Abu Yazid: Hatiku Bergetar Lalu Aku Hanyut Dilanda Gelombang Ekstase
Kamis, 30 April 2020 - 17:00 WIB
loading...
A
A
A
Abu Yazid ditanya orang, "Bagaimanakah engkau mencapai tingkat kesalehan yang seperti ini?"
"Pada suatu malam ketika aku masih kecil," jawab Abu Yazid, "aku keluar dari kota Bustham. Bulan bersinar terang dan bumi tertidur tenang. Tiba-tiba kulihat suatu kehadiran.
Di sisinya ada delapan belas ribu dunia yang tampaknya sebagai sebuah debu belaka, hatiku bergetar kencang lalu aku hanyut dilanda gelombang ekstase yang dahsyat.
Aku berseru "Ya Allah, sebuah istana yang sedemikian besarnya tapi sedemikian kosongnya. Hasil karya yang sedemikian agung tapi begitu sepi?"
Lalu terdengar olehku sebuah jawaban dari langit. "Istana ini kosong bukan karena tak seorangpun memasukinya tetapi Kami tidak memperkenankan setiap orang untuk memasukinya. Tak seorang manusia yang tak mencuci muka-pun yang pantas menghuni istana ini".
"Maka aku lalu bertekat untuk mendo’akan semua manusia. Kemudian terpikirlah olehku bahwa yang berhak untuk menjadi penengah manusia adalah Muhammad SAW. Oleh karena itu aku hanya memperhatikan tingkah lakuku sendiri. Kemudian terdengarlah suara yang menyeruku.
"Karena engkau berjaga-jaga untuk selalu bertingkah laku baik, maka Aku muliakan namamu sampai hari Berbangkit nanti dan umat manusia akan menyebutmu." (Baca juga: Abu Yazid, Seekor Anjing, dan Muridnya )
"Pada suatu malam ketika aku masih kecil," jawab Abu Yazid, "aku keluar dari kota Bustham. Bulan bersinar terang dan bumi tertidur tenang. Tiba-tiba kulihat suatu kehadiran.
Di sisinya ada delapan belas ribu dunia yang tampaknya sebagai sebuah debu belaka, hatiku bergetar kencang lalu aku hanyut dilanda gelombang ekstase yang dahsyat.
Aku berseru "Ya Allah, sebuah istana yang sedemikian besarnya tapi sedemikian kosongnya. Hasil karya yang sedemikian agung tapi begitu sepi?"
Lalu terdengar olehku sebuah jawaban dari langit. "Istana ini kosong bukan karena tak seorangpun memasukinya tetapi Kami tidak memperkenankan setiap orang untuk memasukinya. Tak seorang manusia yang tak mencuci muka-pun yang pantas menghuni istana ini".
"Maka aku lalu bertekat untuk mendo’akan semua manusia. Kemudian terpikirlah olehku bahwa yang berhak untuk menjadi penengah manusia adalah Muhammad SAW. Oleh karena itu aku hanya memperhatikan tingkah lakuku sendiri. Kemudian terdengarlah suara yang menyeruku.
"Karena engkau berjaga-jaga untuk selalu bertingkah laku baik, maka Aku muliakan namamu sampai hari Berbangkit nanti dan umat manusia akan menyebutmu." (Baca juga: Abu Yazid, Seekor Anjing, dan Muridnya )
(mhy)
Lihat Juga :