Ini Mengapa Kaum Yahudi Sudi Tinggal di Permukiman Tanah Palestina
Kamis, 02 November 2023 - 15:10 WIB
loading...
Permukiman Yahudi di daerah pendudukan Tepi Barat dianggap PBB ilegal di bawah hukum internasional. Foto/Ilustrasi: BBC/EPA
A
A
A
Pemukim Yahudi memilih tinggal di tanah jajahan dengan berbagai alasan: mulai dari ekonomi, subsidi dari pemerintah, dan juga alasan agama berdasarkan keyakinan bahwa Tuhan menjanjikan lahan untuk umat Yahudi .
Kini, lebih dari 700.000 warga Israel tinggal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki – wilayah yang direbut oleh Israel pada tahun 1967. Khusus mereka yang tinggal di permukinan Tepi Barat, menurut laman Israel Policy Forum, sepertiga warga Yahudi di sana termotivasi oleh ideologi agama.
"Sementara sisanya tertarik ke wilayah tersebut karena potensi untuk meningkatkan kualitas hidup mereka," ujarnya.
Baca juga: Anggota Parlemen Israel Dipukuli Polisi karena Protes Permukiman Yahudi
Pada Juli 2023 lalu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mempromosikan rekor jumlah unit rumah di permukiman di Tepi Barat dalam enam bulan pertama berkuasa.
Pengawas anti-pemukiman Israel Peace Now menyebut sejak Januari 2023, Israel telah memajukan 12.855 unit rumah pemukim di Tepi Barat. Jumlah tertinggi yang tercatat sejak kelompok itu mulai melacak aktivitas semacam itu pada 2012.
"Dalam enam bulan terakhir, satu-satunya sektor yang dipromosikan Israel dengan penuh semangat adalah perusahaan pemukiman," kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan.
Komunitas internasional selama ini menganggap semua permukiman warga Yahudi yang dibangun di atas wilayah pendudukan Tepi Barat merupakan permukiman ilegal.
Sementara Menachem Begin, saat menjadi perdana menteri Israel mengatakan: "Rakyat Yahudi mempunyai hak untuk bermukim di wilayah-wilayah pendudukan."
Baca juga: Netanyahu Tetap Akan Lanjutkan Pembangunan Permukiman Yahudi di Tepi Barat
Paul Findley, dalam bukunya berjudul "Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship" yang diterjemahkan Rahmani Astuti menjadi "Diplomasi Munafik ala Yahudi - Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel" (Mizan, 1995) menyebutnya sebagai omong kosong.
Faktanya, orang-orang Yahudi tidak mempunyai "hak" untuk mendirikan pemukiman-pemukiman di wilayah-wilayah pendudukan, sebagaimana yang berulang kali diperingatkan PBB.
"Namun Israel tetap menentang opini dunia dengan menjajah wilayah-wilayah pendudukan hampir sejak saat berakhirnya perang 1967," ujar Paul Findley.
Kini, lebih dari 700.000 warga Israel tinggal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki – wilayah yang direbut oleh Israel pada tahun 1967. Khusus mereka yang tinggal di permukinan Tepi Barat, menurut laman Israel Policy Forum, sepertiga warga Yahudi di sana termotivasi oleh ideologi agama.
"Sementara sisanya tertarik ke wilayah tersebut karena potensi untuk meningkatkan kualitas hidup mereka," ujarnya.
Baca juga: Anggota Parlemen Israel Dipukuli Polisi karena Protes Permukiman Yahudi
Pada Juli 2023 lalu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mempromosikan rekor jumlah unit rumah di permukiman di Tepi Barat dalam enam bulan pertama berkuasa.
Pengawas anti-pemukiman Israel Peace Now menyebut sejak Januari 2023, Israel telah memajukan 12.855 unit rumah pemukim di Tepi Barat. Jumlah tertinggi yang tercatat sejak kelompok itu mulai melacak aktivitas semacam itu pada 2012.
"Dalam enam bulan terakhir, satu-satunya sektor yang dipromosikan Israel dengan penuh semangat adalah perusahaan pemukiman," kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan.
Komunitas internasional selama ini menganggap semua permukiman warga Yahudi yang dibangun di atas wilayah pendudukan Tepi Barat merupakan permukiman ilegal.
Sementara Menachem Begin, saat menjadi perdana menteri Israel mengatakan: "Rakyat Yahudi mempunyai hak untuk bermukim di wilayah-wilayah pendudukan."
Baca juga: Netanyahu Tetap Akan Lanjutkan Pembangunan Permukiman Yahudi di Tepi Barat
Paul Findley, dalam bukunya berjudul "Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship" yang diterjemahkan Rahmani Astuti menjadi "Diplomasi Munafik ala Yahudi - Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel" (Mizan, 1995) menyebutnya sebagai omong kosong.
Faktanya, orang-orang Yahudi tidak mempunyai "hak" untuk mendirikan pemukiman-pemukiman di wilayah-wilayah pendudukan, sebagaimana yang berulang kali diperingatkan PBB.
"Namun Israel tetap menentang opini dunia dengan menjajah wilayah-wilayah pendudukan hampir sejak saat berakhirnya perang 1967," ujar Paul Findley.
Lihat Juga :