Parenting: Islam Melarang Mencela Anak
Senin, 12 Februari 2024 - 13:15 WIB
loading...
Penting diperhatikan bagi para orang tua, bahwa Islam sangat melarang perbuatan mencela anak. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Penting diperhatikan bagi para orang tua, bahwa Islam sangat melarang perbuatan mencela anak. Mengapa demikian? Karena celaan atau umpatan yang diucapkan orang tua akan sangat membekas di alam bawah sadar anak-anak.
Sering tanpa kita sadari, ketika marah dan emosi memuncak, orang tua suka lepas kontrol bahkan hingga mengeluarkan ucapan-ucapan yang tidak pantas pada anak.
Akibatnya ucapan yang keluar itu adalah ucapan yang kasar dan mencela . "Bisa jadi, kita merasa semakin kasar semakin puas. Hal ini gara-gara terpancing emosi. Padahal sadarkah kita, bahwa kata-kata yang kasar itu bisa melukai perasaan anak. Dan ketika perasaan anak terluka, bisa jadi itu akan terus teringat, bahkan sampai anak kita nanti tua dan menjadi orang tua,"ungkap Ustadz Abdullah Zaen Hafidzhullah dalam kajian Islam ilmiah 'Fiqih Pendidikan Anak' di Jakarta baru-baru ini.
Melupakan kata-kata kasar yang pernah diucapkan, lebih sulit dibanding melupakan hukuman fisik.
Misalnya dulu sama orang tua, mungkin kita pernah dicubit atau dijewer, atau bahkan mungkin dipukul. Dari sekian cubitan dan pukulan yang kita alami, mungkin tidak banyak yang kita ingat. Tapi kata-kata kasar yang menyakitkan itu bisa teringat bertahun-tahun, bahkan mungkin sampai kita mati tidak terlupakan. Itulah efek mengerikan dari kata-kata kasar dan cacian.
"Sebagian orang tua biasa mengatakan anaknya nakal, bahkan –maaf– mengatakan anaknya goblok, bodoh, dan kata-kata kasar lainnya. Karena itu sering terucap, dalam sehari bisa berkali-kali. Sehingga dalam setahun, kata-kata kasar tadi didengar oleh anak ratusan kali,"paparnya.
Lantas apa yang terjadi? Yang terjadi adalah terpatri di bawah sadar anak bahwa dia memang nakal, bodoh, dan seperti kata-kata kasar yang diucapkan oleh orang tuanya, dan yang lebih mengerikan bisa jadi kata-kata kasar dan cacian itu menjadi doa yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perkembangan perilaku anak yang tidak ideal tadi ternyata adalah akibat dari perilaku orang tuanya. Maka, apabila kita bermaksud bersikap keras kepada anak, jaga dan kendalikan lisan. Jangan sampai saat kita terpancing emosi itu mengeluarkan kata-kata kasar dan cacian yang akhirnya di kemudian hari kita akan menyesal.
Dalam Islam, suri tauladan adalah akhlak dan perilaku Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah orang yang paling lembut dan beliau menghindari cacian, celaan, makian, dan kata-kata kasar kepada anak-anak yang beliau didik.
Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan pengalamannya saat masih kecil:
Sering tanpa kita sadari, ketika marah dan emosi memuncak, orang tua suka lepas kontrol bahkan hingga mengeluarkan ucapan-ucapan yang tidak pantas pada anak.
Akibatnya ucapan yang keluar itu adalah ucapan yang kasar dan mencela . "Bisa jadi, kita merasa semakin kasar semakin puas. Hal ini gara-gara terpancing emosi. Padahal sadarkah kita, bahwa kata-kata yang kasar itu bisa melukai perasaan anak. Dan ketika perasaan anak terluka, bisa jadi itu akan terus teringat, bahkan sampai anak kita nanti tua dan menjadi orang tua,"ungkap Ustadz Abdullah Zaen Hafidzhullah dalam kajian Islam ilmiah 'Fiqih Pendidikan Anak' di Jakarta baru-baru ini.
Melupakan kata-kata kasar yang pernah diucapkan, lebih sulit dibanding melupakan hukuman fisik.
Misalnya dulu sama orang tua, mungkin kita pernah dicubit atau dijewer, atau bahkan mungkin dipukul. Dari sekian cubitan dan pukulan yang kita alami, mungkin tidak banyak yang kita ingat. Tapi kata-kata kasar yang menyakitkan itu bisa teringat bertahun-tahun, bahkan mungkin sampai kita mati tidak terlupakan. Itulah efek mengerikan dari kata-kata kasar dan cacian.
"Sebagian orang tua biasa mengatakan anaknya nakal, bahkan –maaf– mengatakan anaknya goblok, bodoh, dan kata-kata kasar lainnya. Karena itu sering terucap, dalam sehari bisa berkali-kali. Sehingga dalam setahun, kata-kata kasar tadi didengar oleh anak ratusan kali,"paparnya.
Lantas apa yang terjadi? Yang terjadi adalah terpatri di bawah sadar anak bahwa dia memang nakal, bodoh, dan seperti kata-kata kasar yang diucapkan oleh orang tuanya, dan yang lebih mengerikan bisa jadi kata-kata kasar dan cacian itu menjadi doa yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perkembangan perilaku anak yang tidak ideal tadi ternyata adalah akibat dari perilaku orang tuanya. Maka, apabila kita bermaksud bersikap keras kepada anak, jaga dan kendalikan lisan. Jangan sampai saat kita terpancing emosi itu mengeluarkan kata-kata kasar dan cacian yang akhirnya di kemudian hari kita akan menyesal.
Dalam Islam, suri tauladan adalah akhlak dan perilaku Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah orang yang paling lembut dan beliau menghindari cacian, celaan, makian, dan kata-kata kasar kepada anak-anak yang beliau didik.
Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan pengalamannya saat masih kecil:
Lihat Juga :