Kisah Jumatan di Masjid Al-Aqsa di Tengah Derita Warga Jalur Gaza
Sabtu, 23 Maret 2024 - 14:23 WIB
loading...
A
A
A
Israel mengatakan hanya pria berusia 55 tahun ke atas dan wanita berusia di atas 50 tahun yang diizinkan masuk dari wilayah tersebut.
Namun bagi banyak orang, mencapai Yerusalem dari wilayah lain di Tepi Barat, yang dipenuhi dengan pos pemeriksaan Israel, bisa menjadi sebuah tantangan.
Baca juga: Mengapa Israel Ingin Menghancurkan Masjid Al Aqsa?
Zainab Ramadan Freij, seorang warga berusia 70 tahun yang tinggal di kamp pengungsi Tulkarem di Tepi Barat utara, mengatakan dia harus naik bus pada pukul 06.30 untuk sampai ke Yerusalem – yang jaraknya hanya sekitar 60 kilometer– di waktunya salat zuhur.
Sesampainya di dalam kompleks, jamaah bergembira dan berfoto di tangga batu ikonik Al-Aqsa.
“Teman saya Lina sudah berada di Amerika selama 20 tahun. Saya ingin mengiriminya foto-foto ini karena dia mencintai Al-Aqsa dan merindukannya,” kata Rabab Hadiya, seorang guru berusia 49 tahun dari Yerusalem.
Dua minggu yang lalu, salat berjamaah di kompleks tersebut berakhir dengan bentrokan antara warga Palestina dan pasukan Israel, namun sejauh ini Ramadan telah berlalu tanpa ada insiden besar.
Kobi Michael, peneliti senior di lembaga pemikir Israel, Institute for National Security Studies, mengaitkan ketenangan tersebut dengan beberapa kebijakan.
Petugas telah diberitahu untuk sangat berhati-hati dan polisi memantau media sosial untuk mencari hasutan, kata Michael kepada AFP.
Baca juga: Keberkahan Al-Aqsa dan Keteguhan Iman Penduduk Palestina
Namun bagi banyak orang, mencapai Yerusalem dari wilayah lain di Tepi Barat, yang dipenuhi dengan pos pemeriksaan Israel, bisa menjadi sebuah tantangan.
Baca juga: Mengapa Israel Ingin Menghancurkan Masjid Al Aqsa?
Zainab Ramadan Freij, seorang warga berusia 70 tahun yang tinggal di kamp pengungsi Tulkarem di Tepi Barat utara, mengatakan dia harus naik bus pada pukul 06.30 untuk sampai ke Yerusalem – yang jaraknya hanya sekitar 60 kilometer– di waktunya salat zuhur.
Sesampainya di dalam kompleks, jamaah bergembira dan berfoto di tangga batu ikonik Al-Aqsa.
“Teman saya Lina sudah berada di Amerika selama 20 tahun. Saya ingin mengiriminya foto-foto ini karena dia mencintai Al-Aqsa dan merindukannya,” kata Rabab Hadiya, seorang guru berusia 49 tahun dari Yerusalem.
Dua minggu yang lalu, salat berjamaah di kompleks tersebut berakhir dengan bentrokan antara warga Palestina dan pasukan Israel, namun sejauh ini Ramadan telah berlalu tanpa ada insiden besar.
Kobi Michael, peneliti senior di lembaga pemikir Israel, Institute for National Security Studies, mengaitkan ketenangan tersebut dengan beberapa kebijakan.
Petugas telah diberitahu untuk sangat berhati-hati dan polisi memantau media sosial untuk mencari hasutan, kata Michael kepada AFP.
Baca juga: Keberkahan Al-Aqsa dan Keteguhan Iman Penduduk Palestina
Lihat Juga :