Perjanjian Lama Tradisi Rakyat yang Tak Punya Sandaran, Begini Analisis Maurice Bucaille
Minggu, 22 Oktober 2023 - 16:56 WIB
loading...
A
A
A
Hal tersebut mendorong Edmond Jacob untuk menulis "karena dijiwai oleh fungsi dongeng, maka penyajian hikayat seperti tersebut di atas tidak dirasakan janggal karena mengenai soal-soal dan periode-periode yang sejarahnya tak dikenal orang."
Edmond Jacob kemudian menyimpulkan: "Adalah sangat mungkin bahwa apa yang dikisahkan oleh Perjanjian Lama tentang Nabi Musa dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi tidak sesuai dengan yang terjadi dalam sejarah, akan tetapi para tukang dongeng dalam masa riwayat secara lisan sudah dapat mengisikan keindahan dan imaginasi untuk merangkai episode yang bermacam-macam, sehingga mereka berhasil menyajikannya sebagai sejarah yang tampak besar kemungkinan kebenarannya bagi pikiran-pikiran yang kritis, yaitu sejarah yang mengenai asal alam dan manusia."
Perlu kita ingat bahwa setelah bangsa Yahudi tinggal di Kan'an, yakni kira-kira pada akhir abad XIII sebelum al Masih, tulisan sudah mulai dipakai untuk memelihara dan meriwayatkan dongeng-dongeng, akan tetapi tidak secara tepat, meskipun yang dikatakan itu mengenai hal-hal yang harus tepat sekali, yakni soal hukum.
Mengenai hukum ini, perlu diterangkan bahwa hukum sepuluh (Dekalog) yang dikatakan telah datang langsung dari tangan Tuhan telah diriwayatkan dalam Perjanjian Lama menurut dua versi yakni:
Kitab Keluaran (Exodus 20, 1-21) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy 5, 1-30). Jiwanya sama, tetapi perbedaan tetap ada. Kemudian muncul keinginan untuk menetapkan dokumentasi-dokumentasi penting seperti kontrak, surat-surat, daftar orang-orang (hakim-hakim, pegawai-pegawai tinggi di kota-kota), daftar silsilah keturunan, daftar korban-korban dan daftar harta jarahan.
Baca juga: Vatikan Bantah Paus Fransiskus Mempertanyakan Validitas Taurat
Dengan begitu, terjadilah arsip-arsip yang berisi dokumen-dokumen yang kemudian mengisi kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian Lama yang sekarang ini. Dengan begitu dalam tiap-tiap fasal terdapat bentuk literer yang tercampur.
Para ahli kemudian menyelidiki sebab-sebab yang mendorong untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang berbeda-beda menjadi satu.
Adalah sangat menarik untuk membandingkan penyusunan Perjanjian Lama dengan dasar tradisi lisan, dengan apa yang terjadi di bidang lain dan pada zaman yang berlainan, yaitu masa timbulnya kesusasteraan primitif.
"Marilah kita mengambil contoh dari sastra Perancis pada zaman Kerajaan Perancis," ujar Maurice Bucaille. "Tradisi-tradisi lisan telah muncul lebih dahulu sebelum peristiwa sejarah yang besar dicatat dalam sejarah, yakni kejadian seperti perang untuk mempertahankan agama Kristen, drama tentang pahlawan-pahlawan yang kemudian diabadikan oleh pengarang-pengarang dan penulis-penulis sejarah."
Edmond Jacob kemudian menyimpulkan: "Adalah sangat mungkin bahwa apa yang dikisahkan oleh Perjanjian Lama tentang Nabi Musa dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi tidak sesuai dengan yang terjadi dalam sejarah, akan tetapi para tukang dongeng dalam masa riwayat secara lisan sudah dapat mengisikan keindahan dan imaginasi untuk merangkai episode yang bermacam-macam, sehingga mereka berhasil menyajikannya sebagai sejarah yang tampak besar kemungkinan kebenarannya bagi pikiran-pikiran yang kritis, yaitu sejarah yang mengenai asal alam dan manusia."
Perlu kita ingat bahwa setelah bangsa Yahudi tinggal di Kan'an, yakni kira-kira pada akhir abad XIII sebelum al Masih, tulisan sudah mulai dipakai untuk memelihara dan meriwayatkan dongeng-dongeng, akan tetapi tidak secara tepat, meskipun yang dikatakan itu mengenai hal-hal yang harus tepat sekali, yakni soal hukum.
Mengenai hukum ini, perlu diterangkan bahwa hukum sepuluh (Dekalog) yang dikatakan telah datang langsung dari tangan Tuhan telah diriwayatkan dalam Perjanjian Lama menurut dua versi yakni:
Kitab Keluaran (Exodus 20, 1-21) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy 5, 1-30). Jiwanya sama, tetapi perbedaan tetap ada. Kemudian muncul keinginan untuk menetapkan dokumentasi-dokumentasi penting seperti kontrak, surat-surat, daftar orang-orang (hakim-hakim, pegawai-pegawai tinggi di kota-kota), daftar silsilah keturunan, daftar korban-korban dan daftar harta jarahan.
Baca juga: Vatikan Bantah Paus Fransiskus Mempertanyakan Validitas Taurat
Dengan begitu, terjadilah arsip-arsip yang berisi dokumen-dokumen yang kemudian mengisi kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian Lama yang sekarang ini. Dengan begitu dalam tiap-tiap fasal terdapat bentuk literer yang tercampur.
Para ahli kemudian menyelidiki sebab-sebab yang mendorong untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang berbeda-beda menjadi satu.
Adalah sangat menarik untuk membandingkan penyusunan Perjanjian Lama dengan dasar tradisi lisan, dengan apa yang terjadi di bidang lain dan pada zaman yang berlainan, yaitu masa timbulnya kesusasteraan primitif.
"Marilah kita mengambil contoh dari sastra Perancis pada zaman Kerajaan Perancis," ujar Maurice Bucaille. "Tradisi-tradisi lisan telah muncul lebih dahulu sebelum peristiwa sejarah yang besar dicatat dalam sejarah, yakni kejadian seperti perang untuk mempertahankan agama Kristen, drama tentang pahlawan-pahlawan yang kemudian diabadikan oleh pengarang-pengarang dan penulis-penulis sejarah."