”
Kemudian, beliau menemui Maimun dan berkata, “Keluarlah, temui mereka.”
Maimun keluar dan berkata, “Aku bersaksi bahwa dia utusan Allah.” Alhasil, mereka tetap enggan membenarkan persaksian Maimun.
Maka itu, al-Quran turun menegur orang-orang Yahudi yang ingkar, menyebut mereka zalim, seraya memuji persaksian Abdullah bin Salam akan kebenaran Rasulullah dan kenabiannya dalam ayat berikut:
“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku, bagaimana pendapatmu jika benar-benar (al-Quran) ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Ouran lalu dia beriman, tetapi kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” ( QS al-Ahqaf (46) : 10).
Baca juga: Piagam Madinah dan Terusirnya Kaum Yahudi dari Tanah Suci
Meskipun demikian, pemuka kaum Yahudi seperti Huyay bin Akhthab dan Ka'ab bin Asad, pemimpin Bani Quraizhah, dan yang lainnya tetap membangkang dan bersikap sombong. Mereka menyanggah Abdullah, “Tidak ada kenabian dalam bangsa Arab, tetapi temanmu itu (Muhammad) adalah seorang raja.”
Pada saat Perang Khaibar, pasukan muslim berhasil menaklukkan kaum Yahudi. Huyay bin Akhthab gugur dalam perang itu. Sayyidah Shafiyah menjadi salah satu tawanan. Rasulullah memberikan pilihan kepada Sayyidah Shafiyah, apakah ingin dimerdekakan, kemudian akan dikembalikan kepada kaumnya yang masih hidup di Khaibar, ataukah ingin masuk Islam kemudian dinikahi oleh Rasulullah.
Sayyidah Shafiyah memilih untuk masuk Islam dan menikah dengan beliau, dengan emas kawin kemerdekaannya.
Pada saat itu, Sayyidah Shafiyah berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, saya memeluk Islam dan saya sudah percaya kepadamu sebelum engkau mengajak saya. Saya sudah sampai pada perjalananmu. Saya tidak punya keperluan kepada orang-orang Yahudi. Saya sudah tidak mempunyai bapak, dan tidak mempunyai saudara yang merdeka. Lalu untuk apa saya kembali kepada kaumku?”
Baca juga: Mengapa Perjanjian Yahudi dengan Kaum Muslimin Dinamakan Piagam Madinah?
Baca juga: Piagam Madinah: Bukan Sekadar Perjanjian dengan Kaum Yahudi
Dalam riwayat dari Sa'id bin Jubair (w. 94 H), terdapat kemiripan dari beberapa segi dengan riwayat Abdullah bin Salam. Sa'id menuturkan, Maimun bin Yamin, seorang pemimpin Yahudi, datang kepada Rasulullah dan menyarankan, 'Kirimlah utusan kepada kaum itu, dan jadikan aku mediator, niscaya mereka mendengarkanku.'
Beliau pun mengutus salah seorang Sahabat guna meminta orang-orang Yahudi datang. Setelah berkumpul, beliau berseru, “Pilihlah seseorang untuk menengahi antara aku dan kalian.”
Mereka menjawab, “Kami percaya pada Maimun bin Yamin.”
Kemudian, beliau menemui Maimun dan berkata, “Keluarlah, temui mereka.”
Maimun keluar dan berkata, “Aku bersaksi bahwa dia utusan Allah.” Alhasil, mereka tetap enggan membenarkan persaksian Maimun.
Maka itu, al-Quran turun menegur orang-orang Yahudi yang ingkar, menyebut mereka zalim, seraya memuji persaksian Abdullah bin Salam akan kebenaran Rasulullah dan kenabiannya dalam ayat berikut:
“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku, bagaimana pendapatmu jika benar-benar (al-Quran) ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Ouran lalu dia beriman, tetapi kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” ( QS al-Ahqaf (46) : 10).
Baca juga: Piagam Madinah dan Terusirnya Kaum Yahudi dari Tanah Suci
Meskipun demikian, pemuka kaum Yahudi seperti Huyay bin Akhthab dan Ka'ab bin Asad, pemimpin Bani Quraizhah, dan yang lainnya tetap membangkang dan bersikap sombong. Mereka menyanggah Abdullah, “Tidak ada kenabian dalam bangsa Arab, tetapi temanmu itu (Muhammad) adalah seorang raja.”
Pada saat Perang Khaibar, pasukan muslim berhasil menaklukkan kaum Yahudi. Huyay bin Akhthab gugur dalam perang itu. Sayyidah Shafiyah menjadi salah satu tawanan. Rasulullah memberikan pilihan kepada Sayyidah Shafiyah, apakah ingin dimerdekakan, kemudian akan dikembalikan kepada kaumnya yang masih hidup di Khaibar, ataukah ingin masuk Islam kemudian dinikahi oleh Rasulullah.
Sayyidah Shafiyah memilih untuk masuk Islam dan menikah dengan beliau, dengan emas kawin kemerdekaannya.
Pada saat itu, Sayyidah Shafiyah berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, saya memeluk Islam dan saya sudah percaya kepadamu sebelum engkau mengajak saya. Saya sudah sampai pada perjalananmu. Saya tidak punya keperluan kepada orang-orang Yahudi. Saya sudah tidak mempunyai bapak, dan tidak mempunyai saudara yang merdeka. Lalu untuk apa saya kembali kepada kaumku?”
Baca juga: Mengapa Perjanjian Yahudi dengan Kaum Muslimin Dinamakan Piagam Madinah?
(mhy)
Lihat Juga :